“Kejuangan Prajurit PETA (Sumatera) bagi Indonesia Merdeka”
   
  Pointers untuk Presentasi pada Sarasehan Lintas-Generasi  tanggal 20 Februari 
2007 
   
  ALWIN  NURDIN
  (mantan-PETA/Giyugun Sumatera)
   
   
  Pengantar   
  -                 Maksud ceramah  ini bukan untuk menonjolkan diri atau 
membanggakan peran yang telah dimainkan Tentara atau lebih luas lagi 
Generasi-pelaku dalam Perjuangan atau Revolusi untuk mencapai Kemerdekaan.
   
  -                 Semenjak Pengakuan Kedaulautan,  sudah selama lebih dari 56 
tahun (memasuki generasi ke-3), kita telah berkesempatan untuk membangun Negara 
dan Bangsa dengan hasil yang dapat kita saksikan sendiri. Limabelas tahun 
pertama dibawah Orla, setelah itu 32 tahun Orba, dan kini sudah 17 tahun Era 
Reformasi.
   
  -                 Akhir-akhir ini saya disentakkan oleh ungkapan sejumlah 
tokoh masyarakat ibarat jeritan hati sanubari mereka tentang keadaan bangsa dan 
negara sekarang: 
  (1)   Seminar “Indonesia. What Went Wrong?” 6 Juli 2006: Prof.Dr.Ahmad.Syafii 
Maarif, Dr.Nono Anwar Makarim, dan Faisal Basri, MSc. 
  (2)   Tulisan Sdr.Jend.Sayidiman didalam Sinar Harapan tgl. 3 Januari 2007 
berjudul  “2020, RI Besar dalam Dominasi Asing”
   
  -  Fenomena eksistensi PETA/Giyugun di Jawa dan Sumatera hendaknya 
diproyeksikan kedalam kerangka dan perspektif keseluuhan Pergerakan Kebangsaan  
Indonesia serta Perjuangan mencapai Kemerdekaan di zaman modern yang 
(disepakati) bertitiktolak pada 20 Mei 1908.
   
   
  Perspektif dan latarbelakang sejarah   
  -             Churchill: The farther  you can look into the past, the farther 
you can see into the future.
          Willem Bilderdijk (1756-1831): Masalalu mengantarkan  masakini, dan 
masakini mengandung   yang akan datang. 
  Bung Karno: Jangan sekali-kali engkau meninggalkan sejarah…kalau melupakannya 
engkau akan berpijak pada .vakum.         
   
  -     Bagaimana seseorang dari masakini dapat menghayati gejolak perubahan 
dan jungkirbaliknya tatanan masyarakat dengan dampak ‘culture shock’nya dari 
periode ke periode yang telah dialami ‘Generasi 3-zaman’ ?
   
  -              Hendaknya disadari bahwa ‘timing’ dari perubahan zaman itu 
ditentukan oleh faktor-ekstern (bukan kita yang menjadwalkannya!), sehingga 
tiap momen-sejarah itu harus dihadapi dengan penuh inovasi dan improvisasi.
   
  -              Konsep Bangsa dan Negara Indonesia secara alamiah telah lahir 
dari persamaan nasib yang dirasakan oleh suku-suku yang terjajah oleh 
kolonialisme Belanda (bahkan sebelumnya VOC!) dalam wilayah teritorial 
Hindia-Belanda (Nederlands -Indie) dan merupakan warisan sejarah yang tak 
terelakkan.
   
  -              Sebaliknya, sasaran strategis-konsepsional Jepang terhadap 
Indonesia tidak ditentukan oleh batas-batas pembagian eks-koloni-koloni 
(Inggeris-Belanda-Perancis-Amerika) di Asia-Tenggara itu, melainkan didasarkan 
pada ‘Gagasan Tanaka’ (The Tanaka Memorial) yang sangat dirahasiakan.
   
  -              Pada tahap awalnya ini sudah kelihatan dari : (1) pembagian 
Indonesia sebelah Timur dikuasai AL Jepang dan pulau-pulau sebelah Barat oleh 
AD, (2) Sumatera secara operasional digabung dengan Malaya dan Singapura (3) 
Jawa secara administratif dipisah dengan Sumatera, dan masing-masing dikuasai 
oleh Komando Tentara berbeda, yakni Tentara ke-16 dan ke-25.
   
   
  Uraian dari segi kwalitatif dan kwantitatif   
  -              Pembentukan Pasukan-pasukan Militer Sukarela Pribumi di 
beberapa negara AsiaTenggara merupakan suatu fenomena bertemunya (konvergensi) 
dari 2 tujuan yang sebenarnya berbeda/berlawanan, yakni tujuan Jepang: mengisi 
kekosongan dalam pertahanan teritorialnya karena terdesak di front Pasifik dan 
tujuan Indonesia (negara-negara bekas-koloni) untuk memiliki Angkatan 
Bersenjata Nasionalnya sendiri (yang selalu dicegah oleh penguasa kolonial 
sebelumnya)
   
  -              Hendaknya disadari bahwa organisasi Tentara yang dikenal pada 
zaman kolonial Belanda hanyalah Tentara KNIL sebagai alat untuk menindas 
kebangkitan nasionalisme, sehingga tawaran Jepang kepada para pemuda terpelajar 
Indonesia untuk dilatih menjadi perwira dalam sebuah Organisasi Militer pasti 
tidak akan disambut dengan penuh semangat apabila tidak dimotivasikan dan 
di-inspirasikan oleh kepemimpinan  nasional, baik di Jawa (Gatot Mangunpradja), 
maupun di Sumatera (T.Daud Beureueh, M.Karim MS, Chatib Sulaiman dan AK.Gani)
   
  -              Disebabkan sarana transportasi dan komunikasi yang masih 
sangat minim dalam    suatu wilayah yang begitu luas dan secara geografis 
terkompartimentasi, maka Pusat Latihan Perwira PETA terpaksa diselenggarakan di 
beberapa tempat yang terpisah (Aceh, Sumut, Sumteng dan Sumsel), berbeda dengan 
Jawa yang dipusatkan di Kan-bu Kyo-iku-tai Bogor.
   
  -              Menurut penelitian Prof.Aiko Shiraishi (sekarang Aiko 
Kurosawa) serta catatan pribadi Kol.Abd.Halim (ex-Giyu-Sho-i Sumbar) maka dapat 
diperkirakan bahwa kekuatan PETA/Giyugun Sumatera pada saat Proklamasi adalah:
           
          *   Letnan-I         (Giyu Chu-i)     :       23 orang
          *   Letnan-II        (Giyu Syo-i)     :     132    “      (termasuk 6 
or. Calon-Chu-i)
          *   Letnan-muda  (Giyu Jun-i)      :       81    “
            *   Smy.Kadet     (Minarai-shikan):       21    “

   
                                      Jumlah Pa/Capa : 257  orang
   
  ·                            Bintara dan Tamtama: antara 8.000 dan  10.000 
orang
  ·                            Terdiri atas antara 40 sampai 50 Kompi (Inf. + 
beberapa Senjata Berat)
   
           NB.  PETA Jawa berkekuatan 66 Batalyon (Daidan) dengan jumlah 1.500 
orang Perwira dan Bintara serta 33.000 orang Tamtama  (Aiko Shiraishi).  
   
   
   
  Peran PETA/Giyugun Sumatera dalam Perjuangan mencapai Kemerdekaan   
  -         Rencana-perang Jepang yang meletakkan bagian Timur Indonesia 
dibawah kuasa Angkatan Lautnya, telah menyebabkan bahwa PETA (sebagai 
cikal-bakal Tentara Nasional) hanya didirikan di Jawa dan Sumatera, sehingga 
pada saat Proklamasi Kemerdekaan 17-8-45, Pemerintah Pusat hanya dapat 
mengandalkan kekuatan militer di 2 pulau ini, ditambah lagi dengan kenyataan 
bahwa Sekutu qq Belanda segera dapat mengambil alih kekuasaan di wilayah Timur 
(termasuk Kalimantan) dari tangan Jepang. 
   
  -         Itulah sebabnya, mengapa dari 5 Gubernur yang diangkat oleh 
Pemerintah Pusat untuk propinsi-propinsi diluar Jawa, hanya 1 orang yang 
berhasil ditegakkan yaitu Mr.T.Moh.Hasan sebagai Gubernur Sumatera, sedangkan 
untuk 4 Propinsi lainnya gagal, yaitu: Dr.Sam Ratulangi untuk Sulawesi, 
Ir.Pangeran M.Noor untuk Kalimantan, Mr.Latuharhary untuk Maluku serta IG Ktut 
Puja untuk NTB/NTT.
   
  -         Tanpa  meragukan jiwa-kebangsaan dari penduduk Indonesia bagian 
Timur yang tidak diberi kesempatan oleh Belanda untuk segera bergabung dengan 
Republik Proklamasi, perlu disadari bahwa Pengakuan Kedaulatan pada tgl. 27 
Desember 1949 adalah terhadap Republik Indonesia Serikat, dimana RI-Proklamasi 
berstatus negara-bagian (dan tadinya pun hanya meliputi Jawa dan Sumatera) 
dengan wilayah yang sudah sedemikian menciut, sehingga praktis hanya menguasai 
keresidenan Aceh (yang bahkan tak pernah dimasuki Belanda), Tapanuli + 
Sumtim-Selatan, Sumbar, Bengkulu, dan di Jawa hanya Banten dan Yogyakarta.
   
  -         Daftar Dislokasi TNI di Jawa dan Sumatera dalam Buletin NEFIS 
(Intel Militer) No.22 tgl.27 Juni 1947 (menjelang Agresi ke-I) memuat nama 
kesatuan serta nama Komandannya membuktikan bahwa semua DanRes keatas di 
Sumatera adalah mantan Perwira PETA. Seandainya menyertakan para DanYon, 
pastilah akan muncul nama-nama ex-PETA juga!
   
  -         Dibeberapa daerah, terutama di Sumatera Timur dan Tapanuli, begitu 
pula Aceh, kondisi,  konstelasi dan semangat perjuangan masyarakat demikian 
bergeloranya, sehingga,  baik secara perorangan, maupun atas prakarsa 
Parati-partai politik, segera pula muncul pasukan-pasukan sipil bersenjata yang 
secara populer dkenal asebagai Lasykar Rakyat, disamping terbentuknya TKR > TNI 
dari mantan Giyugun/PETA.
   
  -         Namun menjelang PK-II (Desember 1948), seluruh Lasykar Rakyat telah 
digabungkan kedalam Tentara Nasional Indonesia. 
   
  -         Kesaksian para pakar sejarah internasional seperti: Aiko Shiraishi, 
Joyce Lebra, George Kanahele, Ulf Sandhausen, Legge, Anthony Reid, Michael 
b.Langenberg, N.J.Benda, de Bruin, dan lain-lain.
   
  Kesimpulan   
  -    Kyo-do Bo-ei Giyu-gun Jawa dan Sumatera sebagai komponen militer 
(disamping komponen politik) dalam Perjuangan Menuju Kemerdekaan sesuai fakta 
sejarah adalah cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia.
   
  -         Perang Kemerdekaan dilakukan secara Perang Gerilya dalam rangka 
Perjuangan Rakyat Semesta yang merupakan sebuah Revolusi dari seluruh bangsa 
menghadapi penjajahan.
   
  -         Kemenangan Bangsa Indonesia terhadap Agresi Militer Belanda serta 
Pengakuan Kedaulatan oleh Dunia, bukanlah suatu kemenangan khusus militer dalam 
pertempuran dilapangan yang menyebabkan menyerahnya Tentara Belanda, melainkan 
merupakan  hasil dari perpaduan antara 4 faktor, yaitu: (1) Gerilya TNI 
(terutama di Jawa dan Sumatera) yang sepenuhnya didukung Rakyat secara 
menyeluruh, (2) Eksistensi Pemerintah Darurat RI di pedalaman Sumatera, (3) 
Kegigihan dan siasat diplomasi kita di PBB, serta (4) Prestis dan wibawa 
internasional dari Founding Fathers kita meskipun dalam tawanan.
   
  -         Berdasarkan kaidah: The Guerilla wins by not losing. The Army loses 
by not winning, maka pada satu fihak Belanda memang kalah, walaupun bukan 
karena ditaklukkan dalam pertempuran tetapi karena tidak mampu menghancurkan 
TNI, sedangkan dilain fihak TNI dapat dikatakan menang W.O. (walk-over) dan 
bukan karena mengalahkan Tentara Belanda seperti Vietnam mengusir Amerika.
   
  ----------o0o----------
   
    Biodata
   
  ALWIN NURDIN (Bukittinggi, 13 September 1926) 
  1939-1942: Hogere Burgersschool (HBS) Medan, kelas 3, 1943: Ika Daigaku, 
Singapura; 1944-1945: Giyugun Sumatera di Idi dan Medan; 1945-1950: BKR (BPI 
Sumut)-TKR-TNI,  pelaku seluruh Peraang Kemerdekaan (terakhir sebagai 
As-III/TT-I/Bukit Barisan, Medan); 1951-1953: Siswa Kursus Reguler Hogere 
Krijgsschool (HKS), den Haag; 1953-1954: Guru Sekolah Staf & Komando AD 
(SSKAD), Bandung; 1954-1956: DanYon-306/9/Siliwangi di Wanaradja/Garut; 
1956-1960: Pa-I/As-2(Opr)-SUAD-MBAD/ Pamen MBAD; Korban konflik Pusat><Daerah 
yang telah mengakibatkan Perang Saudara antar-TNI-pejuang-’45; 1960: 
Pensiun-dini dengan hormat, pangkat Mayor TNI-AD. 

 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

Kirim email ke