http://www.indomedia.com/bpost/022007/22/opini/opini1.htm

  
Antara Politik Bisnis Dan Bisnis Politik

  Di tengah masyarakat yang semakin kritis, ada perubahan mendasar yang harus 
disikapi secara jeli oleh pengelola bisnis. 

Oleh:
Bakhrin WS
Ketua KNPI Kahayan Kuala



Tidak banyak orang atau kelompok yang sukses dalam politik bisnis, sukses pula 
dalam bisnis politik. Keduanya memang memiliki banyak persamaan, tetapi yang 
pasti punya karakter berbeda. Dengan kepiawaian pelakunya, keduanya bisa 
berjalan seirama. Dalam menjalankan politik bisnis pasar, tidak perlu harus 
mengenal siapa pelaku dan orang di sekelilingnya. Sementara dalam bisnis 
politik berlaku sebaliknya. Tujuan akhir sama, keuntungan terus mengalir dan 
kekuasaan berkesinambungan.

Untuk meraih sukses dalam mengelola politik bisnis, dikenal pembedaan segmen 
pasar. Tidak demikian dalam pengelolaan bisnis politik, pasar tidak mengenal 
segmen. Semua menuntut perlakuan sama, harga matinya adalah kepedulian dan 
keberpihakan. Apabila kedua faktor tersebut tidak terpenuhi, ya selamat tinggal.

Tidak sedikit pelaku bisnis politik terjebak pada asumsi yang keliru. Dengan 
merangkul satu segmen atau kelompok tertentu, dianggapnya sudah cukup untuk 
meraih sukses dan paling populer kelompok agamis dan etnis. Padahal tidak cukup 
demikian. Masih banyak variabel lain yang sering terabaikan, yang bisa menjadi 
batu sandungan.

Ada empat kelompok masyarakat yang dominan yang ikut mempengaruhi sukses 
tidaknya dalam bisnis politik yakni kelompok agamis, etnis, generasi muda, awam 
kebanyakan. Kelompok terakhir terdiri atas petani, nelayan, buruh yang 
cenderung terpinggirkan, lazimnya sekadar objek untuk diekspoitasi oleh tokoh 
kelompok sebelumnya. Tetapi bahayanya, kelompok terakhir ini cenderung 
pendendam dan memiliki kecemburuan amat besar.

Di tengah masyarakat yang semakin kritis, ada perubahan mendasar yang harus 
disikapi secara jeli oleh pengelola bisnis. Publik tidak mau begitu saja 
digiring kepada simbol dan jargon yang tidak jarang hanya jebakan. Publik 
banyak belajar dari pengalaman sejarah, dan memahami benar realita sekarang.

Sukses dalam bisnis politik, tidak hanya diukur dengan satu periode 
keberhasilan. Sukses yang sebenarnya adalah pada periode berikutnya, pasar atau 
konstituen masih menginginkan kehadirannya. Ujian terberat justru pada satu 
periode sebelumnya, yakni bagaimana pelaku bisnis politik dan orang di 
sekelilingnya bersikap dan bertindak. Apakah memiliki kesabaran ekstra tinggi 
dalam mengendalikan sifat ajimumpung yang merupakan penyakit internal 
kekuasaan. Sementara tantangan eksternal tidak kalah ganasnya, di mana pasar 
biasanya cenderung ingin mencoba hal yang baru.

Ajimumpung adalah satu penyakit kekuasaan yang ditakdirkan harus ada. 
Persoalannya, bagaimana memenejnya. Penyakit tidak bisa dihilangkan, tapi harus 
dikendalikan. Bagaimana agar tidak menggurita dan merajalela mencengkeram orang 
di sekelilingnya, keluarga, kerabat dan kroninya yang selanjutnya akan menjadi 
kanker ganas melalap habis simpati publik.

Itu salah satu subfaktor dari faktor kelemahan sisi internal. Ada satu 
subfaktor yang tidak kalah ganasnya, yakni kalangan pembisik yang senantiasa 
berkerumun di lingkaran kekuasaan. Apabila salah menyikapinya, akan menjadi 
batu sandungan nan licin dan tajam. Menghadapi situasi seperti ini, sangat 
sedikit pemilik kekuasaan menyadari sebenarnya ia punya sumber energi potensial 
untuk mengatasinya. Yakni akal sehat dan pikiran jernih, hati nurani dan 
naluri. Apabila ketiga sumber energi itu digali dan hasilnya dikolaborasikan, 
akan menghasilkan satu kekuatan yang akan menopang faktor kekuatan internal. 
Akhirnya, kelak melahirkan keputusan bijak yang mampu menundukkan dua faktor 
eksternal: peluang dan tantangan.

Sukses politik bisnis, 90 persen dipengaruhi akurasi perhitungan matematis. 
Sementara dalam pengelolaan bisnis politik, kesuksesan dipengaruhi dua faktor 
yang berimbang: 50 persen akurasi matematis dan 50 persen taktis.

Kesimpulannya, di era perpolitikan yang serba ditentukan langsung oleh rakyat, 
ada beberapa indikator dan kriteria sederhana yang menggambarkan 
sukses-tidaknya seorang pelaku bisnis politik.

Pertama, sistem jaringan politik yang telah terbangun untuk mendukungnya. 
Pembantunya sampai di tingkat paling bawah memiliki loyalitas tinggi, dan telah 
berhasil menciptakan hubungan interaksi yang harmonis dengan konstituennya.

Kedua, popularitas dengan citra yang baik, mencuat melalui dirinya dalam karir 
politik dan kiprah di masyarakat. Maupun citra yang dibangun pendahulunya di 
lingkungan keluarga, kerabat dan orang dekat di sekelilingnya.

Ketiga, komitmen pada kepedulian dan keberpihakan terhadap semua golongan 
masyarakat yang apabila didukung contoh pembuktian pendahulu dari kalangan 
keluarga dan kerabatnya, akan melahirkan spekulasi positif di tengah masyarakat.

Untuk pengulangan suskes di periode berikutnya, jelas contoh konkret ada pada 
periode sebelumnya. Selamat berbisnis dan berpolitik!

Kirim email ke