Mas Goen,

Saya sih tidak meragukan sama sekali kemampuan individual bangsa kita ini. 
Banyak individu2 Indonesia yang berhasil dalam berbagai bidang, nasional maupun 
Internasional. Akan tetapi, akankah individu2 yang berhasil tersebut disatukan 
menjadi kelompok superhebat? Jawabannya tidak. Kelompok individu2 tsb jadi 
memble, karena apa? Karena kebanyakan berantem jadi lupa tujuan utamanya apa, 
individu2 tersebut berlomba-lomba menjadi yang paling menonjol, egois mau 
menang sendiri, tidak bisa menerima pendapat orang lain, saling menjatuhkan, 
sama sekali tidak bisa legowo apabila ada orang yang lebih baik dari dirinya. 
Itulah sifat bangsa kita sebenarnya. Makanya hanya sedikit sekali ato bahkan 
tidak ada, kumpulan2 individu Indonesia yang berhasil maupun menonjol. 

Nggak usah jauh2 lihat contoh soalnya di milis ini, individu2 dalam milis ini 
adalah orang yang pintar, cerdas dan berhasil dalam bidangnya, tapi giliran 
mereka bergabung dalam milis ini kelihatan deh mau unggul sendiri2.  Coba liat 
di jalanan kalu dah macet mau menang sendiri2, nggak peduli orang terpelajar 
maupun tidak. Liat tuh dunia olahraga kita yang beregu nggak ada yang unggul, 
tapi klu individu bisa berprestasi.

Sampai kapanpun kalau kita tidak berbesar hati mau menerima kelebihan 
kekurangan orang lain, nggak bisa share, ngak bisa berempati terhadap orang 
lain, nggak punya tepo seliro ama orang lain saya yakin bangsa ini nggak 
bakalan maju.

Saya kemaren dapet pelajaran bagus dari buku cerita anak saya simple aja sih, 
pesan moralnya mengenai berbagi:
if you share something, it doesn't mean you have only 1/2 fun, but you double 
your fun. 

Individu2 kita takut klu sampe berbagi, rugi dong gue, nanti dia juga jadi 
pinter gue tersaingi, rugi dong gue yang dapet proyek kan gue, kalo gue join 
sama si anu, keuntungannya nanti dibagi dua, dstnya.


Regards
Pat
Klu mau muji, pujilah dengan setulus hati, jangan hadijah (hanya di bibir sajah)
  ----- Original Message ----- 
  From: Goenardjoadi Goenawan 
  To: [email protected] ; [email protected] ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] 
  Sent: Thursday, February 22, 2007 5:51 PM
  Subject: [mediacare] Impian Indonesia


  Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan, semuanya serba 
lesu.  Kadang kita berpikir, bagaimana caranya kita semua keluar dari lingkaran 
setan ini?  Beberapa teman mengingatkan resiko munculnya Revolusi sosial, namun 
kita semua mengetahui, bahwa itu resikonya ongkosnya terlalu besar tidak hanya 
bagi kita semua namun hingga ke anak cucu kita. 

  Satu hal yang dapat kita mulai seperti usulan rekan kita adalah Revolusi 
moral.  Ini bisa kita mulai dari satu hal yang paling sederhana.  Kita semua 
harus bisa bangkit dari keterpurukan.  Jangan mau bila kita harus terpuruk, dan 
jatuh, jangan mau. 

  Ekonomi Indonesia terpuruk, namun Impian Indonesia masih terus berkibar!  
Hendy Setiono Kebab Turki baba Rafi saya kenal 10 bulan lalu masih berumur 22 
tahun memiliki 25 cabang franchise di Surabaya.  Saat ini dalam waktu 2 tahun 
menjadi The Best Young Entrepreneur of the Year Business Week.  Dirinya mampu 
memajukan dirinya, membangkitkan dirinya untuk maju bersaing secara 
Internasional.  

  Jangan underestimate Impian Indonesia, Delon yang dulunya penyanyi Choir / 
koor di sebuah gereja, saat ini menjadi bintang tenar di seluruh Indonesia, 
menjadi idaman banyak remaja putri.  Teman saya yang lead singer pada Choir 
tempat Delon menyanyi sungguh menyesal, bahkan dia merasa lebih baik daripada 
Delon. 

  Kita jangan pernah berhenti berharap, seperti yang ada di American idol 
season 6, seorang gadis Dog walker, sebuah profesi yang seperti Baby Sitter 
hanya yang dijaga, yang diajak jalan-jalan adalah anjing, mampu mengangkat 
dirinya menjadi Top 24.  Mampu menyanyi dengan sepenuh jiwanya. 

  Jiwa kita ini sungguh berharga, teman saya seorang perempuan lulusan SMA 
terakhir bekerja sebagai telepon operator, lalu customer service, sekarang 
mampu menjadi Key account specialist.  Lulusan SMA namun mampu tampil kedepan, 
membusungkan dada, merasa mampu menangani penjualan barang-barang elektronik 
untuk customer besar [Key Account] dengan target bulanan ratusan juta rupiah, 
mampu ditangani dengan baik, penuh tanggung jawab. 

  Saat ini kita merasa prihatin dengan para SPG [Sales Promotion Girls] mereka 
kebanyakan pensiun pada umur 31 tahun, saat memiliki anak, atau bersuami, berat 
badannya meningkat, tak mampu bersaing dengan yang lebih muda, dan pensiun pada 
usia dini.  Ini sungguh mengenaskan, kita harus memiliki rasa berjuang, kemauan 
keras, untuk meraih Impian Indonesia.  Seperti Hendy Setiono kekab Turki Baba 
Rafi yang hanya lulusan SMA. 

  salam,
  Goenardjoadi Goenawan
   

Kirim email ke