Koran Republika  ยป Opini     Kamis, 22 Februari 2007

Sindrom Jakarta 



 Dradjat Suhardjo
Pengelola Program Pascasarjana FTS Perencanaan  Universitas Islam Indonesia
 Banjir Jakarta telah memperingatkan kembali betapa rentan dan berisikonya  
tinggal di Jakarta. Pada Februari 2002 bencana banjir dengan skala yang lebih  
kecil juga telah terjadi, dan akan terjadi kembali yang lebih besar bahkan 
telah  ada yang memprediksi tahun 2050 jakarta akan tenggelam (Susanti, 2007.  
Republika 13 Pebruari). Berbagai pendapat merupakan bentuk sumbangan  pemikiran 
sebagai ungkapan keprihatinan yang mendalam mengapa bencana itu mesti  terjadi 
dan berulang. 
 Bentuk usulan solusi juga bermacam-macam. Ada yang berskala mikro misalnya  
dengan merekayasa secara lokal di Jakarta dengan menanggul Ciliwung,  
meningkatkan saluran drainase, dan membuat danau tampungan. Dalam sekala meso  
atau menengah misalnya dengan penataan hulu hilir Jakarta, Bogor, Puncak dan  
Cianjur. Sejauh yang dapat saya amati, analisis dan usulan solusi secara makro  
pada tingkat kebijakan secara nasional belum saya dapatkan. Bencana banjir  
Jakarta secara substantif adalah masalah nasional yang telah menciptakan  
kecemasan apakah Jakarta masih mampu sebagai hunian yang aman, nyaman, dan  
berkelanjutan yang saya sebut sindrom Jakarta.
 Saya berpendapat, banjir Jakarta akan masih terus berulang, bahkan bakal  
semakin dahsyat, sepanjang solusinya masih pada tingkat mikro maupun meso.  
Solusi skala makro pada tingkat nasional secara komprehensif adalah keniscayaan 
 yang wajib ditempuh. Jakarta maupun Pulau Jawa dengan luas 120 ribu km persegi 
 atau 6 persen dari wilayah NKRI telah menampung 120 juta atau 60 persen dari  
penduduk Indonesia. 
 Pendekatan kapasitas tampung atau carrying capacity adalah kerangka  dasar 
solusi yang harus dipertimbangkan. Perhitungan tingkat kelayakan  ketersediaan 
air dari hidrolog yang pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru  untuk Pulau 
Jawa adalah 600 kpt/km persegi. Idealnya Pulau Jawa maksimal didiami  72 juta 
jiwa. Kini dengan penduduk 120 juta berarti nisbah antara luas lahan dan  
penduduk adalah 1000 kpt/km2. (Sunyoto, 2007. Kedaulatan Rakyat 9  Februari). 
Ini berarti kapasitas tampung telah melewati lebih dari 60 persen.  Perlu 
dipahami bahwa air adalah unsur utama bagi kehidupan yang memerlukan  jaminan 
ketersediaan secara kualitas, kuantitas, dan kontinyuitas bagi kehidupan  yang 
berkelanjutan. 
 Kelalaian mendasar
Sebelum usulan solusi saya sumbangkan, perlu  disimak paradigma pembangunan 
yang selama ini digunakan untuk membangun Jakarta  khususnya dan NKRI pada 
umumnya. Sejak merdeka di tahun 1945 ada kelalaian yang  sangat mendasar bagi 
para penyelenggara pemerintahan. Enam presiden yang  memerintah belum satupun 
yang melaksanakan pendidikan dengan kuota pembiayaan 20  persen APBN. Selera 
dari presiden sangat kental mempengaruhi jalannya  pemerintahan. 
 Sukarno yang paling visioner dengan gagasan ibu kota negara dipindah ke  
Palangkaraya, pada kenyataannya hanyalah baru taraf wacana yang tanpa 
realisasi.  Kepentingan praktis dan ekonomis jangka pendek selanjutnya mewarnai 
gaya para  presiden selanjutnya. Ungkapan budaya Jawa mangan ora mangan kumpul, 
atau  makan atau tidak pokoknya berkumpul terus dianut. Dampaknya adalah semua  
pembangunan terkonsentrasi di Jawa. 
 Paradigma pergerakan penduduk menengarai bahwa suatu kawasan bila makin mudah  
dijangkau akan makin berpotensi menjadi daerah urban. Keadaan akan makin  
dipercepat bila terdapat pembangkit ataupun daya tarik yang berupa lapangan  
pekerjaan yang menjanjikan. Sarana dan prasarana transportasi yang dibarengi  
penciptaan lapangan kerja di Jawa, khususnya Jakarta, sangat mempercepat  
konsentrasi penduduk dengan segala dampaknya seperti peningkatan kebutuhan air, 
 dan konsumsi bahan bakar. Selama setengah abad, penduduk telah bertambah 
menjadi  dua kali lipat dengan pola yang sama, yakni menumpuk di Jakarta secara 
lebih  luas di Jawa. Pola ini selain membebani Jawa juga menumbuhkan kekecewaan 
 anak-anak bangsa di luar Jawa.
 Kelalaian yang sangat fatal adalah kita tidak mau belajar dari negara yang  
berkembang dan telah menciptakan bangsa perkasa. Ambil contoh misalnya Amerika  
Serikat. Pada awal merdeka dari penjajahan Inggris tahun 1776 sampai 1830  
konsentrasi penduduk masih di sekitar New York. Paham akan kelemahan kondisi  
tersebut dimulailah migrasi besar-besaran ke pantai barat bagian California 
yang  memang kaya sumber daya alam (SDA) seperti minyak, emas, dan batubara. 
Tahun  1920 tuntas`sudah distribusi dan integrasi sumber daya manusia (SDM) 
penduduk  Amerika di mana kepadatan tertinggi di pantai barat yang hampir 50 
persen luas  seluruh Amerika. 
 Dari berbagai latar belakang etnik ternyata mampu menjadi bangsa perkasa.  
Semboyan e pluribus unum yang berarti dari banyak menjadi satu, ditulis  dalam 
lambang negara elang botak yang menggenggam spanduk dengan tulisan  tersebut 
sebagai perekat yang teguh bagi bangsa Amerika. Kita juga punya lambang  Garuda 
yang tampak lebih perkasa dengan mencengkeram spanduk bertuliskan  Bhinneka 
Tunggal Ika. Kita juga punya pembukaan UUD 45 yang kata awal juga sama  
maknanya dengan deklarasi kemerdekaan Amerika yang berbunyi all men are  
created equal dengan padanan bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak  segala 
bangsa. Pada implementasinya kita baru mampu menciptakan simbol yang tak  mampu 
menerjemahkan dan melaksanakan. 
 Ketika kita pusing dengan banjir ibu kota, tetangga kita Malaysia telah dua  
puluh tahun lalu merancang pindah ibu kota ketika Kualalumpur sudah kurang  
kondusif sebagai pusat pemerintahan. Kini Pucong Putrajaya tinggal finishing  
untuk menjadi pusat pemerintahan yang baru menggantikan Kualalumpur. 
 Kemungkinan pindah
Alternatif terbaik menurut saya, pusat  pemerintahan harus pindah. Upaya 
teknologi untuk mempertahankan Jakarta adalah  konsekuensinya biaya tinggi 
dengan ancaman banjir yang tidak akan pernah surut.  Di samping telah 
menimbulkan kesenjangan yang lebar antara Jawa dan luar Jawa  juga mengancam 
integritas NKRI. Pilihan pindah menurut saya adalah di Kalimantan  Timur dengan 
pertimbangan keterjangkauan yang adil untuk seluruh wilayah NKRI di  samping 
memang kaya akan SDA. 
 Wilayah utama pengembangan Indonesia barat adalah Riau, sedangkan Indonesia  
timur adalah Papua yang memang kaya SDA. Lalu apakah mungkin? Jawabnya adalah  
wajib, kecuali kalau kita ingin Jakarta menjadi kota tinggal kenangan pahit 
yang  ditinggalkan sementara kekacauan telah merebak.
 Mempertahankan Jakarta pada hakikatnya adalah telah melanggar konsep dasar  
batas kemampuan tampung ekosistem dan konsep dasar ekonomi, yakni tidak menaruh 
 telor dalam satu wadah. Wadah tersebut adalah Jakarta dengan Pulau Jawa yang  
dijejali penuh telor yang mulai pecah belah. Sementara wadah-wadah yang lain  
sebatas sebagai pajangan dengan menyimpan api dalam sekam. Akankah kita  
membiarkan Jakarta ditelan bencana? 
 Lenyapnya kota karena bencana alam dan bencana karena manusia sendiri memang  
sudah terjadi. Kota Pompeye lenyap ditelan letusan gunung Vesuvius, sementara 
di  negeri kita juga pernah terjadi terkuburnya kerajaan-kerajaan Pekat dan 
Tambora  karena meletusnya Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada tahun 1815. 
Kejadian  tersebut secara dominan adalah alami walaupun faktor manusia tetap 
ada, yakni  belum cerdas memilih lokasi pusat kerajaan. 
 Jakarta bila terjadi adalah mirip kota Babilon yang ditinggalkan karena  
salinitas air tanah menjadi tinggi akibat eksploitasi yang berlebihan. Secara  
bertahap matilah kota Babilon di Suriah. Jakarta akan ditinggalkan karena 
banjir  yang tak dapat lagi terkendali. Faktor utamanya adalah manusia sendiri 
yang  tidak cepat tanggap dengan terjadinya degradasi lingkungan. Apakah di 
Jakarta  akan terjadi? Menurut saya sangat mungkin. 
 Usaha jangka pendek adalah meminimalkan korban bila terjadi banjir lagi,  
jangka menengah tidak mengizinkan lagi membangun kompleks industri, dan alih  
guna lahan untuk budidaya. Sedang untuk jangka panjang adalah memindah ibu kota 
 negara ke Kalimantan Timur yang harus segera dimulai minimal pada tingkat 
studi  Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). 
 Ikhtisar
 - Penyelesaian banjir dan berbagai bencana lingkungan di Jakarta, masih  
bersifat jangka pendek dan jangka menengah.
- Pertambahan penduduk yang telah  jauh melampaui kapasitas normal, membuat 
degradasi lingkungan di Jakarta harus  diselesaikan secara komprehensif dalam 
jangka panjang.
- Konsentrasi penduduk  yang masih tetap di Jawa, khususnya Jakarta, perlu 
dipecah dengan membuat  pusat-pusat pertumbuhan di tempat lain.
- Wacana soal pemindahan pusat  pemerintahan bisa mulai dipikirkan untuk 
mengawali pemerataan penduduk  Indonesia.


         
---------------------------------
Looking for earth-friendly autos? 
 Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.  

Kirim email ke