http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/23/0902.htm

Bercermin pada Kearifan Lokal
Oleh ACEP ZAMZAM NOOR

  Sekali waktu saya diundang untuk menjadi salah seorang penanggap pada 
sarasehan "Mengungkap Kearifan Lokal Kampung Adat Sunda" yang diselenggarakan 
secara bersama-sama oleh Panji Nusantara, Aliansi Bhineka Tunggal Ika, dan 
Pancasila Rumah Kita di Bandung. Sarasehan berlangsung sehari penuh, terdiri 
atas beberapa sesi dan setiap sesinya diselingi dengan pertunjukan kesenian 
dari berbagai daerah.  

Pada sesi pertama tampil budayawan, akademisi, dan pengamat politik yang 
berbicara mengenai keberagaman suku, budaya, agama dan kepercayaan dengan 
segala permasalahannya. Sesi kedua kurang lebih sama, seniman, anggota DPRD, 
tokoh pemuda, dan artis berbicara mengenai krisis multidimensi yang melanda 
negeri ini. 

Asyik juga menyaksikan para pembicara yang berbatik, bersafari, berjas dan 
berdasi itu. Mereka berbicara dengan artikulasi yang enak didengar, mengutip 
teori-teori dengan fasih, menganalisis persoalan dengan canggih, mengapungkan 
wacana demi wacana, dan terkadang dengan gaya seorang orator mengkritik banyak 
pihak, termasuk pemerintah. 

Para pembicara umumnya menggambarkan kondisi negara kita saat ini dalam situasi 
yang kacau, tidak menentu dan berada di ambang perpecahan. Mereka juga 
menyertakan daftar keluhan yang tak kalah panjangnya. Mengikuti dua sesi ini 
kepala saya seperti berdenyut, urat-urat saraf saya menegang dan repotnya lagi 
tidak boleh merokok di dalam ruangan. 

Sementara para penanggap maupun penanya yang umumnya intelektual juga hanya 
menambah daftar persoalan, keluhan dan keruwetan menjadi semakin panjang. 
Pikiran mereka membubung seperti asap di udara.

Sesi berikutnya tampil narasumber dari beberapa komunitas adat, yang sebagian 
diwakili oleh kuncennya masing-masing. Atmosfer ruangan berubah dengan 
kehadiran mereka, bahkan sangat kontras dengan dua sesi sebelumnya yang panas. 
Pada sesi ini para narasumbernya berbaju kampret hitam dan memakai ikat kepala 
barangbang semplak. 

Ada juga yang mengenakan baju koko putih dan bendo, tapi tidak seorang pun yang 
memakai sepatu. Mereka umumnya sudah berusia dan penampilannya sangat 
sederhana, bertubuh kurus, agak bungkuk, kulit mulai keriput, pakaian terkesan 
lusuh namun sangat santun dan tampak tidak suka banyak bicara.

Para narasumber itu adalah Ki Encu dari Bantarkalong (Sumedang), Mang Karman 
dan Abah Maryono dari Kampung Kuta (Ciamis), Abah Sahari dari Cikadu dan Mang 
Kasmin dari Kanekes (Banten), Abah Karlan dari Banceuy (Subang), dan Pak Agus 
Radiman dari Cigugur (Kuningan). Setelah diperkenalkan oleh moderator mereka 
diberi kesempatan bicara masing-masing selama sepuluh menit. 

Namun waktu yang mereka gunakan tidak sampai lima menit, itu pun termasuk 
beberapa pancingan dari moderator. Yang mereka sampaikan sangat sedikit, namun 
terasa begitu penuh. Yang mereka ucapkan apa adanya, terbata-bata dan jauh dari 
keinginan beretorika. Namun, yang apa adanya dan terbata-bata itu bagi saya 
seperti cahaya mateor yang melesat dan menggetarkan bulu kuduk. Saya tiba-tiba 
merasa tercerahkan.

Ketika moderator menanyakan perihal kiat memimpin Kampung Kuta yang konon 
hutannya dikenal sangat terpelihara, Abah Maryono menjawab, "Abdi mah teu 
nyepeng elmu, tapi mung nyepeng amanah". Jawaban yang pendek dan sederhana ini 
sangat mengagetkan. Tidak memegang ilmu namun memegang amanah. Artinya, bagi 
seorang pemimpin adat memegang amanah jauh lebih penting dari penguasaan ilmu 
pengetahuan. 

Apalah artinya ilmu kalau disalahgunakan? Apalah artinya kecerdasan kalau hanya 
untuk memintari orang? Dua sesi perdebatan yang penuh busa dan retorika dari 
para budayawan dan intelektual, sepertinya terjawab dengan hanya beberapa patah 
kata dari seorang kuncen yang pekerjaan sehari-harinya bertani.

Cara berpikir masyarakat modern sungguh kebalikannya. Bagi mereka yang rasional 
memegang amanah tentu sangat merugikan. Kenapa? Karena dengan memegang amanah 
tidak akan bisa melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dengan memegang 
amanah tidak akan bisa melakukan mark-up atau memanipulasi projek. 

Pendek kata, dengan memegang amanah siapa pun tidak akan bisa kaya mandadak. 
Dari sikap mental masyarakat seperti inilah sebenarnya krisis demi krisis 
dimulai.

Ketika seorang penanggap menanyakan bagaimana mengatasi krisis-krisis ini, Abah 
Sahari dari Cikadu menjawab seperti acuh tak acuh. "Amanah ka urang Sunda, ka 
urang Islam, ka urang Indonesia, kudu sauyunan. Ka cai kudu saleuwi, ka darat 
kudu salogak". Artinya, kita semua harus bekerja bahu-membahu, gotong royong 
dan mempunyai tujuan yang sama. 

Di kampung-kampung adat selalu ada pamali (semacam undang-undang atau aturan 
main) yang berupa anjuran dan larangan yang harus ditaati seluruh warga. 
Umumnya dimaksudkan untuk menjaga kerukunan atau harmoni, baik harmoni 
antarsesama warga maupun dengan alam sekitar. Pamali atau undang-undang mereka 
ini tampak sangat sederhana, tidak ruwet atau penuh muatan kepentingan seperti 
yang biasa dibuat DPR, namun justru karena kesederhanaannya, bisa dilaksanakan 
dan diamalkan.

Untuk menjawab pertanyaan yang sama, Mang Kasmin dari Kanekes berkata, "Hirup 
mah ulah paluhur-luhur tangtung, ulah pagede-gede gawe". Jangan berlomba-lomba 
mengejar kedudukan, jangan berebut dalam pekerjaan. Kembali bulu kuduk saya 
merinding dibuatnya. Sebuah kalimat yang diucapkan dengan pelan namun maknanya 
sangat dalam, yang tanpa tedeng aling-aling seakan menampar wajah para pejabat, 
wakil rakyat, pengurus partai, aktivis LSM, pengusaha, broker, dan juga kita 
semua. 

Bukankah mencapai sebuah kedudukan dengan mengorbankan orang lain adalah hal 
yang lumrah sekarang ini? Saya kembali merasa terkecerahkan. 

Dalam kehidupan masyarakat tradisonal atau adat, pola kepemimpinan di antara 
mereka tidak berdasarkan pada keinginan, cita-cita atau ambisi seseorang, 
apalagi jika ambisi tersebut diperjuangkan dengan cara-cara yang tidak 
sepantasnya. 

Pemimpin yang tampil pasti orang yang secara alamiah sudah teruji dalam banyak 
hal, baik dedikasi, kemampuan, ketulusan dan juga kesiapan memegang amanah. 
Sedangkan kedudukan atau jabatan apa pun, baik di birokrasi, partai, ormas atau 
perusahaan, selalu akan menjadi rebutan.

Pak Agus Radiman dari Cigugur memaparkan beberapa hal mendasar yang harus 
dipunyai seorang calon pemimpin. "Cinta kasih, budi pekerti, undak usuk, tata 
krama, budi daya jeung budi basa". Sangat sederhana kelihatannya, tapi mungkin 
akan sulit sekali melaksanakannya sekarang.

Menurut penelitian Robert Wessing, seperti yang pernah dikutip Jakob Sumardjo, 
pola kepemimpinan dalam masyarakat Sunda tradisional sangat unik, di mana 
hubungan antara pemimpin dengan pengikutnya seperti hubungan guru dengan murid. 
Jika sang pemimpin diibaratkan isi, pengikutnya adalah wadah yang siap 
menampung limpahan isi. Kualitas dari kepemimpinan semacam ini sangat 
bergantung pada pribadi pemimpinnya. Seorang pemimpin yang berisi atau 
berkualitas akan terus mengalirkan isi atau kebaikan kepada para pengikutnya. 

Pola seperti ini sejalan dengan kepemimpinan dalam tradisi pesantren, di mana 
kiai adalah pemimpin sekaligus guru. Kalau kiainya alim atau berisi, tentu 
santrinya juga akan turut menjadi alim dan berisi pula. Sebaliknya, kalau 
kiainya malah sibuk berpolitik praktis, jangan heran kalau para santrinya akan 
menjadi broker-broker politik.

Kearifan-kearifan semacam ini, yang sebenarnya merupakan kekayaan rohani kita 
meskipun sudah terlupakan atau sengaja dilupakan, menjadi sangat penting untuk 
direnungkan kembali. Reformasi yang seakan-akan membawa kita pada banyak 
perubahan, ternyata hanya sebatas permukaan. Diberlakukannya sistem 
multipartai, dilaksanakannya pemilihan langsung untuk pemilu presiden dan 
kepala daerah terasa masih setengah hati. 

Faktanya rakyat masih belum bisa benar-benar memilih secara langsung, karena 
calon-calon yang disodorkan partai selalu bukan yang dibutuhkan atau dipercaya 
oleh rakyat. Selalu hanya berdasarkan kepentingan partai atau orang-orang 
partai. Di sinilah praktik-praktik politik uang atau jual beli dukungan kerap 
terjadi, dan para calon yang sudah kebelet ingin berkuasa dengan senang hati 
mengikuti semua permainan absurd ini.

Dari proses kepemimpinan yang penuh permainan dan manipulasi tentunya kita 
tidak bisa berharap banyak akan munculnya tokoh yang mampu memegang amanah. 
Kita bisa memprediksi siapa pun yang terpilih menjadi presiden, gubernur, 
bupati, atau wali kota pasti akan berpikir ekonomis terlebih dahulu, misalnya 
menghitung berapa uang yang sudah dikeluarkan selama proses pencalonan dan 
kampanye. 

Maka, pada tahun pertama masa jabatannya mereka akan berusaha keras bagaimana 
mengembalikan modal awal tadi. Lalu tahun-tahun berikutnya adalah periode 
bagaimana mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya sebagai persiapan untuk maju 
lagi pada periode berikutnya. Di sisi lain ia pun masih harus membayar banyak 
utang kepada para pendukungnya dengan memberikan jabatan, projek atau uang 
kadeudeuh. 

Lingkaran setan ini akan terus bergulir sampai akhir masa jabatan, dan amanah 
yang menjadi inti atau roh dari kepemimpinan menjadi terlupakan dengan 
sendirinya. Begitu juga halnya dengan kewajiban untuk memberikan kesejahteraan 
kepada rakyat menjadi "emangnya gue pikirin?" 

Merenungkan kearifan lokal bukan berarti kembali ke masa lalu atau menjadi 
masyarakat tradisional lagi, namun mencari mutiara-mutiara para leluhur dan 
menjadikannya sebagai pegangan setiap langkah ke depan. Seperti halnya 
kampung-kampung adat, bukankah negara atau pemerintahan kita juga mempunyai 
pamali, mempunyai undang-undang atau aturan main? Seluruh permasalahan yang 
melanda negeri kita, seluruh krisis dan bencana yang tak habis-habisnya ini, 
saya kira semuanya berawal ketika yang namanya pamali, undang-undang atau 
aturan main sudah tidak diindahkan keberadaannya. Ketika yang namanya amanah 
sudah tidak dianggap penting lagi.***  

Penulis, penyair tinggal di Singaparna, Tasikmalaya.

Kirim email ke