MOTOR TANPA BAHAN BAKAR 

Oleh : Nasrullah Idris

PENDAHULUAN 

     ARTIKEL ini hanya angan-angan saja. Tapi bukan sembarang angan-angan, 
melainkan berdasarkan aplikasi matematika yang ditransformasikan pada beberapa 
teori Fisika, yakni yang bertalian dengan teori Mekanika. Sebab memang tidak 
mungkin "Motor Tanpa Bahan Bakar" atau "Motor Tanpa Bahan Energi" dapat 
terwujud, meskipun melalui teknologi tinggi. Yang dapat dilakukan teknologi 
tinggi hanya menghemat "energi" secara pendekatan, agar "hari ini dapat lebih 
irit daripada hari kemarin" dan "hari nanti lebih irit daripada hari ini". Tapi 
untuk sampai tidak perlu memakai bahan baka atau bahan energi sama sekali, 
jelas tidak mungkin. 
     Artikel ini hanya untuk merangsang, agar kita jangan puas dengan kondisi 
"irit energi" yang berlaku sampai kini. Dengan demikian, akan menggugah kita 
untuk terus mencari formula hingga "irit bahan energi" atau "irit bahan bakar" 
dapat terus berkelanjutan. 
--------------------------------------------------------------------------------
MOTOR TANPA BAHAN BAKAR 
     Eddy mempunyai sebuah motor yang menggunakan "bensin" dan bermassa 300 Kg. 
     Pada hari Minggu dia hendak pergi ke rumah mertuanya dan adiknya dengan 
memakai motor itu. Lalu motor distelnya serta digasnya hingga 2 detik kemudian 
bergerak dengan kecepatan 20 meter/detik. Ini berarti, motor melakukan 
percepatan 10 meter/detik2 yang merupakan hasil pembagian kecepatan oleh waktu 
percepatan, yaitu 20 meter/detik bagi 2 detik. 
     Saat itu juga Eddy mematikan motor tanpa direm hingga masih dapat 
bergerak. Baru 10 detik kemudian berhenti. Ini berarti, motor melakukan 
perlambatan 2 meter/detik2 yang merupakan yaitu hasil pembagian kecepatan oleh 
waktu perlambatan, yakni 20 meter/detik bagi 10 detik. 
     Percepatan dan perlambatan masing-masing ialah peningkatan dan pengurangan 
kecepatan dari suatu waktu ke waktu berikutnya. 
     Baik percepatan maupun perlambatan menimbulkan gaya yang merupakan hasil 
perkalian masing-masing dengan massanya. 
     Jadi besar gaya yang ditimbulkan ketika percepatan ialah 10 meter/detik2 
kali 300 kg = 3.000 Kg meter/detik2 atau 3.000 Newton. Sedangkan besar yang 
ditimbulkan ketika perlambatan" ialah 2 meter/detik2 kali 300 kg = 600 kg 
meter/detik2 atau 600 Newton. 
     Jarak yang ditempuh dari start hingga motor hingga motor bergerak dengan 
kecepatan 20 meter/detik ialah 20 meter, hasil perkalian 1/2 dengan percepatan 
dengan waktu percepatan dipangkatkan 2, yaitu 1/2 kali 10 meter/detik2 kali 2 
detik kali 2 detik. Sedangkan jarak yang ditempuh saat motor dimatikan hingga 
berhenti ialah 100 meter, hasil perkalian 1/2 dengan perlambatan dengan waktu 
perlambatan dipangkatkan 2, yaitu 1/2 kali 2 meter/detik2 kali 10 detik kali 10 
detik. 
     Energi yang diperlukan motor untuk percepatan ialah 60.000 Joule, hasil 
perkalian jarak dengan gaya, yakni 20 meter kali 300 Newton. Sedangkan energi 
yang diperlukan motor untuk perlambatan juga 60.000 Joule, hasil perkalian 
jarak dan gaya, yakni 100 meter kali 600 Newton. Ini sesuai dengan hukum 
kekekalan energi bahwa energi yang masuk sama dengan energi yang keluar. 
     Bila Eddy mematikan motor bertepatan dengan adanya penghalang, seperti 
batu besar, tentu akan langsung berhenti. Batu itu merupakan gesekan tingkat 
tinggi yang telah mencuri energi 60.000 Joule dalam 0 detik. 
     Tapi bagaimana bila bertepatan dengan adanya jalan yang penuh batu sedang 
? Motor tetap akan bergerak, hanya dalam waktu singkat. Misalkan 2 detik. Maka 
batu itu merupakan gesekan tingkat sedang yang telah mencuri energi 60.000 
Joule dalam waktu 2 detik. 
     Nah ... bagaimana bila bertepatan dengan adanya jalan yang hotmik serta 
banyak sabun ? Tentu motor akan lebih lama untuk berhenti. Misalkan 25 detik. 
Jalan itu berarti telah mencuri energi 60.000 Joule dalam waktu 25 detik. 
     Bagaimana juga bila bertepatan dengan adanya jalan yang banyak gemuk atau 
gajih yang umumnya lebih licin daripada sabun? Tentu lebih lama lagi jalan itu 
mencuri energi 60.000 Joule. Misalkan dalam waktu 35 detik. 
--------------------------------------------------------------------------------
K E S I M P U L A N 
     1. Pencurian energi karena adanya gesekan yang bersangkutan. 
     2. Makin rendah gesekan jalan, makin lama motor akan bergerak. 
     3. Pencurian energi, berarti kebutuhan energi untuk perlambatan. 
     4. Manfaat mesin motor yang terus hidup selama bergerak, sebagaimana yang 
tampak seharian, ialah untuk mengimbangi atau mengganti energi yang dicuri tiap 
saat, hingga motor terus bergerak. Dengan perkataan lain, untuk menantang tiap 
gesekan yang dihadapi roda motor. 
     Gesekan tidak saja terdapat pada jalan, juga benda lain, seperti roda 
motor, pusat roda, gerak angin, dan getar tanah. Jadi motor Eddy yang dimatikan 
itu akan dapat bergerak sampai kapan saja bila selama perjalanan bebas dari 
segala bentuk gesekan. Karena berarti, bebas dari pencurian energi, hingga 
tidak perlu diimbangi atau diganti dengan jalan terus menghidupkan motor. 
Dengan demikian, kecepatan akan tetap, yakni 20 meter/detik. 
     Bagaimana bila terpenuhi ? Untuk menjalankan motor, Eddy cukup dengan 
hanya melakukan percepatan hingga mencapai kecepatan yang diinginkan. Misalkan 
20 meter/detik. Untuk 1.000 Km, misalnya, Eddy tidak usah menghabiskan satuan 
atau puluhan liter bensin. 
     Bahkan untuk menggerakan motor, tanpa bahan bakar juga dapat saja. 
Misalkan dengan mendorong sekuat mungkin atau sekencang mungkin hingga mencapai 
kecepatan yang diinginkan. Apakah ini mungkin dapat terjadi ? Mungkin saja bila 
tiada gesekan sedikit juga alias 0. 
     Apakah pernah terjadi, motor tanpa dihadapi dengan gesekan? Tentu tidak ! 
Ini berhubung beberapa hal. Di antaranya : 
     1. Keterbatasan kemampuan manusia dalam menguasai alam, khusus menyangkut 
masalah energi. 
     2. Tidak adanya jalan tanpa gesekan. Meskipun jalan tampak datarr, namun 
bila dilihat dari mikroskop, tetap ada gesekan. 
     3. Adanya interaksi alam yang memungkinkan terhambatnya atau terhalangnya 
usaha menghilangkan gesekan sama sekali. 
  
--------------------------------------------------------------------------------
P E N U T U P A N 
     Walaupun demikian, menghayati persoalan tersebut jangan dianggap pekerjaan 
sia-sia, tapi anggaplah sebagai pekerjaan yang dapat memperluas cakrawala 
pikiran kita di bidang energi. Selanjutnya akan merangsang kita untuk 
memikirkan/mengkaji masalah energi. (Nasrullah Idris/Bidang Studi : Reformasi 
Sains Matematika Teknologi)

Kirim email ke