Mas Kukuh dan Mas Satrio ysh,

Betul sekali TERLALU apriori memang kurang baik dan kurang tepat.
Jaman sekarang di negara kita ini soal 'praduga tak bersalah' memang
masih jadi prinsip utama dalam mengadili orang kan ?
Apalagi kalau yg akan diadili/ditangkap figur yg seleb...

Buat saya teman Mas Satrio yg anggauta DPR itu beli mobil yg mewah
itu juga sudah nggak pantas, dan sah2 aja di prasangkai yg tidak2
apalagi secara umum sulit sekali bisa mendapatkan figur anggauta
DPR/D yg bisa di teladani ... [ termasuk ketua DPR nya yg ngeyel terus
soal jadi komut si Jantan Air , padahal posenya jadi komut kan impressive
banget...]
Saya rasa batasan atau definisi bersih bagi Mas Satrio dan mungkin juga
bagi kebanyakan orang seperti saya juga, sudah menjadi sangat toleran
Dan memang kita paling pintar buat lebih mem fleksibelkan lagi batas
toleransi guna kepentingan pembenaran pikiran kita ....

Soal logika masuk akal, pantas dan nggak pantas , jangan kata soal bersih
dan nggak besih , soal keyakinan agama aja bisa diplintir2 kemana2
guna pembenaran kehebatan diri kita, simak aja soal poligami dalam
diskusi di milis ini...

Barak Husein Obama yg mencalonkan diri jadi presiden amerika juga
di prasangkai macam2 dalam statusnya jadi lawmaker di AS sini.
Dengan santun dan bagus beliau memberikan penjelasan yg enak
dan transparan ttg image para lawmakers AS yg impoten ngomong doang
dibandingkan dirinya .

Salam , martin - indiana


----- Original Message ----
From: kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, February 22, 2007 7:31:10 PM
Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman 
yang kebetulan anggota DPR

            Apriori tanpa dasar juga tidak tepat, namun begitu sederhananya 
argumen mobil mewah itu?  Dapat dari undian?? Apa bedanya dengan "Hibah" yg 
sempat meramaikan blantika "politik" dan "berita media massa" beberapa waktu yg 
lalu, kalau sudah menyangkut asal-usul kekayaan "pejabat".


  Untuk dapat memenangkan "undian" mobil dengan harga lebih dari setengah EM, 
mungkinkah didapat dari seseoarang yg tabungannya "ratusan ribu atau nggak 
lebih dari tujuh digit"?  Lalu berapa ongkos pembiayaan mobil tersebut, atau 
ada undian lain yg bisa dipakai untuk membiayainya. ....

  Yang paling repot adalah terbangunnya pendapat.... Yach XY ini masih 
lumayanlah.. ....apa ukurannya lumayan itu.....yach korupsi dikit2 bolehlah.... 
.atau dia lumayan karena toh dulu bekas aktivis....

  Inilah yg mungkin saya anggap sebagai "tataran baru korupsi" di Indonesia... 
...kecenderungan menjadi "Permissive" .....

  Maaf saya sulit membangun kepercayaan kepada sebagian besar anggota DPR, 
DPRD, coba tanyakan apakah ada yg melakukan evaluasi kinerja mereka secara 
berkala, apalagi dengan tingkat imbalan seperti yg mereka terima saat ini, 
sementara karyawan dengan gaji sedikit UMR saja ada evaluasi terhadap 
kinerjanya.. ...



  Lalu apa yg diperoleh rakyat kalau wakilnya juga bikin asosiasi yg ujung2nya 
hanya memperjuangkan rapelan tunjangan... bahkan bikin demo segala....lalu apa 
gunanya punya Parlemen.... kalau anggotanya yang dibiayai dengan uang keringat 
rakyat...bisanya juga turun kejalan.....



  Ah banyak sekali...kalau mau diurut....tolong kalau ada yg bisa membantu, 
hasil2 yg lebih positif dari anggota2 DPR DPRD kita ini....supaya saya bisa 
melakukan penilaian yg berimbang dan mengurangi prasangka... ..





  Salam

  Kukuh Kumara



Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com> wrote:

          Essay - SEBUAH PRASANGKA TERHADAP TEMAN, YANG KEBETULAN ANGGOTA DPR

Kirim email ke