Saya baru baca artikel ini setelah saya posting menanggapi posting dr Mas Kukuh.

Kayaknya kali ini Mas Danny effektif sekali memberi resep supaya kita nggak
jadi terlalu apriori pada orang lain...Cuma situasinya beda sekali.
Pemberlakuan sistim nomor tunggal buat KTP,SIM,No Pajak dll sudah dijalankan
di banyak negara yg terkenal bersih termasuk Singapore yg sangat menelanjangi
data2 pribadi kita.
Kalau saja ini bisa diberlakukan di Indonesia [ mungkin ada aja negara yg mau
membiayai system ini dengan loan bahkan mungkin hibah ]  wah nggak perlu apriori
atau terus ber praduga macam2 dah kita, kecuali yah si petugas pajak...[ memang 
tugasnya.]

Tapi melihat political will dan tantangan yg sangat berat yg dihadapi
SBY dan para petinggi negara ini, gambaran Mr Danny tsb hanyalah soal mimpi..
Bayangkan soal UU Pembuktian terbalik dan perlindungan konsumen kan juga
mimpi hingga sekarang, dan yg sangat parah, para lawmakres [ DPR ] kita
yg mati2an nge blok UU itu [ jaman GD jadi presiden ]
Sekali lagi kalau udah begini, kita hanya bisa berucap, nasib bangsa ini lah ...

Salam , martin - caracas




----- Original Message ----
From: Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; mediacare mediacare <[email protected]>
Sent: Thursday, February 22, 2007 2:21:41 PM
Subject: [mediacare] Re: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman 
yang kebetulan anggota DPR

Dengan adanya internet, pembandingan gaji seseorang dengan mobilnya gampang
sekali. Di Belanda misalnya, Dinas Pajak mencatat di komputernya berapa
pajak yang dibayar seseorang, maka akan diketahui penghasilannya (gaji atau
keuntungan perusahaan). Komputer Dinas Pajak dikopel dengan komputer Polisi
Lalu Lintas yang punya catatan nomor polisi mobil. Maka orang yang gajinya
kecil tapi punya mobil Mercedes pastilah menggelapkan pajak atau mendapat
uangnya dari praktek kriminal. Pengkopelan database Dinas Pajak dan Polisi
Lalu Lintas itu legal, diatur oleh UU Belanda. Kuncinya SoFi-nummer, sejak
mbrojol dari perut sampai gamepoint, seseorang di Belanda memiliki sebuah
SoFi-nummer. Pemerintah tinggal mentik SoFi-nummer seseorang, maka seluruh
riwayat hidupnya akan terbaca di monitor. Misalnya pernah menikah berapa
kali dengan siapa, alamatnya di kota apa, bekerja di mana, pernah dihukum
atau tidak dll.

Mengapa Indonesia tidak mau mencontek sistim SoFi-nummer Belanda untuk
mengganyang korupsi? Walahualam.

Salam kincir, Danny Lim, Nederland

----- Original Message -----
From: "Satrio Arismunandar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "news Trans TV" <[EMAIL PROTECTED]>; "student EMBA"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Begundal Salemba"
<[EMAIL PROTECTED]>; "PJTV PJTV" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Cikeas Cikeas" <[EMAIL PROTECTED]>; "mediacare mediacare"
<[email protected]>; "pantau" <[EMAIL PROTECTED]>; "AJI INDONESIA"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Kincir Angin" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Forum Kompas" <[email protected]>
Sent: Thursday, February 22, 2007 11:49 AM
Subject: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman yang
kebetulan anggota DPR


> Essay - SEBUAH PRASANGKA TERHADAP TEMAN, YANG KEBETULAN ANGGOTA DPR
>

Kirim email ke