http://www.sinarharapan.co.id/berita/0702/24/nas06.html
Kisah Perempuan Korban ?65 Dibedah Lagi Jakarta ? Berasal dari kegelisahan seorang jurnalis untuk tahu lebih banyak tentang perempuan-perempuan korban peristiwa pemberontakan pada tahun 1965, wartawati Sinar Harapan Fransiska Ria Susanti membuat penelusuran panjang. Ia mewawancarai paling tidak 13 perempuan yang menjadi korban. Hasil wawancara tersebut yang sebagian ia tuangkan dalam feature di Sinar Harapan, dan kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul Kembang-kembang Genjer. ?Kisah tutur ini bagian dari sejarah. Banyak orang di luar sana yang ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,? ujar Santi, panggilan akrabnya, dalam peluncuran buku Kembang-kembang Genjer yang diluncurkan kembali Sabtu (24/2) malam di Galeri Publik Jakarta Pusat. Peluncuran pertama dilakukan 19 Desember lalu, tetapi tanpa kehadiran penulisnya yang saat ini bermukim di Hong Kong. Penulis mengaku mungkin ini subjektif ketika menuliskan kisah tutur mereka. Sebagai seorang jurnalis, objektivitas itu sebuah metode. Tetapi ia yakin, kisah tutur perempuan-perempuan adalah kebenaran sejarah yang perlu didokumentasikan. Kembang-kembang Genjer dibedah bersama Ruth Indiah Rahayu, peneliti dari Lingkar Tutur Perempuan, Yacobus Kurniawan dan Amrozi, keduanya aktivis. Ruth Indiah atau Yuyut mengatakan proses tutur sebagai pengungkap kebenaran memang harus didokumentasikan, meski belum bisa dikatakan sebagai pengungkap kebenaran sejarah. ?Ada dekonstruksi luar biasa tentang sejarah gerakan perempuan ini oleh militer pada tahun 1965. Tugas kita sekarang untuk merekonstruksi sejarah gerakan perempuan ini,? ujar Yuyut. Baginya peristiwa 1965 adalah titik pembalik. (emmy kuswandari)
