Republika, Minggu, 25 Februari 2007 [SELISIK]
Novel untuk Menghangatkan Musim Hujan ------------------------------------- >> Anwar Holid Gelang Giok Naga Penulis: Leny Helena Penyunting: M Irfan Hidayatulla Penerbit: Qanita, November 2006 Tebal: 316 hal. ISBN: 979-3269-51-0 APA yang pantas direkomendasikan untuk menghangatkan musim penghujan dingin di bulan Februari ini? Pada 18 Februari 2007 warga Tionghoa merayakan Imlek 2558 tahun babi. Di sisi lain masyarakat konsumtif menyambut festival sekuler hari Valentine pada 14 Februari dengan persiapan semarak dan gegap gempita. Novel berlatar belakang budaya Tionghoa (Cina) tentu menarik direkomendasikan, misalnya Gelang Giok Naga karya penulis muda yang kini tengah mukim di Amerika Serikat, Leny Helena. Novel ini awalnya memenangi sayembara penulisan cerita bersambung Femina, setelah dipublikasi rupanya Leny menyempurnakan noveletnya ketika diterbitkan Qanita pada awal November 06. Gelang Giok Naga menghadirkan budaya Cina melalui dua aspek utamanya: naga dan giok (jade). Dalam tradisi masyarakat Cina, naga adalah mitos simbol dinamisme, kesehatan dan kesuburan, penampilannya diyakini bisa menolak ruh jahat. Giok merupakan batu paling berharga bagi orang Cina, ia menyimbolkan kesempurnaan, keabadian, dan kekuatan magis jelmaan kekaisaran. Surga (langit) kerap digambarkan sebagai piringan giok berlubang. Masing-masing warna giok diyakini mengandung kekuatan magis, tapi giok warna hijau apel merupakan yang paling tinggi harganya, sebab ia diyakini memberi anugerah kekuatan untuk terus melayang kepada perajut. Simbol keagungan, kekuatan, dan kekuasaan itu makin sempurna mewujud dalam sebuah gelang giok hijau apel berbentuk naga. Gelang giok naga dalam novel itu awalnya merupakan hadiah kaisar Jia Shi kepada Lu Shan, selir favoritnya yang berjuluk Yang Kuei-Fei, pada 1723. Sebelum meninggal, sehabis kabur dari istana karena tekanan kerusuhan politik, Lu Shan mewariskan gelang itu kepada bayinya, Xiao Lin. Sesuai tradisi turun temurun gelang giok itu kemudian hanya diwariskan kepada anak perempuan, sampai pada 1937 ada di tangan A Sui, seorang istri dari desa terpencil di Cina Daratan yang hendak menyusul suami merantau ke Batavia. Jarak lebih dari dua abad antara Xiao Lin ke A Sui memang kabur, sehingga kaitan garis keturunan dengan warisan gelang juga sengaja dilewat oleh penulis, barangkali selain dianggap kurang terkait dengan inti cerita juga sulit ditelusuri. Hanya saja peralihan dua abad itu begitu drastik, sehingga terasa sebagai kekurangan, sebab menimbulkan tanda tanya dan kegelapan informasi. Sekilas diceritakan, banyak orang Cina tahun-tahun itu eksodus ke negeri luar menyusul kekacauan politik dan malaise karena aneksasi Jepang. Tercatat dalam sejarah, waktu itu Jepang menguasai banyak kota utama Cina, Chiang Kai-shek bergabung dengan Mao Tse-tung dan Chou En-lai. Cina memasuki babak baru, kekaisaran hancur, republik baru akan lahir, tapi barangkali alih-alih sibuk akan merantau, mungkin lebih elok bila membayangkan sebagian besar penduduk Cina ikut terlibat pembentukan sejarah baru negeri sendiri. Lewat jalur lain dan cerita berbeda, pada 1937 datang pula A Lin ke Batavia. Cuma nasibnya buruk, dia ke sana karena dijual oleh keluarganya, mula-mula menjadi pengurus kandang babi, sampai kemudian menjadi nyai---wanita peliharaan seorang kolonial. Tapi justru perjalanan keras itu menghantarkannya pada pengalaman dan keberanian, banyak akal, sampai perlahan-lahan menjadi pengusaha sukses di daerah Bukit Duri. Berniaga apa saja, asal menguntungkan, dari pegadaian sampai jual-beli tanah. Pada 1975 datanglah A Sui padanya, menggadai gelang giok naga---pusaka yang gagal dia tebus hingga akhir hayat karena saking miskin. A Sui sadar mitos gelang giok naga, dia menjaga benda itu baik-baik, dan baru mewariskan pada Swanlin, cucunya, kira-kira dua puluh tahun kemudian. Bagi A Lin dan A Sui, Swanlin menjadi penetral hubungan mereka yang benci tapi rindu, sebab dia adalah hasil dari perkawinan anaknya yang dihamili anak A Sui. A Lin, A Sui, Swanlin menjadi protagonis novel ini, masing-masing bergiliran bercerita menggunakan sudut pandang 'aku' dan Leny konsisten menampilkan karakter mereka bertiga dengan cara menuliskan cara bicara. Bila A Lin bercerita, pembaca disuguhi lidah cadel dengan kosakata Betawi atau Melayu pasar. A Sui terbaca sangat sering mengeluhkan kondisinya yang miskin dan justru kerap tersingkir. Sedangkan Swanlin mewakili generasi Reformasi 98, aktivis kampus, gaul, ber-elu-gue pada kawan sebaya. Meski begitu, terasa ketiga perempuan itu menyeret persoalan besar di belakangnya, yaitu kebangsaan dan pluralisme, meski kadarnya terasa superfisial. Barangkali karena persoalan itu mereka alami, tapi resolusi penyelesaiannya terlampau jauh dijangkau. Persoalan 'besar' dalam novel tersebut antara lain soal identitas bangsa dan etnis, sejarah, keseteraan gender, kehidupan etnis Tionghoa di Indonesia, kemudian peristiwa Reformasi 98, serta roman antaretnis. Untung persoalan itu melintas dengan cukup asyik, sehingga walau terasa permukaan, relevansinya dengan kondisi sosial-politik Indonesia cukup kena. Hanya saja gelang giok naga yang menautkan mereka makin kehilangan 'kekuatan' magis. Novel ini ambisius, sarat tema, banyak harapan---lupa pada mitos yang diceritakan di awal, terlebih-lebih tentang giok naga. Ia terasa luber menampung banyak gagasan, sementara plotnya juga banyak yang selintas karena terutama di halaman-halaman akhir alur ceritanya tambah cepat. Gelang giok naga itu pun jadi sekadar perhiasan mahal berbalut sejarah panjang. Andai Leny fokus pada mitos dan pengaruhnya, barangkali dia bisa mengejar sejumlah lubang gelap tentang giok tersebut---seperti kerap dilakukan novelis Amerika keturunan Cina, Amy Tan. Di sisi lain, nuansa etnis Cina, pembauran budaya, serta bias antara mitos dan sejarah pasti menambah pengayaan wawasan dan pengertian, selain menambah hangat di tengah suasana hujan dan dingin yang biasa hadir di awal Imlek. Novel itu asyik juga dibaca sambil tetap berselimut maupun ditemani secangkir kopi atau teh panas.[] NB: Menurut teman yang kerja di Mizan, Gelang Giok Naga sudah cetak ulang ke-2, tanda bahwa novel tersebut mendapat momentum ketika memasuki perayaan Imlek. Setidaknya ada tiga resensi yang sudah membahas novel itu, termasuk oleh M. Irfan Hidayatullah yang disertakan sebagai addendum, kemudian oleh jody2006 dan H. Tanzil di Internet dengan nada positif. Detil tentang naga di novel ini mengingatkan aku pada Putri Sang Tabib Tulang (The Bonesetter's Daughter, GPU) karya Amy Tan, yang menariknya, sebuah pasasenya dikutip Leny sebagai pembuka novel, 'You are beauty, we are beauty, we are divine unchanged by time.' Putri Sang Tabib Tulang sendiri juga sangat menarik, bercerita tentang dua dunia; yang pertama seorang 'dokter buku' keturunan Cina di Amerika Serikat, dan kisah keluarga buyut tuanya di Cina, saudara paling dekat ibunya, yang secara turun temurun menjalani profesi sebagai pembuat/pedagang tinta Cina. Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 | Telepon: (022) 2037348 | HP: 08156-140621 | Email: [EMAIL PROTECTED] Never underestimate people. They do desire the cut of truth. Jangan meremehkan orang. Mereka sungguh ingin kebenaran sejati. © Natalie Goldberg ---------------------------------------------------------------------- Esai, resensi, artikel, dan lebih banyak tulisan. Kunjungi dan dukung blog sederhana ini: http://halamanganjil.blogspot.com ____________________________________________________________________________________ Expecting? Get great news right away with email Auto-Check. Try the Yahoo! Mail Beta. http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_tools.html
