Sang Pialang Sebuah motor melaju dengan kencang menuju kota Temanggung. Map plastik yang berisi berkas lamaran kerja empat orang calon tenaga kerja wanita disimpannya di balik jaket kulit. Motor itu dibelinya setahun yang lalu saat dirinya pertama kali mendapatkan komisi dari hasil kerjanya sebagai seorang pialang.
Dia adalah Sutikno Mandor. Sebutan Mandor didapatnya saat dia masih bekerja sebagai kepala buruh bangunan di kampungnya. Ia beralih profesi sebagai pialang karena menurutnya komisi yang ia dapatkan dari setiap calon tenaga kerja wanita yang dia masukan ke salah satu PPTKIS (Pengerah dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta) atau yang lebih dikenal dengan sebutan PJTKI adalah sekitar dua juta rupiah per orangnya. Dia mempunyai seorang istri dan dua orang anak. Anaknya yang pertama sudah berkeluarga dan saat ini tinggal di kota Brebes sedangkan anaknya yang kedua masih kuliah di Yogyakarta. Kehidupannya sebagai buruh mandor kurang menjanjikan apalagi saat ini harga-harga barang bangunan naik semua sehingga sangat jarang orang membangun rumah di daerahnya. Pada saat memasuki jalan Kartini dipelankannya laju motor yang dikendarainya itu. Ia berhenti di salah satu rumah yang dipakai sebagai kantor oleh PT. Nusa Kembangan Abadi. Ia segera membuka helmnya dan merapikan sedikit rambutnya yang sudah agak memutih lalu mengeluarkan berkas di balik jaketnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. "Selamat siang, Bu." "Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "Ada, Mbak. Saya punya empat orang calon tenaga kerja wanita." "Oh ya? Bagus itu, Pak. Coba saya liat berkasnya." "Ini, Mbak. Mereka ini berasal dari Kepil, Kertek dan dua orang dari Banjarnegara." Pak Mandor menyodorkan berkas yang dibawanya kepada salah satu staff yang menerimanya. "Baik. Berkasnya sudah lengkap ya, Pak?" "Ya, Mbak." "Bagus. Hari jumat nanti keempat orang ini bisa medical check up di laboratorium yang nanti kami tunjuk." "Kalau keempat orang ini lulus medical check up, seperti biasanya Bapak akan menerima komisi dua juta rupiah per orangnya." "Ya, Mbak. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit pulang karena setelah ini masih ada pekerjaan lain yang masih akan saya urus." "Ya, Pak Mandor. Terima kasih juga karena sudah mau mempercayai empat orang calon tenaga kerja wanita kepada kami." Pak Mandor tersenyum senang sambil bergegas menuju motornya. Tak lama kemudian motor yang berwarna merah strip hitam tersebut sudah berada kembali di jalan raya Temanggung-Wonosobo. Pak Mandor berharap keempat calon tenaga kerja wanita yang didaftarkannya ke PJTKI lulus periksa kesehatan. Ia kendarai motornya menuju rumah dengan hati yang riang. Setahun sudah berlalu sejak kejadian siang itu. Menurut kabar berita yang Pak Mandor terima dari keempat tenaga kerja wanita yang dibawanya waktu itu, mereka semua dalam keadaan baik-baik saja di rumah majikannya. Tenaga kerja yang berasal dari Kertek itu bernama Kawidri Jumira. Ia sekarang bekerja di Singapore. Kawidri mendapat majikan seorang peranakan China. Majikannya itu tinggal di Rivervale Street. Ia mengasuh seorang anak kecil yang masih berusia 8 tahun. Menurut berita terakhir yang diterima oleh Pak Mandor, Kawidri sering diajak wisata oleh majikannya pada setiap hari libur. Orang tua Kawidri pun sangat berterima kasih pada Pak Mandor karena berkat bantuan Pak Mandor anak mereka dapat bekerja di Singapore dan sudah mengirim gaji pertamanya untuk membeli dua ekor kerbau yang digunakan untuk membajak sawah. Itu Kawidri. Lain lagi cerita dari Shafitri Lestari Pertiwi. Shafitri yang sering dipanggil Tiwi oleh orang sekampungnya bercerita bahwa dirinya saat ini bekerja di Arab Saudi. Ia bekerja menjadi pekerja rumah tangga di tempat majikannya. Majikannya itu bernama Abdul Karim bin Abdullah Yasim Shafitri mengaku dirinya saat ini berbahagia di tempat majikannya karena majikannya sangat baik walaupun majikannya suka judes kepadanya. Ia juga bahagia karena dapat bertemu dengan cowok-cowok Arab yang berhidung mancung dan berbulu dada. Majikannya mempunyai seorang anak lelaki yang seusia dengan dirinya. Tapi Shafitri sedikit sedih karena ia kadang kurang mengerti bahasa yang digunakan oleh majikannya. Selain itu, selama setahun bekerja di rumah majikannya ia tidak pernah berhenti bekerja siang malam. Ia tidak pernah dapat tidur nyenyak pada malam hari dan harus bangun mendahului majikannya sekeluarga. Semua derita yang dialaminya itu sejauh ini masih bisa tertutupi karena ia dapat membantu menutupi utang kedua orang tuanya di kampung halaman. Tenaga kerja wanita yang berasal dari Banjarnegara bekerja di Taiwan dan Malaysia. Tenaga kerja wanita yang bekerja di Taiwan bernama Winem namun saat tiba di Taiwan ia mengganti namanya menjadi Winka Johansa. Winem bekerja sebagai pengasuh orang tua jompo dan ia pernah menelpon Pak Mandor saat dua minggu pertama bekerja. Temannya Winem, Antin Pratiwi, yang bekerja di Malaysia sejak berada di balai latihan kerja sampai dengan keberangkatannya ke Malaysia tidak sekalipun mengontak Pak Mandor. Pak Mandor kehilangan kontak dengan Antin. Terakhir ia mendapat informasi dari PT. Nusa Kembangan Abadi bahwa Antin sudah mendapat majikan di Sarawak. Majikan Antin adalah keturunan Indonesia yang berdomisili di Malaysia sejak lahirnya. Pak Mandor turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh perempuan- perempuan yang telah dibantunya tersebut. Ia sendiri, sejauh ini, melakukan pekerjaannya itu secara ikhlas tanpa pamrih. Adapun komisi yang dia dapatkan sebagai imbalan dari hasil kerja kerasnya itu adalah sepadan dengan pengorbanannya selama ini. Ia tidak hanya pialang dari satu PT (sebutan untuk PJTKI) tapi ia juga pialang dari PT-PT yang lain. Ia tahu mana PT yang ilegal dan mana PT yang legal. Bukan hal yang mudah untuk menjadi seorang pialang tenaga kerja. Ia sudah sering menjadi langganan kantor polisi dan ruang tahanan. Ia juga pernah bercerita bahwa ia pernah hampir di penjara gara-gara dicurigai oleh intelijen sebagai pelaku traficking women. Waktu itu Pak Mandor bersama-sama dengan salah seorang pemilik PT dan seorang staff processing PT tersebut berangkat ke kota Wonosobo untuk bertemu dengan seorang perempuan yang ingin bekerja di luar negeri. Pada saat mereka bertamu di rumah perempuan tersebut ada dua orang berbaju hitam yang seakan-akan memata-matai mereka. Gelagat kedua orang lelaki ini tidak terlalu diperhatikan Pak Mandor dan kedua bosnya tersebut. Mereka memperhatikan kegiatan Pak Mandor dari rumah tetangga yang berada di depan rumah perempuan yang mereka kunjungi. Dua jam berselang, Pak Mandor dan bosnya keluar dari rumah tersebut dan meninggalkan rumah tersebut dengan mobil menuju ke sebuah warung makan. Pak Mandor dan kedua bosnya ingin menikmati makan siang di salah satu warung makan ternikmat di kota Wonosobo. Salah satu dari lelaki berbaju hitam itu mendekati salah seorang bos Pak Mandor. "Selamat siang, Bu." "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "Ya, Bu. Kami dari kepolisian. Silahkan ibu menghabisi makanan Ibu lalu setelah itu Ibu dan perempuan yang berambut pirang itu serta lelaki yang beserta Ibu dapat mengikuti saya ke kantor polisi." "Lho lho..lho .Tunggu dulu, Pak. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kami disuruh ke kantor polisi?" "Sekarang Ibu ikut saya ke kantor polisi. Nanti kami akan menjelaskan duduk perkaranya di sana." "Baiklah, Pak," jawab bosnya dengan nada sedikit kecut. Setelah mengeluarkan beberapa lembar rupiah dan memberikannya kepada pemilik warung makan maka kedua perempuan itu naik ke dalam mobil kijang hitam milik polisi yang berbaju preman sedangkan Pak Mandor naik ke dalam mobil milik bosnya. Pak supir yang membawa Pak Mandor mengikuti bosnya yang berada di dalam mobil polisi menuju kantor polisi. Pak Mandor tidak mengerti mengapa ia dan kedua bosnya diajak ke kantor polisi untuk diinterogasi. Apa salah mereka? pikirnya. Mobil kijang hitam milik polisi yang berisi kedua perempuan bos Pak Mandor telah berhenti di depan kantor polisi. Mereka semua bergerak memasuki kantor polisi dan diikuti oleh Pak Mandor yang baru saja turun dari mobil bosnya. Pak Mandor sungguh bingung mengapa ia diajak ke kantor polisi. Padahal sepengetahuannya, dia tidak melakukan tindakan yang menyalahi hukum. Dia memang pernah bertindak sediki ilegal dengan membawa perempuan di bawah umur ke salah satu PT di Semarang dan memalsukan identitas perempuan itu untuk bekerja di luar negeri. Ia berani melakukan tindakan melanggar hukum tersebut karena perempuan yang ditolongnya dulu itu sangat ingin bekerja di luar negeri dan ingin terbebaskan dari kemelut masalah rumah tangganya. Dengan berat hati, akhirnya Pak Mandor menyarankan perempuan tersebut untuk memalsukan identitas diri perempuan itu dan saran Pak Mandor tersebut disetujuinya. Semua proses ilegal itu dilalui Pak Mandor dengan penuh kekuatiran namun setelah perempuan itu habis kontrak dan tidak mengalami kasus seperti yang diberitakan oleh media cetak selama ini hingga kepulangannya ke kampung halaman, hati Pak Mandor lega juga. Tapi itu dulu dan tidak mungkin peristiwa kali ini ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang pernah dilakukannya tiga tahun yang lalu. "Selamat siang, Pak." "Selamat siang." "Bisa saya lihat identitas Bapak?" "Bisa," sahut Pak Mandor penuh tanda tanya. "Baiklah, Pak. Sekarang bisa saya lihat surat izin Bapak selaku pialang atau sponsor?" "Bapak bekerja di PT mana?" "Sebentar, Pak," sahut Pak Mandor sambil mengeluarkan surat tugas yang pernah dibuatkan untuknya dari PT yang lain. Saat itu Pak Mandor tidak membawa surat tugas dari PT. Nusa Kembangan Abadi tapi dia membawa surat tugas dari PT. Sejahtera Insan Cemerlang. Dia tidak menduga akan berurusan dengan polisi lagi. "Ini, Pak Surat tugas saya dan status saya legal," lanjut Pak Mandor berusaha menerangkan status dirinya. Dia melihat sekeliling ruang tersebut dan di meja lain, tepat di sebelah ruangnya, kedua bosnya juga sedang diinterogasi oleh pihak yang berwenang. Ia tidak tahu apa yang ditanyakan para polisi ini pada kedua bosnya. Namun ia melihat kedua bosnya pulang terlebih dulu. "Maaf, Pak. Dengan berat hati Bapak kami tahan selama sehari guna memperlancar proses. Kami masih mencurigai Bapak telah menyelundupkan wanita asing ke dalam negeri." "Lho...lho...apa-apaan ini, Pak. Sejak kapan saya menjadi penyelundup wanita asing. Saya ini pialang legal, Pak." "Ia, Pak. Bapak benar. Oleh sebab itu untuk memperlancar pemeriksaan, Bapak harus menginap selama sehari di kantor polisi. Kami akan memeriksa terlebih dahulu informasi yang telah Bapak berikan kepada kami." "Mari, Pak ikut saya," perintah salah seorang polisi di ruangan tersebut. Pak Mandor tidak membantah. Dia diam saja. Dia takut perkataannya akan semakin menambah ruwet permasalahan. Dia tahu sebenarnya telah terjadi pra duga tak bersalah atas dirinya. Proses tanya jawab dan interogasi di kantor polisi menyebabkan Pak Mandor kehilangan waktunya untuk mengerjakan tugas yang lain bahkan pada akhirnya ia harus menginap semalam di kantor polisi. Ia sempat menerima sms dari salah satu bosnya yang mengatakan bahwa ternyata Polisi tadi mencurigai kedua bosnya sebagai orang asing karena kedua orang polisi yang menyamar tadi mendengar kedua bosnya bercakap- cakap memakai bahasa Mandarin. Padahal kedua bosnya asli warga negara Indonesia bahkan salah satunya adalah kelahiran Wonosobo dan menetap di Wonosobo. Penampilan kedua bosnya memang seperti warga negara asing karena kedua bosnya berkulit kuning langsat dan bermata agak sipit. Dandanan mereka juga seperti artis-artis Mandarin yang sering tampil di layar televisi. Pak Mandor tersenyum dalam hati di tengah suasana hatinya yang gelisah. Ia bisa memaklumi kekhilafan polisi tapi entah bagaimana dengan polisi yang masih saja mencurigai dirinya. Semalam suntuk Pak Mandor tidak bisa tidur dan ia menanti keputusan lebih lanjut atas dirinya. Ia ingin sekali cepat pulang karena isterinya menanti kehadirannya di rumah. Dari satu tugas ke tugas lainnya, Pak Mandor mengalami seribu satu macam petualangan yang membuat dia semakin memahami tugasnya dan trik menyelesaikan permasalahan. Secangkir kopi bubuk asal Gresik menemani Pak Mandor di teras rumahnya. Ia baru saja pulang dari Kendal. Sebelum sampai di rumahnya, ia menyempatkan diri membeli surat kabar di perempatan lampu merah. "Uhmmm ..nikmatnya," seru Pak Mandor setelah menyeruput kopi panas yang ia taruh di piring kecil. Pemandangan gunung Sindoro yang membentang di halaman rumahnya dan hijaunya sawah yang sebentar lagi siap dipanen membuat kegelisahan dan capek selama di perjalanan hilang bersama semilir angin yang menyejukan jiwa. Secangkir kopi panas selalu akan ditemani dengan sepuntung kelobot tembakau. Ia sungguh menikmati kehidupan yang diberikan Tuhan dan petualangan- petualangan yang dilaluinya selama ini. Surat kabar yang dibelinya di perempatan lampu merah tadi kembali diambilnya. Perlahan ia mulai membaca satu persatu halaman yang tertera di surat kabar tersebut. Dahi Pak Mandor perlahan mengkerut pada saat sepasang matanya menyoroti berita yang terletak di halaman tengah surat kabar tersebut. Ia usap-usap kembali kacamata plusnya untuk meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah baca. Pak Mandor lebih mencermati lagi berita yang sedang dibacanya sambil mengingat-ingat nama salah satu tenaga kerja wanita yang pernah dibantunya. "Tiwi.....Pratiwi....?!?!? Sepertinya saya kenal dengan nama ini?" gumam Pak Mandor sambil terus membaca. Surat kabar harian tersebut memberitakan bahwa telah terjadi kasus pembunuhan majikan di Malaysia. Kasus pembunuhan tersebut melibatkan seorang tenaga kerja wanita yang bekerja sebagai seorang pengasuh anak di negara Malaysia. Pengasuh anak itu bernama Antin Pratiwi dan berasal dari Banjarnegara. Akibat tindakan kriminal yang dilakukan oleh Antin Pratiwi tersebut maka pemerintah Malaysia menjatuhi hukuman mati kepada warga negara Indonesia ini. Surat kabar harian tersebut lebih lanjut memberitakan bahwa pihak keluarga Antin Pratiwi sedang berusaha meminta bantuan pemerintah Indonesia untuk memulangkan anak mereka itu. "Astagaaaaaa ," jerit Pak Mandor. "Ya, saya ingat. Ya ya ini Antin Pratiwi. Salah satu anak yang pernah saya bawa ke PT. Nusa Kembangan Abadi. Antin sudah lama tidak mengontak saya tapi mengapa kejadiannya jadi seperti ini?" gerutu Pak Mandor gelisah. "Duhh Gimana ini? Saya harus ke tempat keluarganya sekarang. Ya saya harus membantu keluarganya untuk menyelesaikan masalah ini." "Bu.... Ibu. Saya pamit," teriak Pak Mandor sambil setengah berlari menuju kendaraan yang diletakkan di halaman rumah dan meletakkan koran yang baru saja dibacanya. "Bapak?!?!?!?" istri Pak Mandor keluar dari dalam rumah dan tertegun saat membaca berita di surat kabar harian yang terletak di atas meja. Ia ingin ikut dengan Pak Mandor tapi Pak Mandor sudah hilang dari pandangan matanya. Keluarga Antin Pratiwi sangat dekat dengan istri Pak Mandor karena orang tua Antin Pratiwi masih saudara dekat dengan Pak Mandor. @ Bilik Kalong, 20 Februari 2007 ------------------------------------ Cerpen-cerpen lain seputar kisah nyata dalam keluarga dapat dilihat di: http://gunkid.multiply.com Comrade in arms, a new day is dawning! -Stevi Sundah-
