Saya tertarik dengan kebijaksanaan Presiden SBY untuk tetap menghadiri 
satu-stunya upacara Perayaan Tahun Baru Imlek  yang diselenggarakan MATAKIN 
tgl. 24 yl., kemudian akan menghadiri perayaan tgl. 28 besok setelah dirubah 
temanya menjadi Perayaan Persahabatan RI-RRT dengan mengharapkan kedua belah 
pihak kelompok Tionghoa yang bersangkutan bisa menghadiri kedua upacara tsb; 
kedua, Presiden SBY dalam kata sambutan secara resmi menggunakan sebutan 
Tionghoa didepan umum untuk menggantikan sebutan Cina atau China yang hampir 
selama 40 tahun digunakan itu.

    Maju terus pak Presiden, berani maju selangkah lagi untuk secara resmi 
mencabut Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Tentang Masalah Cina 
No.SE-06/Pres.Kab/6/67.

Salam,
ChanCT

SUARA PEMBARUAN DAILY

--------------------------------------------------------------------------------

Masyarakat Tionghoa Bagian Integral Indonesia
[JAKARTA] Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk, dan di dalamnya termasuk 
masyarakat etnis Tionghoa. Karena itu warga keturunan Tionghoa yang lahir, 
tumbuh, dan hidup di Tanah Air Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari 
bangsa ini. Tidak ada dan tidak dikenal lagi dikotomi pribumi dan 
nonpribumi.

Demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menyampaikan sambutan 
dalam perayaan Tahun Baru China 2558, di Jakarta Convention Center (JCC), 
Sabtu (24/2). Presiden yang hadir bersama Ibu Negara Anie Yudhoyono 
mengenakan pakaian merah yang dalam Imlek merupakan simbol kemenangan dalam 
pertarungan melawan kejahatan.

Selain Presiden, perayaan Imlek kali ini dihadiri Wapres Jusuf Kalla dan 
istri, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Menteri Agama Maftuh 
Basuni dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Mantan Presiden Abdurrahman Wahid 
(Gus Dur) yang datang beberapa saat setelah Presiden Yudhoyono disambut 
antusias hadirin. Gus Dur adalah presiden pertama negeri ini yang menyatakan 
Imlek sebagai Hari Raya Keagamaan dan menjadikannya sebagai hari libur 
nasional.

Berkaitan dengan tema perayaan Imlek, yakni "Apa yang Diri Sendiri Tiada 
Inginkan, Janganlah Diberikan kepada Orang Lain", Presiden Yudhoyono 
menyebutnya relevan dan tepat. Karena itu, katanya, jangan lagi ada 
pembunuhan karakter, saling fitnah dan saling caci-maki untuk kepentingan 
tertentu.

Presiden Yudhoyono selain menyatakan masyarakat Tionghoa adalah bagian 
integral bangsa ini, juga mengajak semua pihak membangun kebersamaan, 
menjadikan kehidupan berbangsa harmonis dan saling berbagi kasih sayang. 
Diingatkannya, kemajemukan yang membentuk mozaik indah adalah modal bangsa 
ini meraih kemajuan dan karena itu kekeliruan masa lalu jangan sampai 
terjadi lagi.

Presiden Yudhoyono juga berharap tidak ada lagi diskriminasi atau perlakuan 
tidak adil di negeri ini hanya karena etnis atau agama yang berbeda. "Tidak 
boleh ada lagi saling curiga di antara anak bangsa, mari kita bangun dan 
masuki era baru kehidupan berbangsa dan bernegara penuh harmonis dengan 
semangat dan keikhlasan tinggi," katanya. [E-5/Y-3]



--------------------------------------------------------------------------------

Last modified: 26/2/07 

Kirim email ke