Kelihatan sekali setelah cukup bebenah didalam, termasuk "mengumpulkan" 11 juta 
pemilik Kartu Tanda Anggota, PDIP mulai aktip banget keluar. Sbg oposisi di 
DPR, juga dengan kegiatan Baguna dan Tagana. Dengan Baitul Muslimin menjalin 
penyatuan barisan sama kekuatan-kekuatan agamis yang Islami. Dllnya.
   
  Bagana dan Tagana pasti membikin PKS semangkin susah tidur tenang. Lalu PKS 
mulai mikir-mikir berat mau ikut-ikutan jadi oposisi juga. Silahken aja deh.
   
  Yg penting kan PDIP harus terus berfokus sama pengentasan kemiskinan wong 
cilik dan meningkatkan aktifitas konkrit dalam kegiatan ini.
   
  TSL
  

gsuryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          

Hari ini team Baguna PDI-Perjuangan datang ke DepSos Pusat untuk mendapatkan 
perlengkapan Tagana seusai mendapat pelatihan di bulan Desember lalu.
Selain mendapatkan perlengkapan juga para peserta mendapatkan penjelasan 
yang bisa dibilang singkat dan mudah dimengerti ( maklum keterbatasan waktu 
yang acaranya cukup mendadak ).

Dimana untuk tahun 2007 ini DepSos membuat target melatih TAruna siaGA 
bencaNA sebanyak 10.000 anggota, yang dijelaskan bahwa semua personal TAGANA 
berasal dari beragam profesi, ormas, maupun partai politik, dimana keputusan 
ini di ambil berdasarkan ketidak mampuan DepSos untuk melakukan mobilisasi 
PNS untuk menghadapi bencana yang cukup besar, dengan sedikit memberikan 
contoh negara Jepang, dimana di Jepang disaat terjadi bencana bisa melakukan 
mobilisasi personal sampai angka 2 juta orang, sedang Indonesia yang 
sama-sama memiliki kendala bencana cukup besar belum memiliki personal yang 
memadai.

Pemilihan bekerja sama dengan ormas sampai dengan partai politik, bukan 
semata untuk mendukung partai politik tertentu, melainkan memang didalam 
struktur partai yang sudah eksis memiliki kemampuan memobilisasi personal 
sampai ke tingkat Kelurahan, dengan demikian gerak cepat tanggap bisa lebih 
di optimal kan.

Pemerintah dalam hal ini DepSos mendapat tambahan anggaran APBN yang 
disetujui oleh DPR untuk membuat Tagana, hal ini diperlukan persetujuan DPR 
karena biaya pelatihan personal Tagana perorangnya cukup tinggi, dimana 
selain pelatihan selama 5 hari, plus mendapat perlengkapan yang menurutku 
sangat memadai ( training pack, rompi, sepatu, baju, celana, tempat minum, 
topi ).
Dan menurut info, setiap bulannya anggota Tagana mendapatkan sedikit uang 
transport senilai 50.000 rupiah perbulan, dengan sebab agar anggota Tagana 
tidak mangkir karena tidak memiliki uang transport di saat dibutuhkan.

Baguna sebagai BAdan penangGUlangan bencaNA PDI-Perjuangan mempunyai misi 
yang sama dengan Tagana dimana kerja sama dilakukan disaat bencana terjadi 
dengan DepSos sebagai induk dan pusat kontrolnya, biarpun gerakannya lebih 
dahulu dibandingkan dengan DepSos ( partai memiliki SOP 4 jam setelah 
mendapat berita, dan untuk DepSos...........), sedang disaat tidak terjadi 
bencana maka Baguna melakukan kegiatan sosial bekerja sama dengan departemen 
lainnya, semisal fogging hal ini terjadi karena memang PNS di setiap 
departement tidak memiliki personal yang cukup, demikian pula dengan bakti 
sosial seperti sunatan massal, pengobatan gratis dan sejenisnya.
( dalam hal ini tentunya menjadi terlihat seperti 'kampanye' ), dan memang 
hal ini menjadi lumrah malah akan menjadi lebih baik dibandingkan hanya 
dilakukan dimasa kampanye saja.
Untuk bencana lokal ( semisal longsor ) maka Baguna bergerak tanpa perlu 
melakukan koordinasi dengan DepSos setempat, melainkan langsung melakukan 
koordinasi dengan pemerintahan setempat untuk melaporkan akan melakukan 
kegiatannya. ( Camat, Lurah sd RW dan RT ).

Sebuah informasi menarik adalah peranan MEDIA MASSA dimana sampai saat ini 
bisa dibilang media massa sepertinya tabu untuk membuat berita mengenai 
Tagana, entah karena tidak memiliki nilai jual entah karena bentukan 
pemerintah, didalam penjelasan hari ini, salah satu narasumber mengatakan 
didalam kasus bencana di Aceh, Tagana sudah bergerak dengan banyak tenaga, 
sedang yang kena sorot media massa malah bantuan asing, padahal dengan 
adanya informasi media massa mengenai Tagana, minimal masyarakat luas akan 
mengetahui bahwa pemerintah sudah berusaha bergerak mengatasi bencana yang 
sedang terjadi.

Juga dijelaskan bahwa masyarakat Indonesia lebih terbiasa kepada fokus pada 
saat terjadi bencana, dan tidak fokus pada saat pra bencana dan pasca 
bencana, seperti halnya banjir jakarta beberapa waktu yang lalu, dimana 
semua terpusat pada saat terjadi bencana, sedang sebelumnya dilupakan ( 
masalah sampah ).

Akhir kata, semoga Tagana kedepannya akan terus eksis dan mampu mempunyai 
personal setidaknya mendekati angka yang dimiliki oleh negara Jepang.

sur.



         

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger  NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail 

Kirim email ke