Bung-bung Bagya, Dewana dan Zidane yb.,
rasa melankolik dan galau dalam melihat managemen SDA, tidak hanya 
migas, di RI sangat terasa di media maupun di jagad maya. Sering sekali
saya baca bhw negeri ini sangat kaya, tetapi negara, bangsa dan rakyatnya
miskin, banyak utang dll dan sebagainya.

Saya senang bhw ternyata kita punya banyak "panci" (b. Zidane) minyak.
Di Praha seorang mantan pejabat tinggi bank pernah bilang pada saya, Pak
SDA kita itu sudah di "makan" Kumpeni 350 tahun, tapi masih tetap banyak 
lho! Jadi ambilah SDA kita memang masih banyak. Hal yang positif.

Tanya saya, mengapa Petronas sangat berjaya? Bung Bagya juga menulis 
tentang Venezuela. Belum lama saya baca bhw Chavez akan memakai
minyak untuk membeayai dinegerinya "sosialisme di abad 21". (Harus kita
tunggu detailsnya apa dari sosialisme itu). Chavez ini malah "petantang-
petenteng" kirim minyak untuk "US poor", yang disambut hangat, dan lalu
juga menawarkannya kepada "European poor". "Gendheng", kan? (maaf)

Saya ingat Bung Karno dulu mengusulkan modus Joint Venture sekait
kerjasama dengan asing dalam eksploitasi SDA. "Bagi hasil", apalagi yang
auditnya kalau pun ada juga tidak jelas, tentu bukan modusnya Petronas. 
Katanya malah Bung Karno pernah bilang bhw SDA RI biar menunggu dulu
 sampai RI punya ahli-ahli yang akan dapat mengelolanya untuk 
kepentingan bangsa. Agar jangan dijarah dulu.

Saya sangat sangat setuju dengan 3 points Bung Bagya sekait SOLUSI.
Ini memerlukan banting stir besar-besaran dalam governance di RI, karena
harus merubah "darah daging" yang sudah berlaku kira-kira 40 tahun.
Maaf kalau saya tulis disini, merujuk pada perpolitikan di Eropa Tengah dan
Timur usai robohnya Tembok Berlin 1989, masalah-masalah besar seperti
investasi asing dan semua kaitannya ternyata hanya dapat diselesaikan
orientasinya pada bidang kekuasaan negara. Siapa yang berkuasa.

Konkritnya 3 points Bung Bagya itu hanya dpt diberlakukan dengan UU, jadi
di DPR, juga banyak peraturan yang menjadi wewenang pemerintah pusat
atau daerah sangat tergantung pada siapa yang duduk dalam pemerintahan.
Karena kita sudah mulai memasuki sistem demokrasi, jadi semuanya
itu ditentukan di pemilu dan pilpres. Jalan lain yang konstitusional, ada
juga namun sangat sukar pemberlakuannya.

Pemanfaatan SDA kita, tentu termasuk migas, tergantung langsung siapa
yang berkuasa di RI. Substansi permasalahannya menurut saya berada di
bidang politik. Masalahnya ialah bilionan dolar itu siapa yang dapat
menggunakannya? Bangsa (rakyat) Indonesia? Atau siapa?

Salam, Bismo DG

  ----- Original Message ----- 
  From: Bagya nugraha 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; Media Care ; team kritik ; HKSIS-Group ; [EMAIL 
PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; ANTARA ; Revrisond Baswir ; [EMAIL PROTECTED] 
; Redaksi Gus Dur Net 
  Sent: Wednesday, February 28, 2007 8:48 AM
  Subject: Re: Fw: [nasional-list] Minyak dan umat Islam


  Thanks a lot.
  Saat ini, memang Indonesia net importer di minyak. Persoalan migas di
  dalam negeri Indonesia ini disebabkan kurang adanya komitmen negara
  untuk eksplorasi dan eksploitasi wilayah yang diduga memiliki
  kandungan migas.

  Yang jelas, usaha peningkatan produksi migas telah diupayakan
  pemerintah saat ini. Beberapa kontrak baru telah ditandatangani oleh
  pemerintah dan perusahaan migas. Blok-blok migas lama diekploitasi
  kembali; blok-blok baru dalam proses eksploitasi. Hasilnya bisa
  dinikmati dalam jangka kurun waktu 5-10 tahun ke depan. Maklum, proses
  ekploitasi migas tak semudah yang kita bayangkan.

  Tapi, sekali lagi, permasalahan energy resources bukanlah masalah
  uang. Bukan cuman masalah berapa besar royalti yang diterima bangsa
  ini (lagi-lagi yang mayoritas muslim). Tapi, inti masalahnya adalah
  berapa besar raw material (barang mentahnya!) yang diperoleh dan
  digunakan untuk kepentingan dalam negeri Indonesia sendiri. Coba lihat
  Venezuela; lihat pertumbuhan ekonomi yang dialaminya sekarang.

  Bung BDG, niat dari tulisan saya itu bukan untuk melankolik. Saya
  cuman berniat mengingatkan bahwa kita semua harus belajar dari sejarah
  dunia dan bangsa ini. Solusi yang saya tawarkan adalah (seperti yang
  tertera di tulisan saya) adalah:
  1. Revisi undang-undang migas
  2. Revisi kontrak-kontrak migas demi kepentingan bangsa dan national
  interest. (Ingat, ini bumi kita. Indonesia untuk Indonesia!!)
  3. Cegah kontrak-kontrak migas yang baru; yang tidak berpihak pada
  kepentingan nasional.

  On 2/28/07, BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  > Pak Bagya yth.,
  > tulisan yang bagus sekali. Saya juga punya teman dari Syria yang pernah
  > bilang, lihatlah semua negeri
  > Muslim mendapat karunia Allah berupa minyak yang melimpah. Saya jawab dengan
  > bertanya, Juga Bangladesh, Pakistan, Sudan dll? Oh, mereka itu punya banyak
  > sekali bahan mineral.
  >
  > Yang terpkir, mau tidak mau, apakah untuk Indonesia karunia minyak itu sudah
  > "passe" (merupakan masa lalu). Kita mungkin hanya bisa "nglangut"
  > (melankolik). Dan apa masih ada tenaga untuk tidak membiarkan SDA yang lain
  > menjadi "passe" juga seperti oil itu, Pak?
  >
  > Salam, Bismo DG
  >
  > ----- Original Message -----
  > From: Bagya nugraha
  > To: [EMAIL PROTECTED]
  > Sent: Tuesday, February 27, 2007 2:02 PM
  > Subject: [nasional-list] Minyak dan umat Islam
  >
  >
  > Kepada teman-teman (yang di mailist juga), saya sertakan file
  > berformat microsoft word dengan judul tulisan Minyak dan Umat Islam.
  > File ini tidak bisa dibuka jika dibuka di website mailist, tapi di
  > e-mail masing-masing teman. File ini hampir 1 mega. Semoga berguna.
  >
  >
  >


   

Kirim email ke