Buletin Elektronik Prakarsa-Rakyat.org
SADAR
Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi
Edisi: 29 Tahun III - 2007
Sumber: www.prakarsa-rakyat.org
--------------------------------------------------------------
SEBALIK INGATAN: SEJARAH YANG TERLIPAT DAN SENDIRIAN
Oleh: Miranda[1]
Dal am The Other Side of Silence[2], Urvashi Butalia menulis:
"Kesengsaraan dan dukacita Pemisahan tidak dimonumenkan di garis perbatasan,
tidak pula, secara publik, di tempat lain di mana pun di India, Pakistan, dan
Bangladesh. Satu juta manusia mungkin telah tewas tetapi mereka tidak punya
monumen. Kisah-kisah, hanya itulah yang orang punya, kisah-kisah yang langka
terdedah hingga menyeberangi garis batas keluarga dan komunitas agama:
orang-orang yang berbicara kepada darah daging sendiri."
Perhatian Butalia kepada Pemisahan India (Partition of
India), peristiwa di tahun 1947 yang memisahkan India menjadi negeri Hindu
(India) dan negeri Muslim (Pakistan), yang terjadi sebelum kelahirannya itu,
terbit dari kenangan, ingatan, dan kisahan orang-orang terdekatnya. "Ibu sering
bercerita tentang dua perjalanan berbahaya saat dia membawa adik-adik lelaki
dan seorang adik perempuannya ke India. Ayahku mengenang bagaimana dia kabur
dari Lahore di bawah dentum meriam dan desing senapan. Kisah-kisah itu-tentang
penjarahan, bakar-bakaran, perkosaan, pembunuhan-terasa seperti berasal dari
suatu zaman yang lain." Pada mulanya, demikianlah ia bersikap terhadap sejarah
yang melatarbelakangi garis hidupnya dan hidup orang-orang yang dicintainya.
Hingga lama sesudahnya, kisah-kisah itu pula yang kemudian membangunkan
kesadarannya, tentang sejarah yang termarjinalkan, yang menciut dalam kepala
orang-orang yang barangkali tak ingin mengingat lagi, yang lupa bahwa, seperti
yang pernah dikatakannya, mengingat adalah syarat utama untuk melupakan.
Mengingat, barangkali itulah motif di balik tulisan Butalia: agar orang-orang
itu, para pemilik sejarahnya, tidak sekadar lupa. Tak semata melesapkan sisi
pribadi dan kemanusia an peristiwa sejarah ke dalam statistik dan monumen beku,
yang senantiasa berpihak kepada pemenang: sang pemilik kepentingan, dan
melesakkannya ke dalam data dan fakta kering. Sebab itulah, ia menuliskan apa
yang telah dilisankan oleh orang-orang yang telah ditemuinya, mulai dari
orang-orang terdekatnya hingga yang terjauh yang bisa dicapainya; mendedah
sejarah yang terlipat dan sendirian.
Urvashi Butalia adalah satu dari sedikit orang yang menaruh
perhatian kepada sisi kemanusiaan, sebalik sejarah yang kerap tak terjamah,
yang hanya muncul sebagai kisah orang per orang, yang telanjang dan subjektif,
tetapi justru manusiawi; sebagaimana yang muncul dalam setiap tuturan
orang-orang sebelum kita tentang peristiwa-peristiwa. Peran kisahan lisan
sebagai sumber sejarah sendiri masih terus diperdebatkan karena
subjektivitasnya-seperti dipahami Butalia, sejarah lisan adalah bidang yang
sangat ditentang dalam wacana kesejarahan. Tetapi kita tidak sedang
mempersoalkan nilai sejarah dalam kisahan lisan, atau tempat sejarah lisan
dalam wacana kesejarahan. Yang tengah mengusik kita adalah kenangan, ingatan,
persepsi emotif orang per orang terhadap peristiwa yang telah dilaluinya,
harapan-harapan, bagaimana orang menyeleksi mana yang boleh diingatnya dan mana
yang tidak: hal-hal yang telah lalai disentuh oleh sejarah, yang kering,
objektif, dan berjarak. Hal-hal inilah yang digemakan oleh sejarah lisan,
suara-suara arus bawah yang meneriakkan sisi-sisi kemanusiaan yang, kerap kali,
teramat pribadi.
Sisi-sisi pribadi ini pula yang mewarnai sepuluh kisah
pemenang lomba cerita pendek bertema kemanusiaan, yang diselenggarakan oleh
Kedutaan Besar Swiss: ingatan, persepsi emotif, harapan dan cita-cita orang per
orang terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air. Di dalamnya ada
kisah tentang masyarakat berebut Bantu an Langsung Tunai, penggusuran, tanah
rakyat yang direbut, pembuangan mayat korban kejahatan militeristik,
pertumpahan darah antar-suku di Sampit, anak laki-laki yang membunuh neneknya
demi sepasang sepatu, TKW yang membunuh majikannya sebagai pembelaan diri atas
percobaan perkosaan, hingga gempa yang mengguncang Aceh, Nias, dan Mentawai
tahun 2004-2005 lalu. Tak ada yang berpretensi untuk mengungkap sejarah. Hanya
kenangan, trauma, ketakutan demi ketakutan, dan harapan sederhana masyarakat
kelas bawah terhadap penguasanya. Keseharian yang dituturkan realitas terhadap
waktu. Tetapi sejarah, di dalamnya, adalah yang tak terelakkan. Lewat
kisah-kisah itu, kita mengenal peristiwa-peristiwa lucu, pedih, ironis, bahkan
tragis, yang telah kita lalui.
Di sanalah kesepuluh kisah itu menjadi penting.
Seperti juga di India, tak ada "monumen" bagi
peristiwa-peristiwa kemanusiaan di negeri ini, yang, meski-secara
kuantitatif-barangkali tak sebanding dengan tragedi Pemisahan India, Holocaust
di Eropa, Pendudukan di Tepi Barat, atau bahkan tragedi pasca-Gestapu di
Indonesia, tetap tak boleh dilupakan begitu saja. Sebab kita tidak bicara
tentang skala dan statistik, tetapi tentang impresi-ekspresi yang terbungkam
dan tak terdedah. Sekali lagi, orang-orang yang menjadi korban hanya punya
kisah-kisah, yang berlayar, menyeberang waktu dan generasi, yang kelak mungkin
lelah dan terhenti. Lalu kembali dilupakan, seperti yang terus terjadi di
negeri ini. Kesepuluh cerita pendek pemenang lomba tersebut telah dipilih untuk
menjadi pengingat bagi bangsa kita, yang karena paranoia rezim Orde Baru telah
terlatih untuk melupakan sejarah; kisah-kisah itu telah ditahbiskan untuk
menjadi tonggak-tonggak monumen yang didirika n bagi orang-orang dalam banyak
peristiwa kemanusiaan di negeri ini. Agar kita, yang pelupa, tidak terus lupa,
atau terus punya kesempatan untuk pura-pura lupa.
Ke mana kisah-kisah itu berlayar, kepada siapa ia menyambung
rantai hidupnya kelak adalah pertanyaan yang kemudian mengemuka. Seperti
umumnya lomba karya tulis, kisah-kisah itu tentu akan terpublikasi, dan
sebagian orang akan membacanya. Tetapi masih sempatkah mereka yang mengamen di
perempatan jalan, membangun rumah yang hancur karena bencana, yang sibuk
menjahit luka-luka sebab hidup yang kejam dan berpihak: orang-orang kepada
siapa kisah-kisah itu dituliskan, membacanya? Sebab seperti mengingat adalah
syarat utama untuk melupakan, ia juga syarat utama untuk menggugat. Karamnya
kisah-kisah itu di tataran wacana bukan tujuan lomba karya tulis itu
diselenggarakan. Dan kita tentu sepakat: tak boleh ada diskriminasi terhadap
hak orang per orang untuk mengingat, selayaknya juga menggugat. Yang tak bisa
membaca punya hak yang sama dengan yang fasih membaca.
Kesadaran akan terbatasnya lingkup khalayak yang bisa
dijangkau media cetak dan "masa lalu yang kelam perihal budaya tulisan"
(literate culture) kemudian memantik gagasan untuk melebarkan khalayak
komunikan kesepuluh kisah itu. Dipilihlah pengisahan lisan sebagai jalan
tengah. Bekerja sama dengan Voice of Human Rights dan Perkumpulan Seni
Indonesia, kesepuluh kisah itu dituturkan dalam bentuk story-telling, dikemas
dalam bentuk CD audio, dan nantinya akan disebarluaskan melalui jaringan radio
komunitas (bahkan swasta) di seluruh Indonesia. Selain memberi hak yang sama
pada kaum tunanetra, upaya ini akan mengatasi kendala-kendala yang terbawa
bersama penyiaran lewat media cetak, sebab senyatanya, di banyak tempat di
negeri ini, sebagian besar orang masih belum karib dengan buda ya tulisan dan
lebih bersenyawa dengan budaya lisan. Ini adalah sebuah upaya baru;
kisahan-kisahan yang di dalamnya termuat sejarah berbagai peristiwa kemanusiaan
tidak dituturkan oleh seorang penutur keliling atau pendongeng yang lebih dekat
dengan dunia anak-anak, tetapi lewat format serupa sandiwara radio yang dapat
diakses oleh masyarakat kalangan mana saja. Inilah sebuah upaya penyadaran
publik terhadap kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang telah terjadi di negeri
ini; sebuah pengingat agar kita tidak serta-merta melupakan nasib mereka-mereka
yang telah terkorbankan-dalam sepuluh kisah itu maupun yang tak tercatat dalam
memoar mana pun, atau berpotensi menjadi korban.
Upaya ini tentu saja tidak akan mengklaim dirinya sebagai
pemecah persoalan yang paling tepat dalam penyadaran publik tersebut, sebab
masih banyak jalan bisa ditempuh untuk kalangan publik yang berbeda-beda, dan
bahwa penyadaran publik semacam ini mestilah dilakukan bersama-sama dalam kerja
sinergis yang saling mendukung. Butalia mengukir monumen bagi mereka yang
dikorbankan dalam Pemisahan India lewat The Other Side of Silence, Rumah Seni
Cemeti menyelenggarakan proyek seni dan sejarah "Masa Lalu, Masa Lupa",
Indosiar bisa saja menayangkan Republik BBM, dan Kedutaan Besar Swiss, membalik
apa yang telah dilakukan Butalia, mengemas dan menyebarkan kisah-kisah itu
sebagai cerita lisan; monumen untuk mengingat itu bisa berupa apa saja. Tetapi
bahwa upaya itu tetap-dan mestinya tak pernah berhenti-ditempuh, bahwa ada
pihak-pihak yang siap menyatakan dirinya berpihak kepada mereka yang
dikorbankan, bahwa selalu ada harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi
mereka yang terdesak ke tepian, inilah semangat menggembirakan yang mesti terus
kita hidupkan. Terus, tanpa henti. ¡
--------------------------------------------------------------
[1] Penulis adalah novelis tinggal di Jogjakarta, anggota
Perkumpulan Seni Indonesia yang merupakan bagian dari Simpul Forum Belajar
Bersama Prakarsa Rakyat.
[2] The Other Side of Silence: Voices from the Partition of
India (Duke University Press, Durham, © 2000), ditulis oleh Urvashi Butalia,
diterjemahkan menjadi Sisi Balik Senyap: Suara-Suara dari Pemisahan India
(Indonesia Tera, © 2002) oleh Landung Simatupang.
[EMAIL PROTECTED]