HARIAN KOMENTAR
03 Maret 2007 

      Demi terciptanya kerukunan
      Tokoh Agama Setuju Hapus Kolom Agama di KTP 


     


Desakan National Integration Movement (NIM) kepada pemerintah untuk menghapus 
kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), mendapat sambutan sejumlah tokoh 
agama Sulut, dengan alasan demi menciptakan suasana rukun dan damai.


Dukungan ini muncul dari Ketua Bamag Manado, Pdt Johan Manampiring. Menurutnya, 
selain alasan kerukunan, bangsa Indonesia merupakan sumber konflik sara. Agama 
sering dipolitisir oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu. Para 
kaum radikalis-ekstrimis dan teroris sangat getol menciptakan kerusuhan, lalu 
me-akukan razia KTP. Dan ke-sempatan menganiaya penganut agama yang mereka 
ben-ci. Di lain pihak diskriminasi sangat tajam soal agama da-lam bangsa kita. 
"Jadi demi keaman-an warga tidak perlu dicantumkan dalam KTP," tegasnya.


Pastor Fred Tawaluyan mengurangi diskriminasi bukan hanya karena agama dihapus 
dari KTP. Memang banyak negara (mi-salnya pasport) tidak ada data tentang agama 
dalam identity card dengan dihilangkannya data agama, maka kemungki-nan 
tindakan diskriminatif se-cara administrasi bisa dimi-nimalisir. Tapi harus 
juga di-ingat bahwa diskriminasi bu-kan hanya secara administratif terhadap 
kelompok/ golongan yang kurang disu-kai. Diskriminasi bukan ha-nya kelompok 
mayoritas ter-hadap minoritas, atau agama yang satu terhadap agama yang lain. 
Tapi bisa terjadi antara ras/suku yang satu terhadap suku yang lain. Kalau 
kerukunan antarumat beragama sungguh hidup dan menghidupkan manusia Indonesia, 
kalau kebhinekaan sungguh-sungguh menjadi ikatan kebangsaan, kalau ti-dak ada 
fanatisme agamawi, kalau pluralitas kebangsaan sungguh-sungguh dijaga dan 
dipertahankan. "Dan kalau hukum dan perun-dang-undangan sungguh-sungguh 
ditegakkan, kalau mentalitas kepribadian bang-sa ini sungguh-sungguh 
pan-casialis, maka diskriminasi tak perlu dicemaskan," ujarnya.(

Kirim email ke