Minggu, 04 Mar 2007,
In memoriam Max Arifin
Teater, Maut, dan Max
Takdir tak bisa dihardik, kematian tak bisa ditampik. Kamis, 1 Maret 2007, demi
waktu, siang itu langit Mojokerto terasa terik menerobos jiwa. Ketika itulah
sang maut menjemput Max Arifin. Setelah menderita jantung koroner cukup lama,
akhirnya ia, yang lahir di Sumbawa Besar 18 Agustus 1938, mengembuskan napas
terakhir di RS Sido Waras Bangsal, Mojokerto. Di benaman peristiwa itu, terasa
bangkit setakik gulana, dan sejenak ingatan kita serasa disergap sepenggal
sajak Subagio Sastrowardojo, Dan kematian makin akrab. Memang, maut seperti
sesosok tamu beraut kisut-pucat yang bersambang di malam hari dan membopong
kita pergi, begitulah seloroh Jim Morison, vokalis The Doors.
Siapakah Max Arifin sebenarnya? Jika seseorang bicara ihwal teater di negeri
ini, pastilah ia tak akan luput menyebut sosok Putu Wijaya, W.S. Rendra, atau
Butet Kertaradjasa. Tapi, orang yang mengabdikan diri seluruh hidupnya secara
intens dan penuh seluruh sebagai penggiat teater yang sekaligus menerjemahkan
buku-buku teater (juga sastra), pastilah, tak bisa mengabaikan begitu saja
kontribusi yang patut dihargai dari Max Arifin.
Sejak proses pemakamannya hingga entah kapan, saya terus membatin, apakah figur
seperti Max Arifin bakal dikenang banyak orang sebagaimana tokoh atau aktor
teater lain. Dikenang atau dilupakan, untuk sementara tampaknya tak begitu
penting. Namun, bila menengok kematian Chairil Anwar di usia 27 tahun itu
sungguh telah dicatat dengan tinta emas dalam sejarah sastra Indonesia. Sekali
berarti, sudah itu mati, pekiknya. Ia seakan menuliskan sendiri nasibnya.
Chairil boleh jadi merutuk dalam hati; kematian bagiku bukanlah musuh yang
menelikung atau membilurkan rindu-dendam yang kekanak-kanakan. Maut lebih dari
itu. Dari Tuhan maut mengendap menyurup dalam hidup. Bertukar tangkap-lepas
dengan misteri dan teka-teki. Ajal, menjelma hantu sepanjang hayat. Siapa pun
akan bergetar, kala Dewa Yamadipati mengintai, atau Malaikat Izrail si pembabat
nyawa membentak dari belakang. Jika begitu, adakah maut semata kutukan bagi
yang hidup? Lalu, memang, di kemudian hari hingga kini,
murid-murid sekolahan berziarah ke makam Chairil. Dan tantangnya; Aku ingin
hidup seribu tahun lagi, nyata-nyata benar bahwa Chairil akan senantiasa
dikenang banyak orang. Tapi, meski waktu dan gelora setiap masa niscaya
berbeda, mungkinkah khalayak kita mengenang dengan hormat pada sosok Max
Arifin, selain kawan-kawan seniman dan sastrawan, lebih-lebih mereka yang
berseni-budaya di Mojokerto dan sekitarnya? Mungkin hal itu terlalu berlebihan.
Tapi, yang pasti, Max Arifin, bagi sebagian orang -termasuk saya-- punya
catatan tersendiri.
Kematian, dalam kesadaran ambang kita, bagai menyimpan kesunyian kelam di ceruk
nasib terdalam. No one know the others, each one is alone, bisik Hermann Hesse.
Kendati rahasia ajal hanya milik Tuhan. Karena itu, apa pun yang meledak dari
mimpi buruk itu, kita layak berbela sungkawa dan berdoa takzim pada Max Arifin,
sebab dari tangannya telah terlahir 26 buku terjemahan, khususnya tentang
teater, seperti The Shifting Point: Teater, Film, Opera karya Peter Brook;
Menuju Teater Miskin (Toward a Poor Theatre) karya Jerzy Grotowsky; Teori-teori
Drama Brecht karya Hans Egon Holthusen, dan lain-lain. Ia juga
mengalihbahasakan dengan cerdas sejumlah karya sastra unggul semisal Seratus
Tahun Kesunyian (One Hundred Years of Sulitude) karya Gabriel Garcia Marquez;
novel ini pernah dimuat secara bersambung di Jawa Pos pada 1997; Pemberontak
(The Rebel) karya Albert Camus; Seribu Burung Bangau (Thousand Cranes) karya
Yasunari Kawabata; Nyanyian Laut (The Sound of Waves) karya Yukio
Mishima; Pengembaraan (Walkabout) karya James van Marshal, pernah dimuat
sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada 1976, dan sebagainya.
Menyusuri spirit kembara intelektual Max Arifin, yang mengabdikan hidupnya di
jagat teater dan sastra, lebih-lebih setelah ia pensiun dari pegawai negeri
sipil Departemen Agama Nusa Tenggara Barat di Mataram, patutlah kita mengambil
banyak pelajaran dari dia. Satu hal yang pasti bahwa kreativitas dan
dedikasinya dalam menekuni bidang ini ibarat seorang yogi. Inilah yang pernah
disinggung P. Swantoro dalam bukunya Dari Buku ke Buku (KPG, Jakarta, 2000):
Apa yang dilakoni Pak Max selama ini adalah bak seorang intelektual yogi, yang
secara istiqamah menggeluti dunia teater, nguri-nguri dan ngopeni kawan-kawan
seniman, terutama di Mojokerto, dan kota-kota lainnya.
Saya pribadi patut bertakzim kepada almarhum, sebab dari terjemahannya yang
lincah dan segar itu, saya dapat mengapresiasi sejumlah karya-karyanya. Saya
pun berharap bisa menikmati karya terjemahannya yang lain yang masih ngendon di
penerbit, seperti An Echo of Heaven karya Kenzaburo Oe dan karya Susanne K.
Langer The Problem of Art (keduanya di penerbit Bentang Budaya, Jogjakarta).
Demikian pula sejumlah naskah terjemahan yang belum ditawarkan ke penerbit
telah ia siapkan seperti, Theatre and ItÂ’s Double karya Antonin Artaud; The
Fire Next Time karya James Baldwin; Political Theatre karya David Goodman; The
Ship of Fool karya Christiana Perri Rossi; dan The Other Voice karya Octavio
Paz. Sementara terjemahan terakhirnya adalah karya Stephen Barber, Antonin
Artaud: Ledakan dan Bom (diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta, Agustus 2006) dan
karya Konstantin Stanislavsky My Life in Art (Pustaka Kayutangan, Malang,
September 2006).
Selain itu, Max Arifin juga menulis buku. Bukunya Teater: Sebuah Pengantar
diterbitkan Nusa Indah Flores 1990. Ia juga menulis naskah drama Putri
Mandalika, yang pernah dipentaskan secara kolosal di Pantai Senger, Lombok
Selatan, pada 1988. Ia menulis naskah Matinya Demung Sandubaya, yang dibawa
kontingen Nusa Tenggara Barat pada Festival Teater di Solo dan kemudian dimuat
sebagai cerita bersambung di harian Suara Nusa (sekarang Lombok Post). Tahun
1990, naskah drama remajanya berumbul Badai Sepanjang Malam diterbitkan
Gramedia Jakarta (baca: majalah Tempo edisi 17 September 2006). Kini ia juga
telah merampungkan antologi berisi lima naskah drama berjudul Lakon dari Lombok.
Pak Max, demikian kawan-kawannya di Dewan Kesenian Mojokerto memanggil, adalah
sosok yang baik dan ramah, berpendirian kuat, dan pembaca buku yang bandel.
Pada 10 Oktober 2006 saya menyempatkan diri bertandang ke rumahnya bersama
seorang kurator seni rupa dari Jogja di Perumahan Griya Japan Raya, Sooko,
Mojokerto. Waktu itu, dengan santun dan antusias, ia menunjukkan sebuah kitab
suci bagi dunia kebudayaan modern berjuluk : The Voices of Silence karya Andre
Malraux.
"Ini juga kitab suci bagi saya, Nixon dan Mao Tse Tung benar-benar menghormati
pikiran-pikiran Andre Malraux dan karya-karyanya," demikian kesannya tentang
tokoh itu.
Kemudian ia menghadiahi kami buku terjemahannya karya Konstantin Stanislavsky
My Live in Art, sebagai tanda persahabatan. Di balik lembaran cover buku itu ia
menulis, We are one for the future. Always! Ok? Seperti sekelebat isyarat yang
mrucut dari maut, meski suatu saat kelak saya bakal bersua dengannya lagi.
Selamat jalan, Pak Max! (*)
*) Fahrudin Nasrulloh, bergiat di komunitas Lembah Pring Jombang. Bekerja
sebagai editor lepas dan menulis puisi, cerpen, dan esai di sejumlah media
massa. HP 081 578 17 7671.email:[EMAIL PROTECTED]
(dimuat di harian Jawa Pos, Minggu, 4 Maret 2007)
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.