Jika kita tidak bisa simpati, harusnya kita berempati. Coba, tempatkan diri 
kita pada sadara yang mengaku korban poligami. Aku sebenarnya heran, kok (maaf) 
seperti tak punya perasaan. Jelas saja saudara itu mengalami trauma psikologis. 
Harusnya kita membantu, memberikan solusi, bukan mengadili seperti itu. 

Bagi yang membawa-bawa islam (khususnya Nabi Muhammad saw) dalam poligami, 
cobalah anda teliti lagi soal poligami dalam persepsi Muhammad. Jangan menipu 
keyakinan kita. Perlu tinjauan lebih jauh lagi. Nabi berpoligami, tapi perlu 
kita teliti; kenapa Nabi berpoligami?

Lihat sejarah Nabi....
Menikah usia 25 dengan janda umur 40 tahun untuk mendukung dia mencerahkan 
ummat. Kemudian menikah dengan janda-janda. Untuk kemudian dengan Aysah. 

Dari sini ada sejarah yang tersirat. Dalam tafsiran  orang  awam seperti aku;  
Jika  ingin  berpoligami,  meniru  Rasulullah berpoligami....menikahlah dengan 
janda-janda terlebih dahulu.   

Agama jangan diperalat. Poligami yang dilakukan Rasulullah adalah atas 
kemanusiaan. Muhammad menikahi janda-janda untuk melindungi mereka, menafkahi 
anak-anak yatim. Begitulah indahnya islam. Jika ada yang bermasalah berarti 
bukan poligami yang sesuai dengan jiwa Muhammad dan tidak bisa dikaitkan dengan 
agama. 

Soal "contek menyontek", meskipun sebuah kiasan, agaknya perlu dipertegas lagi 
tujuannya. Mencontek apa? Dan apa motif anak menjadi pencontek? Bila berada 
dalam kurikulum Indonesia, bila saya jadi guru, saya kira mencontek adalah hal 
yang wajar. Sebab, kurikulum Indonesia kacau. Mata pelajaran banyak, sedangkan 
yang menjadi penentu masa depan hanya secuil. Tidak spesifik. Sementara itu, 
adalah persepsi yang salah bila anak dikatakan pintar bila cemerlang dalam ilmu 
pasti. Katakanlah pintar matematika. Tapi, yang jago dan punya prestasi olah 
raga, bernyanyi, atau berpidato, bukan anak yang pintar karena nilai matematika 
jeblok. Padahal, sesungguhnya kita semua manusia unik, Tuhan menganugerahkan 
kecerdasan yang berbeda agar bisa saling melengkapi. Punya prestasi dalam olah 
raga berarti dia punya kecerdasan motorik, dalam bernyanyi atau berpidato 
berarti dia punya kecerdasan verbal. Nah! Dari sini saya pikir sah-sah saja 
bila anak yang mencontek bisa jadi pejabat karena dia
 memang berbakat memimpin bukan mengerjakan hitungan. Dan anak yang tidak 
mencontek dan selalu jadi juara kelas, tak menjadi pejabat, sah-sah saja karena 
bisa jadi dia tidak cerdas dalam bersosialisasi, jika tak jadi pejabat di bisa 
jadi akuntan atau peneliti di mana yang diperhitungan adalah karya. 

Bagi saudara yang mengalami trauma karena poligami yang tidak ideal, ada 
baiknya anda menjalani terapi atau setidaknya konsultasi pada psikolog. Saya 
bisa memahami perasaan anda. Memang menyakitkan. Dan saya bisa mengerti kenapa 
anda menulis seperti itu. Yang menulis itu adalah jiwa anda yang tertindas 
bertahun-tahun. Pengalaman buruk anda. Orang yang mendeskriditkan anda, karena 
mereka tidak mengalami sendiri pengalaman buruk seperi anda alami. Jika mereka 
mengalami hal yang anda alami, saya yakin mereka akan berubah pikiran. Kalau 
dari saya sendiri, cobalah maafkan masa lalu. Jika tidak bisa memaafkan, 
setidaknya berusahalah untuk berdamai dengan masa lalu. Mengapa? Karena anda 
hidup untuk masa depan. Jika masih larut dalam kekelaman masa lalu, berarti 
anda hidup di masa lalu. Anda akan selalu cemas, benci, marah. Jika begini, 
kapan anda akan merasakan bahagia? Hidup cuma sekali, jadi anda harus bahagia 
dalam hidup yang sekali ini. Umur anda 23 tahun, jika diberi Tuhan
 100 tahun, bayangkan betapa lamanya lagi anda merasakan siksa masa lalu. 
Mmm...sebagai alternatif, anda bisa menulis. Hei! Anda masih hidup sampai saat 
ini, anda punya kisah yang hebat. Di negara sekuler seperti Amerika dan Eropa, 
orang yang mengalami tertindas psikologis banyak yang menulis buku dan buku 
mereka jadi international best seller misalnya "Running with scissors" (mungkin 
anda perlu baca buku ini, percayalah anda bukan seorang yang mengalami trauma 
dan bisa jadi anda masih lebih ringan dari Agusten penulis buku ini). Di 
Indonesia kita terdapat pakem budaya kesopanan, tapi saya pikir itu bukan 
masalah untuk menuliskan kekelaman autobiografi kita, tinggal ganti nama-nama 
dan setting tempat. Menulis merupakan sarana terapi. Cobalah menulis, anda akan 
merasa lebih tenang setelah itu. Dan bagilah kisah anda agar kekelaman itu 
menjadi berkah bagi orang banyak di mana orang bisa berhati-hati dalam 
berpoligami atau setidaknya mengatakan "Berpoligamilah". 

Maaf bila ada yang tak sependapat. 

Salam, 

Sulfiza

http://sangtimur.multiply.com/               

 
 zidane_nih wrote:
Itu adalah sebuah pemikiran yang
 > kerdil dan picik!
 >
 > Wassalam,
 > ApikoJM
 > 085216569981
 >
 > --- In [email protected] <mailto:mediacare%40yahoogroups.com>, 
 > "aquary_redcrow"
 > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 > >
 > > Saya juga termasuk korban poligami. Efeknya? Umur 23 dan masih
 > sendiri
 > > karena tidak percaya laki-laki. Kakak perempuan saya juga memilih
 > > untuk sendiri dulu, di usia yang 25.
 > >
 > > Sakit sekali, melihat ayah sembunyi-sembunyi mengambil cincin ibu
 > > untuk diberikan si orang ketiga.
 > >
 > > Sedih melihat uang pensiunan ayah yang habis untuk betulin rumah si
 > > orang ketiga, sementara rumah kami (ibu, saya, dan kakak) bocor di
 > > sana sini.
 > >
 > > Sedih sekali uang asuransi pendidikan saya harus dihibahkan untuk
 > beli
 > > AC so orang ketiga.
 > >
 > > Kecewa sekali ortu saya tidak bisa hadir di wisuda dengan alasan tak
 > > ada uang.
 > >
 > > Mengerikan sekali ayah saya tak mau menebus foto wisuda Rp.30.000.
 > >
 > > Masih mau mendukung poligami???
 

Kirim email ke