Sdr Aris, terima kasih atas tanggapan dan masukan Anda. Milis Jurnalisme bukan satu-satunya milis yang saya ikuti - tapi memang satu-satunya milis yang bermasalah dengan saya, sejauh ini. Saya konsisten dengan milis yang saya ikuti, dan saya tak mengubah-ubah gaya bahasa saya dengan milis mana pun. Tapi milis Jurnalisme memang beda. Sepertinya ada "kelainan" yang serius pada moderatornya di sana. Doktrin Jurnalisme yang universal adalah azas keseimbangan, kesediaan untuk menerima masukan dan pendapat yang berbeda, bahkan pendapat yang bertentangan. Milis jurnalisme bukan milis tempat berkasih-kasihan dan saling memuji para anggotanya. Bukan tempat arisan ibu-ibu di komplek. Saya yakini itu. Yang menjadi masalah, kemudian, tampaknya di sana banyak berkumpul kaum feodal. Bahwa ada gelar Raden di depan nama Farid Gaban, dan moderator yang lain tak masalah. Lihatlah Kanjeng Raden Tumenggung Haryo (KRMT) Roy Suryo, pakar telematika yang dari Kraton Solo. Dia tokh bisa egaliter. Mengapa Farid Gaban tidak? Saya menulis dengan nada keras di milis Jurnalsisme, ya. Tapi menghujat? Tidak sama sekali. Lihatlah konteksnya. Sebagai penganut Islam moderat, pluralis, pengusung bhineka tunggal ika, jelas saya layak cemas dengan merebaknya sikap anti toleran, anti demokratis, fundamentalistik, puritanisme, sektarian dan partisan, yang merebak dan tumbuh subur, di tengah masyarakat kita. Wa bil khusus di milis Jurnalisme. Dan saya berjuang di sana untuk menetralkannya. Kalau mereka mengganggap itu menghujat, jelas mereka tipis kuping. Saya menyediakan argumen, tanggapi dengan argumen juga. Bukan lalu memvonis, karena posting saya dinilai suka menghujat, maka dikeluarkan. Itu namanya menutup dialog dan anti dialog. Artinya, sinyalemen saya, tentang merebaknya puritanisme, fundamentalisme, dan otoritarianisme di milis Jurnalisme benar. Ciri-cirinya 'kan moderatornya mau menang sendiri, merasa benar sendiri. Sama dengan FPI!! Suka anarkis.
Wassalam, Dimas. (Ustad saya bilang : Perbedaan itu rahmat!) --- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Dimas, > Ada baiknya mas mencoba meresapi ulang tulisan apa > saja yang mas posting ke milis jurnalisme. Resapilah > bahwa bukan karena perbedaan pendapat diantara > moderator dan mas yang menghantarkan akhirnya mas > 'dikeluarkan' dari milis jurnalisme. Milis jurnalisme > bukan milis untuk sumpah serapah, bukan untuk > menghujat orang yang berbeda pendapat. Kalau pun kita > diskusi di milis tersebut, alasan kita haturkan pun > harus berbasis data dan maaf bukan asal jeplak. > Terlebih lagi sebatas hujatan. Namanya juga milis > jurnalisme. ^_^ > > Dan khusus untuk Anda mas Dimas, alangkah baiknya mas > juga mengevaluasi diri sendiri sebelum mengatakan > hal-hal yang bukan-bukan pada orang lain. Apalagi, > apabila kita tak tahu benar siapa yang kita ajak > dikusi. Maaf lo ya, ini sekedar masukan saja. > > Milis sepahaman saya juga seperti obrolan di wilayah > publik, ada tata krama dan sopan santun yang perlu > kita pahami bersama untuk menghargai sesama. Itu jika > mas ingin juga dihargai orang lain. Tak masalah kita > berbeda pendapat, namun cara menyampaikannya perlu ada > kaidah tertentu seperti di wilayah publik. > > Kita berdiskusi bukan untuk menghina seseorang. > Jikalah memang pendapat orang tertentu yang ingin kita > coba kritisi, lalu kenapa kita kemudian merambah ke > personal seseorang dan menyakiti personalnya. ^_^ > > Bila itu kita lakukan, lalu apa bedanya kita dengan > anak-anak TK yang berdebat. ^_^ Sekali lagi maaf... > > salam, > aris
