Mbak Aris,
Saya juga anggota milis Jurnalisme dan saya tidak begitu sependapat
dengan Anda. Saya nilai moderator Farid Gaban cenderung bersikap
otoriter, setidaknya FG sendiri melakukan tindakan2 yang ia tuduhkan
pada 2 anggota tersebut, alias tidak konsisten dan diskriminatif
(anggota harus bersikap yang menurutnya ksatria, namun moderator boleh
bebas tidak ksatria tanpa ada sanksi).
Di bawah ini protes saya terhadap moderator Farid Gaban yang beberapa
kali melontarkan kata2 abusive --rude and offensive words-- ditujukan
pada saya dan/atau feminis/me (kelanjutan dari diskusi poligami).
FG juga secara tidak etis memelintir perumpamaan saya --anti poligami
sebagai salah satu sahadat (saya menulisnya syahadat) gerakan
perempuan-- untuk membenturkan feminis/me dan agama;
Di email sebelumnya saya sudah jelaskan pandangan/persepsi feminisme
bertentangan dengan agama adalah pandangan yang keliru.
Yang benar: Feminisme menuntut/menawarkan pembacaan ulang atas teks2
suci (agama apa saja) yang tafsirnya dikuasai kelompok berideologi
patriarki, ideologi yang menyebabkan tersubordinasinya perempuan
(kedudukan perempuan tidak setara dg laki2), bahkan kekerasan terhadap
perempuan.
Jadi agama bisa dilihat sebagai 'battlefield' antara kelompok
berideologi patriarki dan berideologi feminis, agama bukan milik
kelompok patriarkis.
Salam,
Ida Khouw
"Ida I. Khouw" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Date: Mon, 26 Feb 2007 14:56:49 -0800 (PST)
From: "Ida I. Khouw" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Protes atas Pemecatan Dimas dan Billy
To: jurnalisme group <[EMAIL PROTECTED]>
Bagaimana dengan Anda sendiri? apa Anda pikir Anda seorang ksatria?
melontarkan tuduhan2 tak berdasar pada feminisme/feminis tanpa mau
mempertanggungjawabkannya!
Betul, Anda memang seorang provokator yang membahayakan---> sudah
jelas saya katakan feminisme tidak bertentangan dengan agama (dan Anda
tak membantahnya), tapi secara LICIK Anda tetap berusaha membenturkan
feminisme dan agama
FG:
" Anti-poligami, buat mereka, adalah "syahadat" (wajib), adalah
"agama".... Namun, yang lebih fatal, mereka mengasingkan diri dari
kaum perempuan yang masih memandang Islam, bukan anti-poligami,
sebagai agamanya."
IDA:
Kurang bagaimana bahayanya provokasi Anda??
Agama adalah 'battlefield' yang sekarang dikuasai kelompok berideologi
patriarki (ideologi yang mensubordinasi, bahkan yang menyebabkan
kekerasan terhadap perempuan!).
Apa sih yang menakutkan dari feminisme/feminis sampai Anda begitu
abusive terhadap mereka?
- Otot kami tak lebih kuat dari kalian, pendukung ideologi patriarki.
- Kami tak punya bedil, kalian yang menguasai akses ke persenjataan.
- Hegemoni, kalian yang miliki di seluruh aspek kehidupan.
Kenapa kalian merasa demikian terancam??!
Yang para feminis miliki cuma OTAK.
Dan OTAK para feminis ini demikian menakutkannya buat kalian, membuat
kalian merasa terancam, makanya kalian memukul mereka dengan kata2 tak
pantas! memukul dari belakang pula!
Belajarlah pada Nabi Muhammad saw yang tidak merasa terancam, bahkan
bekerjasama, membentuk keluarga sakinah dengan seorang perempuan
feminis, Siti Khadijah ra, saling mendampingi sampai ajal memisahkan
mereka.
Ida Khouw
--- In [EMAIL PROTECTED], "Farid Gaban" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Ging,
>
> Terima kasih atas pendapatnya. Tapi, keputusan saya tetap, dan saya
> memandang keputusan itu justified.
>
> Sebagai provokator, saya tahu benar apa itu provokasi. Saya pada
> dasarnya tidak keberatan orang membuat provokasi di sini, asal
> bertanggungjawab: sebutkan identitas secara jelas in public, dan
> pertahankan argumentasi secara dewasa.
>
> Billy saya pecat bukan karena isi postignya. Dan jika Anda ikuti
> dengan seksama, saya SUDAH memuat postingnya yang keras itu (bahkan
> tidak cuma sekali). Bukankah dengan mudah, jika mau, saya bisa
menyensornya sebelum keluar di sini?
>
> Dia saya pecat karena tidak mau mengungkap jati dirinya secara
terbuka
> di sini. Pengecut yang "lempar batu sembunyi tangan".
>
> Dimas saya pecat karena tidak mau mempertanggungjawabkan secara
> ksatria statement-nya yang saya nilai provokatif. Inilah orang yang
> beberapa waktu lalu mengkritik moderator Milis Jurnalisme sebagai
> kehijau-hijauan, fundamentalis Muslim. Tapi ketika diberi kebebasan,
> malah terkesan main-main. Bukan seorang yang ingin terlibat
dalam diskusi sehat dan bermartabat.
>
> Anda bilang, moderator membela mati-matian Ade Armando?
>
> Seperti saya bilang, saya teman Ade dan Nina, saya menghormati
> keduanya. Tapi, benarkah saya tidak pernah mengkritik Ade
Armando, secara eksplisit dalam kasus ini?
>
> Saya sarankan Anda membaca kembali semua urut-urutan perdebatan
secara SEKSAMA.
>
> Maaf, Ging, untuk ini saya berbeda pendapat dengan Anda.
>
> salam dari Tebet,
> Farid Gaban
> MODERATOR
--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas Dimas,
> Ada baiknya mas mencoba meresapi ulang tulisan apa
> saja yang mas posting ke milis jurnalisme. Resapilah
> bahwa bukan karena perbedaan pendapat diantara
> moderator dan mas yang menghantarkan akhirnya mas
> 'dikeluarkan' dari milis jurnalisme. Milis jurnalisme
> bukan milis untuk sumpah serapah, bukan untuk
> menghujat orang yang berbeda pendapat. Kalau pun kita
> diskusi di milis tersebut, alasan kita haturkan pun
> harus berbasis data dan maaf bukan asal jeplak.
> Terlebih lagi sebatas hujatan. Namanya juga milis
> jurnalisme. ^_^
>
> Dan khusus untuk Anda mas Dimas, alangkah baiknya mas
> juga mengevaluasi diri sendiri sebelum mengatakan
> hal-hal yang bukan-bukan pada orang lain. Apalagi,
> apabila kita tak tahu benar siapa yang kita ajak
> dikusi. Maaf lo ya, ini sekedar masukan saja.
>
> Milis sepahaman saya juga seperti obrolan di wilayah
> publik, ada tata krama dan sopan santun yang perlu
> kita pahami bersama untuk menghargai sesama. Itu jika
> mas ingin juga dihargai orang lain. Tak masalah kita
> berbeda pendapat, namun cara menyampaikannya perlu ada
> kaidah tertentu seperti di wilayah publik.
>
> Kita berdiskusi bukan untuk menghina seseorang.
> Jikalah memang pendapat orang tertentu yang ingin kita
> coba kritisi, lalu kenapa kita kemudian merambah ke
> personal seseorang dan menyakiti personalnya. ^_^
>
> Bila itu kita lakukan, lalu apa bedanya kita dengan
> anak-anak TK yang berdebat. ^_^ Sekali lagi maaf...
>
> salam,
> aris
>
>
>
>
> Kemajuan mustahil terjadi tanpa perubahan. Dan, mereka yang tak bisa
mengubah pemikirannya tak bisa mengubah apa pun. (George Bernard Shaw,
1856-1950)
> pustaka tani
> prohumasi
> nuraulia
>
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> We won't tell. Get more on shows you hate to love
> (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
> http://tv.yahoo.com/collections/265
>