Kemanakah kita harus mengadu? Siapakah yang dapat merubah mental bangsa kita? Manusia mungkin berusaha berbuat baik, tapi yang jahatlah yang kita lakukan. Rasanya tipis harapan untuk menantikan adanya perkembangan ke arah yang positip di Indonesia. Saya pikir tidaklah berlebihan jika keadaan ini dipertanyakan kepada kaum Islam yang mendominasi kursi-kursi jabatan di Indonesia, mulai dari lurah, camat, bupati, gubernur dan presiden serta masing-masing wakilnya, bahkan dikursi-kursi pejabat yg disebut sebagai wakil rakyat. Siapakah mereka yg bertugas menjaga keamanan rakyat dan yang menjalankan ataupun mengawasi Undang-undang Negara? Semua bidang ini dikuasai ataupun dinominasi oleh saudara-saudara yang beragama Islam.
Sayang ini bukan hanya karena 85% bangsa kita beragama Islam, tapi diperkuat oleh jalur KKN yang masih terus melaju dan menguat . Maka himbauan saya bagi setiap Intelektual muslim, bersikaplah fair dan satria. Berjuanglah demi kebaikan bersama. Berilah kesempatan bagi setiap orang menjalankan skillnya, tanpa mempermasalahkan agama orang tersebut, asal orang itu benar menjalankan tugasnya demi pembangunan bangsa. Pada saat yang bersamaan tindaklah mereka yg bekerja hanya demi keuntungan diri sendiri, tanpa mempertanggungjawabkan jabatan yg telah dibebankan kepadanya. Masih sangat banyak hal yang sangat mengenaskan di Negara ini. Masyarakat Indonesia berlomba-lomba untuk menjadi pegawai negri, kenapa? Sebab menjadi pegawai negeri berarti, ada jaminan terima gaji setiap bulan walaupun tidak kerja dan kalau kerja berarti bisa memeras rakyat yg sedang memerlukan jasanya alias ada lowongan untuk korupsi. Sementara menjadi pegawai swasta, hanya terima gaji sesuai dengan mutu dan kwalitas kerja, walau fasilitas jaminan keselamatan maupun kesehatan sipekerja sering tidak memadai. Ditambah lagi, karena pekerja swasta umumnya belum dibenahi dengan fasilitas-fasilitas jaminan dihari tua dll. Maka tidaklah suatu yg ganjil lagi bagi rakyat Indonesia untuk mempertuhankan para pegawai negeri ini. Minggu lalu misalnya, saya meminta salah seorang anggota keluarga saya untuk mengurus satu surat yg saya perlukan dari pihak pemerintah. Jawaban yang saya terima, "Sekarang sudah hari Kamis, besok hari Jumat. Biasanya pegawai di sana kalau hari jumat, olah raga, jadi kita harus tunggu sampai hari Senin" katanya. Nah ini dia, hari Jumat adalah hari olah raga, sholat jumat dan istirahat. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur. Kesimpulannya mereka "bekerja" 4 hari, tapi bisa makan 7 hari bukan? Inilah enaknya jadi pegawai negri di Indonesia. Untuk itu mereka sedia menogok berjuta-juta, asal jadi pegawai negri. Uang sogok itu dari mana? diutang dulu bukan? Maka tidak heran kalau mereka bisa "kerja empat hari, selain mikir biaya makan selama 7 hari plus biaya week end merayakan kesuksesan kerja seminggu, mereka juga harus berusaha cari pemasukan untuk membayar utang. Cukup pilu memang mengenang keadaan Indonesia. Saya masih punya banyak keponakan di sana. Satu ponakan saya sangat ganteng dan pintar. Sayang ayahnya meninggal ketika dia masih SMA. Dia tidak bisa masuk Universitas negri, kenapa? (Semua anda tau alasannya). Dia hanya bisa ambil kursus computer. Kegagahan dan keramahannyapun tdk begitu membantunya, tdk cukup untuk jadi selibritis dan tdk berani bertarung di kancah pramugara tanpa KKN. Akhirnya dia dapat kerja jadi tukang ketik di kantor polisi. Dia "bekerja" dari hari Senin-Sabtu, mulai jam 08 sampai jam tak tentu. Dia harus selalu stand by di depan komputer, kalau-kalau ada laporan yg harus dia ketik. Selama sang komandan belum pulang, entah dari mana atau karena urusan apa, dia tidak boleh pulang, sebab kadang pada malam hari masih ada yg harus dia ketik. Saya tanya si ponakan, gajimu berapa? Jawabnya: "tigaratus ribu tante." Nafas saya sesak, airmata saya menetes. Tiga ratus ribu rupiah sama dengan kurang dari tigapuluh euro sama dengan gaji dua jam mahasiswa yg membersihkan tangga-tangga apartemen di Jerman. Ponakan saya yang sudah mengeluarkan biaya sekian banyak untuk les komputer, kerja 6 hari seminggu, kadang sampai tengah malam, jangankan bisa beli baju kerja, cukup makan pun tidak. Saya bergurau, menghibur diri sendiri: Kapan kamu kawin? Jawabnya, mau kawin dengan siapa tante? Mau dikasih makan apa? Lalu kenapa kamu ngak cari kerja lain? Jawabnya: Siapa tahu ada pengangkatan pegawai, boss saya bisa mencalonkan saya? Sebuah pengharapan?????????????? Adakah solusi yang lebih baik? Budi Dharma wrote: > Pertama, subyek imel ini merupakan plesetan dari artikel di situs > KOMPAS yang aslinya berjudul : “Maia ngamuk, Dhani dilempar remote”. > Beberapa milis lalu meributkan hal ini dengan menyangkutpautkan dengan > masalah KDRT segala. Saya tidak mau memperlebar problem internal rumah > tangga ini karena arahnya malah bikin wartawan infotainment “girang” > karena dapat bahan gossip. > > Sudah lama rakyat menahan kesabaran untuk ngamuk atas musibah di > negeri ini yang silih berganti. Banjir, longsor, lumpur, sampai > kecelakaan transportasi hanya masuk media massa untuk bisa “diambil > hikmahnya” dan terus berulang. Ketika rakyat menuntut keadilan, > meminta bertemu para wakil parpol di parlemen untuk curhat soal > kemalangan yang menimpa mereka, eh malah menghindar dan sebagai > gantinya “diadu” dengan aparat keamanan. Kalau rakyat marah, apa yang > bisa dilakukan ? Atau dalam kasus ini apa yang musti dilempar ke > pejabat negara tersebut ? Piring, botol, telur busuk, tomat, lumpur, … > > Btw, kadang saya prihatin ( atau mungkin lebih tepatnya : malu ! ) > kalau sampai presiden sendiri yang turun tangan melakukan sidak lalu > menemukan kekacauan birokrasi maupun bobroknya pelayanan pemerintah > daerah terhadap rakyat. Maksudnya prihatin ( sekaligus malu ) adalah > jadi apa kerjanya mereka para aparat di daerah itu ? Apa “tugasnya” > pak camat, pak bupati, pak gubernur, dan anggota DPR(D) itu : membuat > aturan agar pajak pendapatan daerah dikerek setinggi mungkin biar > mereka bisa nikmatin kenaikan gaji, tunjangan, insentif, dan tur > jalan2 yang “dilegalkan” via APBD ? > > Untuk kaum Tionghoa, masih saja kalau ngurus perijinan ini itu masih > dimintai surat SBKRI. Untuk kaum lemah, ngurusin surat miskin aza > berbelit-belit bahkan sudah menjadi rahasia umum musti ada uang > sogokan dulu. Beginilah kalau pengabdian untuk pelayanan kepada public > dianggap sebagai pekerjaan atau obyekan mengeruk keuntungan kantong > pribadi. Tidak mau berkorban, tetapi sering mengorbankan rakyat. > > > Budi - Jkt > > > ------------------------------------------------------------------------ > Sekarang dengan penyimpanan 1GB > http://id.mail.yahoo.com/ > <http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.mail.yahoo.com/> >
