http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/05/sh03.html
Menlu Hassan Wirajudha: Waspada, Teroris Makin Canggih Jakarta - Menteri Luar Negeri Hassan Wirajudha mengingatkan berbagai negara di dunia agar meningkatkan kerjasama untuk memberantas terorisme karena para teroris juga meningkatkan kemampuan mereka. "Sementara kita meningkatkan kerjasama dan memperluas kemampuan untuk memerangi terorisme, teroris juga meningkatkan kemampuan mereka," kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, ketika membuka Konferensi Sub-regional Tingkat Menteri soal Kontra Terorisme di Jakarta, Senin (5/3). Sementara itu, Menlu Australia Alexander Downer pada kesempatan yang sama juga menegaskan, meski telah banyak teroris ditangkap dan jaringannya dikacaukan mereka terus saja membuat bom dan merekrut anggota-anggota baru. "Dan bahkan saat kemampuan kita untuk menghentikan mereka meningkat, metode dan kemampuan mereka makin canggih," kata mengakui. Dalam pidatonya, Downer juga menekankan pentingnya pencegahan ideologi terorisme. "Teroris terus menyebarkan ideologi mereka dan menarik anggota baru tidak hanya regional tapi juga global," kata Downer. "Mereka memanipulasi dan mengeksploitasi konflik global, kesulitan ekonomi dan masalah sosial untuk mengumpulkan dukungan dan membenarkan tindakan mereka. "Jika hal ini dibiarkan, teroris akan menyerang siapa saja yang tidak mengakui atau tidak menjadi bagian dari ideologi ekstrim mereka. Di kawasan kita kelompok teroris mengaku mewakili Islam, namun mereka memelintirnya dan membuat interpretasi yang esktrim soal Islam yang mengancam muslim dan non muslim," kata Downer. Pada kesempatan terpisah, Ansyaad Mbay, Kepala Bidang Koordinasi Anti-Terorisme Menkopolhukam menyatakan, saat ini teroris masih menggunakan cara-cara penyebaran ideologi Islam ekstrim dan radikal karena itu negara menggiatkan program yang disebut deradikalisme. "Dalam beberapa kasus, teroris menggunakan beberapa ayat dalam Al-Quran untuk menyebarkan ideologinya dan merekrut anggota baru," kata Mbay. Karena itu Pemerintah bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama berupaya mengembalikan interpretasi ayat-ayat yang digunakan para teroris tersebut ke makna Islam yang sesungguhnya. Konferensi kontra terorisme yang akan berlangsung hingga Selasa (6/3) dihadiri oleh lima menteri luar negeri dan satu menteri senior. Keenam Negara yang menghadiri Australia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapuran dan Indonesia sendiri. Selain Menlu, konferensi tersebut juga dihadiri oleh kepala kepolisian dan pejabat penting yang terkait dengan isu teroris. Teror SMS Meningkat Dalam kasus berbeda, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mengingatkan warga untuk waspada menyusul meningkatnya teror ancaman bom di Ibu Kota belakangan ini. Pernyataan itu disampaikan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Kombes I Ketut Untung Yoga Ana ketika dihubungi SH, Senin (5/3) pagi ini. "Kami terus menempuh berbagai upaya untuk mengantisipasi teror ancaman bom itu. Namun warga juga harus waspada karena bisa jadi hal itu bukan sekadar ancaman," kata Ketut. Sejauh ini, polisi bertindak dengan menyisir di lokasi-lokasi yang diancam. "Ini menjadi tugas tambahan kita," ujarnya. Ditanya perkembangan penyelidikan terhadap motif yang dilakukan sejumlah peneror yang masuk melalui SMS Polisi 1717, Ketut hanya mengatakan polisi juga memanfaatkan teknologi khusus untuk melacak para pelaku. "Pelaku teror ini menggunakan teknologi, maka untuk menyingkap dan melacak pelaku kasus ini kita juga menggunakan teknologi khusus," ujarnya. Sementara itu, Peneliti Lembaga Kemandirian Nasional yang juga pengamat intelijen, Wawan Purwanto kepada SH mengatakan, warga Jakarta sebenarnya sulit diguncang oleh teror bom. Hal ini dikarenakan seringnya kejadian teror bom beberapa waktu lalu, masyarakatnya mulai terlatih dan tidak takut lagi. Menanggulangi permasalahan ini, dia mengusulkan sudah saatnya pemerintah memperketat perizinan maupun distribusi bahan peledak. Catatan SH, dalam seminggu ini ancaman bom kembali marak di Ibu Kota Jakarta di antaranya melanda Gedung Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (19/2) siang. Akibatnya, ribuan karyawan bank sentral itu berhamburan keluar. Pelakunya, ditangkap polisi, 24 Februari 2007, bernama Abdul Mudji bin Lamin (27) penduduk Desa Kemiri, Bojonegoro, Jawa Timur yang tengah mencari pekerjaan di Jakarta. Ancaman bom juga melanda Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat. Puluhan pasien pun terpaksa dievakuasi. Stasiun televisi swasta, SCTV juga tak lepas dari ancaman serupa pada Jumat (2/3). Ancaman peledakan bom di gedung SCTV yang berada di jalan Gatot Subroto, Jakarta itu dikirim melalui traffic management center (TMC) Polri 1717 pada pukul 18.12 WIB. Sehari sebelumnya ancaman bom juga menghantui gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat serta Tugu Monumen Nasional (Monas). Terakhir, Minggu (4/3) siang ancaman bom melanda Mall Artha Gading Jakarta Utara. Ancaman bom yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal itu dikirim melalui layanan pesan singkat atau short message service (SMS). (romauli/suwarso/natalia santi/nor)
