Demi kemanusiaan, dan demi rakyat Indonesia, pemerintah harus tegas melawan 
terorisme. Bukan demi jabatan sebagai punggawa AS, karena "perang melawan 
terorisme" yang digelar oleh AS telah disalahgunakan untuk upaya memperkuat 
hegemoninya di dunia. Terutama demi minyak. Korbannya ratusan ribu manusia di 
Irak. Disini letak beda substansialnya. SBY-MJK juga jangan lupa bahwa 
hakikatnya
  ada pada penyelesaian damai dan penuh keadilan di Palestina. Bukan hanya 
hura-hura dibawah tongkat komando Bush Jr dan hanya secara munafik membela 
perjuangan rakyat Palestina.
  

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/05/sh03.html
   
    Menlu Hassan Wirajudha: 
Waspada, Teroris Makin Canggih
  

Jakarta – Menteri Luar Negeri Hassan Wirajudha mengingatkan berbagai negara di 
dunia agar meningkatkan kerjasama untuk memberantas terorisme karena para 
teroris juga meningkatkan kemampuan mereka. “Sementara kita meningkatkan 
kerjasama dan memperluas kemampuan untuk memerangi terorisme, teroris juga 
meningkatkan kemampuan mereka,” kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, 
ketika membuka Konferensi Sub-regional Tingkat Menteri soal Kontra Terorisme di 
Jakarta, Senin (5/3). 

  Sementara itu, Menlu Australia Alexander Downer pada kesempatan yang sama 
juga menegaskan, meski telah banyak teroris ditangkap dan jaringannya 
dikacaukan mereka terus saja membuat bom dan merekrut anggota-anggota baru. 
”Dan bahkan saat kemampuan kita untuk menghentikan mereka meningkat, metode dan 
kemampuan mereka makin canggih,” kata mengakui.

  Dalam pidatonya, Downer juga menekankan pentingnya pencegahan ideologi 
terorisme. “Teroris terus menyebarkan ideologi mereka dan menarik anggota baru 
tidak hanya regional tapi juga global,” kata Downer. “Mereka memanipulasi dan 
mengeksploitasi konflik global, kesulitan ekonomi dan masalah sosial untuk 
mengumpulkan dukungan dan membenarkan tindakan mereka.
“Jika hal ini dibiarkan, teroris akan menyerang siapa saja yang tidak mengakui 
atau tidak menjadi bagian dari ideologi ekstrim mereka. Di kawasan kita 
kelompok teroris mengaku mewakili Islam, namun mereka memelintirnya dan membuat 
interpretasi yang esktrim soal Islam yang mengancam muslim dan non muslim,” 
kata Downer. 
  
Pada kesempatan terpisah, Ansyaad Mbay, Kepala Bidang Koordinasi Anti-Terorisme 
Menkopolhukam menyatakan, saat ini teroris masih menggunakan cara-cara 
penyebaran ideologi Islam ekstrim dan radikal karena itu negara menggiatkan 
program yang disebut deradikalisme. 

“Dalam beberapa kasus, teroris menggunakan beberapa ayat dalam Al-Quran untuk 
menyebarkan ideologinya dan merekrut anggota baru,” kata Mbay. Karena itu 
Pemerintah bekerjasama dengan tokoh-tokoh agama berupaya mengembalikan 
interpretasi ayat-ayat yang digunakan para teroris tersebut ke makna Islam yang 
sesungguhnya. 
Konferensi kontra terorisme yang akan berlangsung hingga Selasa (6/3) dihadiri 
oleh lima menteri luar negeri dan satu menteri senior. Keenam Negara yang 
menghadiri Australia, Malaysia, Thailand, Filipina, Singapuran dan Indonesia 
sendiri. Selain Menlu, konferensi tersebut juga dihadiri oleh kepala kepolisian 
dan pejabat penting yang terkait dengan isu teroris. 
Teror SMS Meningkat

  Dalam kasus berbeda, Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mengingatkan warga 
untuk waspada menyusul meningkatnya teror ancaman bom di Ibu Kota belakangan 
ini. Pernyataan itu disampaikan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polda Metro 
Jaya Kombes I Ketut Untung Yoga Ana ketika dihubungi SH, Senin (5/3) pagi ini. 
“Kami terus menempuh berbagai upaya untuk mengantisipasi teror ancaman bom itu. 
Namun warga juga harus waspada karena bisa jadi hal itu bukan sekadar ancaman,” 
kata Ketut.
Sejauh ini, polisi bertindak dengan menyisir di lokasi-lokasi yang diancam. 
“Ini menjadi tugas tambahan kita,” ujarnya.

  Ditanya perkembangan penyelidikan terhadap motif yang dilakukan sejumlah 
peneror yang masuk melalui SMS Polisi 1717, Ketut hanya mengatakan polisi juga 
memanfaatkan teknologi khusus untuk melacak para pelaku. “Pelaku teror ini 
menggunakan teknologi, maka untuk menyingkap dan melacak pelaku kasus ini kita 
juga menggunakan teknologi khusus,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Lembaga Kemandirian Nasional yang juga pengamat 
intelijen, Wawan Purwanto kepada SH mengatakan, warga Jakarta sebenarnya sulit 
diguncang oleh teror bom. Hal ini dikarenakan seringnya kejadian teror bom 
beberapa waktu lalu, masyarakatnya mulai terlatih dan tidak takut lagi.

  Menanggulangi permasalahan ini, dia mengusulkan sudah saatnya pemerintah 
memperketat perizinan maupun distribusi bahan peledak.

  Catatan SH, dalam seminggu ini ancaman bom kembali marak di Ibu Kota Jakarta 
di antaranya melanda Gedung Bank Indonesia di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, 
Senin (19/2) siang. Akibatnya, ribuan karyawan bank sentral itu berhamburan 
keluar. Pelakunya, ditangkap polisi, 24 Februari 2007, bernama Abdul Mudji bin 
Lamin (27) penduduk Desa Kemiri, Bojonegoro, Jawa Timur yang tengah mencari 
pekerjaan di Jakarta. 

  Ancaman bom juga melanda Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta 
Pusat. Puluhan pasien pun terpaksa dievakuasi. Stasiun televisi swasta, SCTV 
juga tak lepas dari ancaman serupa pada Jumat (2/3). Ancaman peledakan bom di 
gedung SCTV yang berada di jalan Gatot Subroto, Jakarta itu dikirim melalui 
traffic management center (TMC) Polri 1717 pada pukul 18.12 WIB. 
  
Sehari sebelumnya ancaman bom juga menghantui gedung Kedutaan Besar Amerika 
Serikat di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat serta Tugu Monumen 
Nasional (Monas). Terakhir, Minggu (4/3) siang ancaman bom melanda Mall Artha 
Gading Jakarta Utara. Ancaman bom yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal 
itu dikirim melalui layanan pesan singkat atau short message service (SMS). 
(romauli/suwarso/natalia santi/nor) 
 


  

         

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger  NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail 

Kirim email ke