Lesbian/ homosexsual, bisexual sudah bisa menikmati kebebasan nya hari ini, masyarakat di negara2 yg sudah upscale hal ini bukan lagi hal yg tabu dan memalukan, wanita sangat mudah utk jatuh cinta pada wanita lain walau pun dia bukan lesbian, kelembutan kasih sayang, perhatian serta perlindungan yg dirasakan wanita yg kesepian atau jauh dinegri org dari wanita lain itu sudah cukup utk menjadikan pasangan seumur hidupnya . Apapun pilihan mereka semoga mereka bisa hidup bahagia, sayang nya disini mereka tidak bisa hidup serumah, mudah2an mereka ber cita2 suatu hari utk bisa pulang dan berumah tangga seperti layaknya sepasang manusia yg saling mencintai. salam ' omie
HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://www.gatra.com/artikel.php?id=102709 Banyak TKW di Hong Kong Nikah Sesama Jenis Surabaya, 6 Maret 2007 06:58 Sejumlah tenaga kerja wanita asal Indonesia (TKW) yang bekerja di Hong Kong dalam setahun terakhir mulai banyak menikah dengan sesama jenis (lesbian). Tania Roos, salah seorang TKW asal Malang, Senin (5/3), menjelaskan perkawinan lesbian mulai marak setahun terakhir dan awalnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. "Bahkan memasuki acara mereka ada tanda khusus, apakah mereka kalangan sendiri atau orang lain. Saya bisa masuk ke perkawinan mereka dan mendapatkan fotonya karena saya berpura-pura menjadi pasangan lesbian," katanya. Namun, lanjut Tania, saat ini perkawinan lesbian itu mulai dilakukan secara terang-terangan. Pada 25 Pebruari 2007 lalu dia mendapatkan undangan sebagaimana layaknya undangan pernikahan di Indonesia. Acara itu akan dilaksanakan pada 11 Maret mendatang. Ia memperkirakan, mereka melakukan pernikahan lesbian secara tertutup karena takut diketahui oleh keluarganya di Indonesia. "Menurut orang yang menjadi `penghulu`, sudah ada 12 kali pernikahan sesama wanita Indonesia. Itu baru satu penghulu dan kemungkinan ada penghulu lain. Yang menjadi penghulu adalah sesama TKW yang orangnya tomboi," katanya. Mengenai proses pernikahan yang terang-terangan, mereka biasanya mengundang temannya menghadiri pernikahan dengan cara ditelepon dan baru kali ini dirinya mendapatkan undangan tertulis. "Mengenai fenomena ini, ada yang cuek, ada yang prihatin dan ada yang menolak tetapi tak bisa berbuat apa-apa karena itu hak azazi mereka," kata TKW yang juga penulis cerita pendek dan puisi itu. Ia menceritakan, meskipun pasangan itu resmi menikah, namun mereka tidak bisa hidup satu rumah, melainkan hidup di rumah majikannya masing-masing. "Biasanya mereka menyewa hotel untuk berkumpul dihari-hari libur, lalu kalau waktunya jam pulang libur, ya berpisah kembali," kata Tania. Menurut dia, diperkirakan mereka melakukan pernikahan sejenis, selain karena jarangnya teman laki-laki asal Indonesia di Hong Kong, kemungkinan juga disebabkan karena tersakiti laki-laki, baik suami maupun pacarnya. [EL, Ant]
