> > -------- Original Message --------
> Subject:      Anda mendapatkan kiriman berita dari situs
> Harian Global - 
> Koran Medan yang dewasa, eksklusif dan beredar luas
> Date:         Mon, 5 Mar 2007 14:02:50 +0700
> From:         Redaksi Web <[EMAIL PROTECTED]>
> To:   [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> 
> 
>       Sekjen FSPI Henry Saragih: Menyuarakan
> Pembaruan Agraria
> 
> 
> Sejak pagi buta para penyadap karet sudah
> mengerumuni belantara 
> perkebunan. Namun sekeras apa pun mereka bekerja,
> kemiskinan tak pernah 
> meninggalkan hari-harinya. Hidup dalam gubuk dan
> makan ala kadarnya.
> 
> Begitulah kehidupan buruh perkebunan di Desa Bangun
> Pur-ba, Deliserdang 
> yang lekat dalam ingatan Henry Saragih (42 tahun).
> 
> Henry lahir di Petumbukan, Sumatera Utara pada 11
> April 1964. Masa 
> kecilnya banyak dihabiskan di perkebunan karet
> Bangun Purba. Ayahnya 
> bekerja sebagai kerani pada perusahaan perkebunan
> karet itu.
> 
> Henry paham betul kerasnya kehidupan para buruh
> tani. Perbedaan besar 
> kesejahteraan antara kaum buruh tani dengan para
> pejabat perkebunan 
> membuatnya selalu dipenuhi berbagai pertanyaan
> mengapa itu bisa terjadi? 
> "Kesenjangan ekonomi seperti itu memberikan
> inspirasi kepada saya untuk 
> memperjuangkan hak-hak petani agar bisa hidup dalam
> standar yang layak," 
> kenang Henry, yang saat ini menjabat sebagai
> Sekretaris Jenderal 
> Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI).
> 
> Ia menjalani kuliah di Jurusan Administrasi Negara,
> Fisip Universitas 
> Sumatera Utara (USU) pada 1983. Di masa-masa itu, ia
> membentuk kelompok 
> diskusi ilmu-ilmu sosial bersama rekan-rekan
> seangkatannya. Fokus 
> disku-sinya adalah keadaan sosial eko-nomi petani
> dan penduduk pede-saan.
> 
> Pada 1985, bersama dengan beberapa rekannya, Henry
> mendirikan Yayasan 
> Sinar Tani Indonesia (Sintesa). Berbekal lembaga
> tersebut, kegiatannya 
> lebih meluas lagi. Hingga tahun 1989, lembaganya
> dipercaya oleh lembaga 
> donor untuk membangun pembangkit listrik micro-hidro
> di Desa Lobu Roppa, 
> Kabupaten Asahan. Pembangunan tersebut dipilih
> mengingat Desa Lobu Roppa 
> belum mendapatkan pasokan listrik dari pemerintah.
> 
> Namun upaya pembangunan seperti itu dirasakan Henry
> kurang efektif. 
> Sejak itu, strategi perjuangannya diubah. Ia mulai
> berpikir bahwa petani 
> harus bangkit dan berjuang sendiri untuk mendapatkan
> hak-haknya. 
> Mustahil menunggu orang lain untuk menolong kaum
> tani dari 
> keterpurukannya. Kalau ada pun, hanya parsial dan
> pasti hasilnya tidak 
> maksimal.
> 
> Kemudian ia mulai mengonsolidasikan petani-petani
> yang pernah didampingi 
> Yayasan Sintesa. Para petani tersebut diajaknya
> untuk mendirikan 
> organisasi sendiri. Maka, pada tahun 1994
> terbentuklah Serikat Petani 
> Sumatera Utara (SPSU) di mana ia menjadi salah satu
> anggotanya.
> 
> Bersama SPSU, perjuangan yang diusungnya semakin
> mendapatkan gaung. 
> Tanpa tedeng aling-aling ia mulai menyuarakan
> "Pembaruan Agraria" dan 
> menuntut pemerintah untuk mendistribusikan lahan
> kepada petani.
> 
> "Pemerintah harus membagikan tanah kepada petani
> agar para petani bisa 
> berproduksi maksimal dan tidak hanya menjadi buruh
> di atas tanah yang 
> digarapnya sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan
> dengan Pembaruan 
> Agraria," tegas ayah dua anak ini.
> 
> Di era Reformasi, kondisi petani tak lebih baik
> dibanding masa Orde 
> Baru. "Di masa lalu, Soeharto adalah musuh bersama,
> tapi sekarang 
> kekuatan neoliberal menyebar ke seluruh aspek
> kehidupan," papar suami 
> Mazdalifah, dosen Ilmu Komunikasi Fisip USU ini.
> 
> Dalam perjuangannya melawan kekuatan neoliberalisme,
> mau tak mau ia 
> harus menggalang solidaritas global. Sejak itu Henry
> mulai berkenalan 
> dengan organisasi gerakan petani internasional La
> Via Campesina. Pada 
> tahun 2000, Kongres ke-3 La Via Campesina di
> Bangalore, India, 
> menunjuknya sebagai anggota International
> Coordinating Comitte (ICC) 
> regional Asia Timur dan Asia Tenggara periode
> 2000-2004.
> 
> Kemudian pada 2004, dalam Kongers IV La Via
> Campesina di Brazil, ia 
> dipercaya menjadi Koordinator Umum La Via Campesina
> periode 2004-2008, 
> sekaligus memindahkan sekretariat La Via Campesina
> dari Tegucigalpa, 
> Honduras ke Jakarta, Indonesia.
> 
> Henry percaya, satu-satunya jalan untuk
> menyejahterakan petani adalah 
> dengan memajukan sektor pertanian. "Caranya mudah.
> Berikan tanah, dan 
> kemudahan-kemudahan seperti subsidi, akses teknologi
> dan modal," ujarnya.
> 
> Tri Yuwono >> Global | Medan
> 
> 
> http://www.harian-global.com/news.php?extend.11824
> 
> 
> Harian Global - Koran Medan yang dewasa, eksklusif
> dan beredar luas 
> <http://www.harian-global.com/>
> 



 
____________________________________________________________________________________
Cheap talk?
Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
http://voice.yahoo.com

Kirim email ke