Selasa, 06 Mar 2007, JAWA POS
Itu Hasil Kerja Kolektif, Bukan Hanya Pemerintah 
  Soal Klaim Sukses SBY 
JAKARTA - Klaim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentang keberhasilannya 
menyelesaikan sebelas persoalan warisan pemerintah masa lalu mendapat respons 
beragam dari Senayan.

Mantan Ketua Pansus RUU Pemerintahan Aceh Ferry Mursyidan Baldan mengatakan 
bahwa kinerja pemerintah di Aceh memang menunjukkan hasil yang signifikan. 
Meski demikian, Ferry menilai bahwa keberhasilan itu merupakan hasil kerja 
kolektif, yang tidak semata-mata hasil kerja pemerintah. "Ini sulit diklaim 
secara sepihak karena ini hasil kerja kolektif pemerintah yang juga di-back up 
parlemen dan tentu juga melibatkan banyak pihak lain," ujar mantan ketua Pansus 
Penyelenggara Pemilu itu kemarin. 

Anggota Komisi II DPR itu juga menyayangkan pernyataan presiden yang seakan 
membuat garis demarkasi perjalanan pemerintahan bangsa ini. "Itu semua 
persoalan bangsa bersama, tidak perlu merasa terwarisi," tuturnya. Dengan 
begitu, semua pihak bisa tersadarkan untuk menyelesaikan setiap persoalan 
bangsa yang ada di depan mata, tanpa harus menyalahkan perjalanan sejarah masa 
lalu.

Ferry menyarankan kepada presiden supaya titik acuan yang dijadikan 
standardisasi keberhasilan kerja pemerintahannya hendaknya disesuaikan dengan 
prioritas program yang pernah dijanjikan saat kampanye. "Setelah mendaftar 
sudah atau belum terlaksana janji-janji kampanye dahulu, baru bisa kita bicara 
tentang keberhasilan," katanya. 

Seperti diberitakan, Presiden SBY saat berpidato di hadapan 1.036 legislator 
Partai Demokrat di Hotel Sahid Minggu (04 Maret) mengatakan bahwa 
pemerintahannya telah menyelesaikan sebelas masalah warisan pemerintahan masa 
lalu. Kesebelas persoalan itu, antara lain, konflik Aceh, Papua, tudingan 
pelanggaran HAM Timor Leste, APBN yang terlalu banyak subsidi, embargo militer 
Amerika Serikat dan Uni Eropa, utang IMF, Dipasena, ancaman arbitrase Cemex, 
status quo Karaha Bodas, ExxonMobile-Pertamina, dan Texmaco.

Terkait sejumlah klaim tuntasnya masalah warisan masa lalu di sektor ekonomi, 
pengamat ekonomi dari INDEF Iman Sugama tidak menyangkal semua pencapaian yang 
disampaikan SBY itu. "Tapi, apa gunanya itu semua bila ternyata tidak ada 
manfaat yang dirasakan rakyat," katanya. 

Dia lantas mencontohkan, naiknya harga-harga, semakin tingginya angka 
kemiskinan, dan pengangguran. Menurut dia, klaim SBY tentang tuntasnya utang 
kepada IMF juga sangat tidak tepat. Sebab, lunasnya utang itu sepenuhnya 
merupakan prestasi Bank Indonesia. "Uang yang kita utang dari IMF itu memang 
dari dulu nggak pernah dipakai alias ngendon di BI," ujarnya.

Iman menegaskan bahwa utang kepada IMF itulah yang disebut dengan standby loan. 
Artinya, kita memperoleh utang, tapi nggak bisa menggunakan kecuali cadangan 
devisa negara telah habis. "Jadi, dikembalikan dari dulu juga bisa, asal ada 
kemauan politik. Kalau SBY bergerak kan karena ada tekanan politik dari 
LSM-LSM," tandasnya.

Mengenai APBN yang diklaim telah sehat juga turut dipermasalahkan. Iman 
menilai, APBN masih jauh dari ideal. Di sana-sini terjadi fenomena APBN bodong. 
"Banyak terjadi penggelembungan dan hal-hal yang tidak perlu pun diada-adakan. 
Justru APBN kita itu tidak efisien," katanya.(aku/pri)





 
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.

Kirim email ke