Sebagai dwi tunggal, SBY dan J Kalla bersama telah menebar 
janji, bersama telah gagal total, bersama kini tengah menebar pesona dan 
bersama, atau sendiri-sendiri, sangat berupaya agar terpilih kembali di 2009. 
Bersama beliau-beliau ini Indonesia akan makin buyar!
   
   
   Bencana dan Tebar Pesona
Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren 
Tebuireng, Jombang 


  Kamis, 8 Maret 2007 SUARAKARYA Online
Dalam waktu dua hari, kembali terjadi bencana. Pertama gempa bumi di Sumatera 
Barat. Kedua, kecelakaan pesawat Garuda Indonesia di Yogyakarta.     
   Mau tidak mau banyak orang kembali bertanya, mengapa terjadi begitu banyak 
bencana dan kecelakaan pada masa pemerintahan SBY-JK? Apakah itu karena 
kepemimpinan SBY-JK? Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menghindari atau 
mengurangi bencana?   
  
   Bencana ada yang terjadi karena kesalahan kita, dan ada yang murni bencana 
di luar kekuasaan dan kendali kita. Gempa bumi adalah bencana yang terjadi 
karena gejala alam yang tidak dapat kita cegah atau kita kurangi. Gejala alam 
itu sesuai dengan ciptaan Allah, terjadi sesuai dengan hukum alam atau 
sunnatullah.   
  
   Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi dampak dengan membuat 
ketentuan di dalam perencanaan bangunan untuk melindungi bangunan dan 
penggunaannya atas dampaknya. Selain itu adalah melakukan pertolongan 
pascagempa.   
  
   Banjir merupakan bencana yang umumnya dapat kita kurangi dengan memerangi 
pembalakan liar, mengendalikan daerah aliran sungai (DAS), dan merencanakan 
kota sesuai ketentuan.   
  
   Pembalakan liar telah terjadi sejak lama. Presiden Megawati pernah 
mengatakan pihaknya tahu betul pembalakan liar yang terjadi, tetapi tidak bisa 
berbuat apa-apa. Menurut Menhut, pembalakan liar kini berkurang secara berarti. 
Penanaman kembali digalakkan dengan melibatkan masyarakat.   
  
   Kecelakaan kapal terbang dan kapal laut banyak terjadi karena kecerobohan 
pilot/awak kapal. Kenyataan menunjukkan adanya permainan pejabat dengan awak 
dan pimpinan maskapai penerbangan. Ketidakcermatan dan ketidakdisiplinan sudah 
terjadi lama, dan makin parah. Presiden harus memberi perhatian terhadap 
masalah birokrasi yang seharusnya bisa mengurangi potensi dan dampak bencana 
akibat kesalahan manusia.   
  
   Pak Jusuf Kalla telah menyarankan kepada Presiden supaya tidak mengatakan, 
"Saya akan melakukan...", tetapi mengatakan, "Saya telah ..." Dalam konteks 
bencana, Presiden harus mengatakan, "Saya telah memperbaiki kinerja birokrasi 
untuk bisa mengurangi potensi bencana akibat kesalahan pejabat."   
  
   Kalau Presiden betul-betul sudah melakukan perbaikan birokrasi, tidak 
sekadar pidato atau wacana, Presiden tidak perlu menebar pesona. Tebar kinerja 
sudah berarti tebar pesona. Tentu, tebar kinerja itu harus betul-betul terjadi 
dan diakui oleh kebanyakan warga bangsa.   
  
   Presiden tidak perlu lagi sibuk memikirkan citra. Sebelas keberhasilan yang 
disampaikan Presiden minggu lalu masih diragukan oleh banyak pihak yang 
mengamati. Bagi rakyat di lapisan bawah, sebelas hal tersebut tertutupi antara 
lain oleh harga beras yang tertinggi sepanjang sejarah Republik tercinta 
ini.*** 

    
                
---------------------------------
Yahoo! Messenger  NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail 

Kirim email ke