Dear Henny dan rekan-rekan milis mediacare, ytk., Konflik berkepanjangan dan turun-temurun yang terjadi antara relasi kaum pria dan perempuan dalam struktur patriarkal, bahkan juga matriarkal, terletak pada persoalan paradigma "hakekat manusia yang utuh dan sejati". "Hakekat Kesejatian Manusia" sudah dikonstruksi oleh budaya setempat sampai berurat akar dan mendarah daging.
"Kesejatian manusia" bukan terletak pada "pria" atau " wanita" melainkan pada panggilan dasar hidupnya, yakni "menjadi dirinya sendiri". "Menjadi dirinya sendiri" itu berarti satu sama lain, pria dan wanita mesti memiliki "akses" atau kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi aktual konkret semaksimal mungkin. Bagaiman "potensi" diri itu menjadi "aktual" kalau tidak ada "akses" yang jelas dan nyata? Siapa pemberi "akses" itu? Dialah yang memiliki kuasa untuk menentukan kebijakan. Penentu kebijakan dalam tradisi patriarkal, adalah "pria, sebagai suami dan kepala rumah tangga", sementara dalam tradisi matriarkal , penentu kebijakan adalah "wanita" sebagai ibu rumah tangga". Maka "kuasa' itu bisa memberikan akses orang untuk berpendapat, memutuskan sendiri, namun juga cepat menjadi "arogan" yang ampuh untuk menutup mulut sesama. Itulah sebuah proses konstruksi tradisi yang bisa berlangsung dalam keseharian kita. "Konstruksi tradisi" itu, dapat kita lihat dalam keluarga, misalnya soal urusan pekerjaan rumah tangga! "Berapa pria yang mau membuatkan teh buat isterinya?" Ternyata, isteri jauuh lebih sering membuatkan kopi buat suaminya." Bagitu pula, masih banyak pria yang tidak mau memasak dan mengurusi dapur. Dianggap pekerjaan dapur dsb itu "rendahan" dan tidak berarti. Tapi nyatanya kalau tidak ada yang masak dan mengurusi pekerjaan dapur, semua persiapan ke kantor dari kacau balau. Namun sebaliknya sekarang juga banyak wanita yang menghindari pekerjaan rumah tangga, karena malu disamakan dengan PRT. Jadi inti nilai "mengurusi rumah tangga: memasak, mencuci dst" kurang dipahami. Padahal nilai mendasar dari pekerjaan di rumah adalah "memelihara kehidupan supaya tetap berlangsung!!'. Siapapun entah pria atau wanita diberi kepercayaan untuk "memelihara hidup satu dengan yang lain, dan anak-anaknya!' Kalau "pemeliharaan hidup" itu sudah menjadi nyata dalam hidup keluarga, rasanya, saya tidak kuatir bahwa wanita akan dilecehkan...Apa yang terjadi sekarang? Banyak orang menghindar pekerjaan di rumah....masalahnya bukan "mengerjakan langsung", tapi "tanggung jawab" akan tersedianya makan-minum, pakaian, keramahtamahan....itu juga kerap diserahkan begitu saja kepada PRT...Padahal kalau kita mau tekun untuk belajar mengurusi pekerjaan rutin dan membosankan di seputar dapur dan rumah tangga, di situlah kita dapat belajar untuk "kehilangan pujian", kehilangan rasa nikmat, bahkan kadang kehilangan "harga diri"...Dengan pengalaman kehilangan itu, orang makin tergerak untuk bersama terlibat dalam kesulitan hidup sesamanya! Rasanya latihan untuk "mengalami kehilangan kenikmatan, harga diri, pujian" dalam rumah tangga, bisa menjadi sarana untuk meningkatkan "kesejajaran pria dan wanita". Semoga "Kerajaan Mimpi" itu bukan "utopia" melainkan sebuah "Mimpi yang terjadi sungguh"...I have a dream....A dream come true' salam hangat, bslametlasmunadi ____________________________________________________________________________________ No need to miss a message. Get email on-the-go with Yahoo! Mail for Mobile. Get started. http://mobile.yahoo.com/mail
