Idakhouw, wrote:
Tidak perlu kan sampai orang2 terdekat kita jadi korban dulu untuk
belajar memilih ungkapan2 yang menghibur? yang tidak potensil
menyakiti orang2 yg tertimpa kesusahan? 

Krisnawan: 
1. Fyi, rumah orang tua dan dua keluarga kakak saya di Bantul
rata dengan tanah, semua juga mengalami luka-luka, saat gempa bumi melanda 
Jogja.

Antara 'pengiburan' dan 'penyebab/motif kejadiannya' adalah 2 hal yg beda.

2. 'Murka Tuhan' dalam tulisan saya-> Konteksnya adalah hasil diskusi 
berdua saya dengan Bp Njoo tentang apa yang tertulis di Roma 12 ayat 19 
'....berilah tempat kepada murka Allah', sebab pembalasan itu adalah hakKu 
Silahkan baca ayat ini selengkapnya. 

baca juga tanggapan Pak Njoo disurat pertama dia kepada saya 
(ingat, ini masih di ranah privat, dan belum menyangkut ke korban 
bencana di tanah air--> belum ke public). 
Bila mau ke Public tentu bahasa dan kalimat saya 
akan berbeda (man papan...istilah inggrisnya, he he he)

-----------------

Ny. Muslim binti Muskitawati, wrote:
Yang tidak tahu etika itu sebenarnya anda sendiri, karena pada
dasarnya kalo anda tidak mengenal seseorang kemudian mengirimi email
yang berisi hal2 yang anda anggap sangat sensitif maka anda itu tidak
tahu aturan, tidak tahu adat, mengganggu dan memprovokasi orang lain
yang anda kirimkan email anda. Juga anda tidak berjiwa sportif untuk
berani terbuka mengirimkan pendapat anda yang sensitif tadi secara
langsung dihadapkan kepada publik untuk mendapatkan tanggapan dari
orang banyak.

Krisnawan:
1. Niat baik bersilahturahmi Pak Njoo secara privat, 
bagi saya wajib saya respon secara privat. 
Bedanya, saya memilih privat anda memilih lempar ke publik
Ini masalah beda pilihan, bukan persoalan pengecut-pemberani, ha ha ha

2. Ada konten yang sensitif bila dilempar ke public, 
ada yang menjadi tidak sensitif bila dikonsumsi berdua.

apa materi tentang tingkat sexualitas suami Ibu,
tetap menjadi materi yang tidak sensitif, bagi orang lain atau minimal bg suami 
ibu, 
bila anda porting ke milis public karena anda penganut aliran public, ha ha ha?

3. Sikap tidak sportif? Ini masalah mind set anda.
Bagi saya, tidak ada gunanya mengungkap sesuatu hal yang justru akan lebih 
banyak mudharatnya dari pada manfaatnya bagi banyak orang (public). 
Apa nama sikap seperti ini........? 


Sudahlah. Mari kita buka lembaran baru. Lembaran yang lebih membangun dan 
mencerdaskan. Itu niat saya dari semula bergabung di milist public mediacare 
ini minggu lalu. 


Salam,

Krisnawan Putra


Kirim email ke