http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-787%7CX
Senin, 12 Maret 2007 Keberagaman Gerakan Perempuan Jurnalis Kontributor: Latifah Jurnalperempuan.com-Jakarta. Karena kompleksnya permasalahan, gerakan perempuan memang perlu beragam, tidak seragam. Demikian pendapat Damairia Pakpahan yang disampaikan dalam diskusi Hari Perempuan Internasional bertema ?Gerakan Perempuan Kini?, Kamis (8/3). Damai mengakui bahwa sebelumnya ia juga pernah mengidealkan bersatunya gerakan perempuan. ?Sekarang saya lebih realistis, memang perlu ada banyak gerakan perempuan.? Di satu sisi, lanjut Damai, memang kita harus bekerja sama di satu platform yang sama, misalnya menggugat politisi busuk. Namun, di sisi lain kita tidak bekerja sama lagi karena karakteristik masing-masing. Pendapat yang sama juga dikemukakan Wening Udasmoro, Ketua Jurusan Sastra Prancis, FIB-UGM. ?Untuk mencapai satu tujuan, kita tidak harus selalu berjalan bersama-sama.? Di samping diskusi itu, pada saat yang bersamaan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta juga menggelar pameran fotografi bertajuk ?Potret Perempuan Bromo?. Pameran ini merupakan hasil ekspedisi tim Unit Fotografi UGM beberapa bulan lalu ke Ranupani, desa di kaki Gunung Semeru, dan kawasan Wisata Bromo. Foto-foto yang dipamerkan mengangkat profil perempuan Bromo dalam kesehariannya. Meski tinggal di kaki gunung, perempuan Tengger tetap peduli dengan pendidikan, misalnya dengan adanya kejar paket B di salah satu sekolah dasar di Ranupani. Namun, perempuan masih menjadi nomor dua dalam hal pendidikan. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, umumnya perempuan menikah, mengurus anak, dan bekerja di ladang. Hanya sebagian kecil saja masyarakat Tengger yang melanjutkan pendidikan ke luar wilayah, itu pun sebagian besar laki-laki. Peran perempuan dalam bidang agama, khususnya di dalam keluarga sangat penting karena ibulah yang mengajarkan agama pada anak-anaknya, sementara bapak lebih banyak menghabiskan waktu di ladang dan bekerja.*
