http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C0%7CX

Senin, 12 Maret 2007
"Baru Bisa Mimpi" 
Jurnalis: Henny Irawati

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Republik Mimpi yang sekarang berganti nama menjadi 
Kerajaan Mimpi turut merayakan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 
tanggal 8 Maret lalu. Dalam episode yang diputar semalam (11/3) di MetroTV itu, 
hadir sejumlah penggiat-penggiat organisasi perempuan, di antaranya Masruchah, 
Yeni Rosa Damayanti, Mariana Amiruddin, Mursiyah Safril, dan pendiri Puan Amal 
Hayati Ibu Shinta Nuriyah. 

Dalam acara yang diramaikan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan 
PAPRI ini Mantan Ibu Negara tersebut menyampaikan keperihatinannya terhadap 
kondisi perempuan saat ini, terutama pada kasus kekerasan pada perempuan yang 
semakin meningkat. menyampaikan keprihatinan saya pa tingginya kasus kekerasan 
terhadap perempuan. "Baru saja masuk ke kami (Puan Amal hayati) dua kasus 
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," katanya mencontohkan. Kemiskinan (atau 
pemiskinan) perempuan yang terjadi secara global dinilainya sebagai salah satu 
pemicu. "Sedangkan perempuan yang ingin keluar dari lilitas kemiskinan justru 
menjadi korban eksploitasi." Ibu Shinta mencontohkan keadaan buruh migran 
perempuan dan mereka yang bekerja di industri hiburan. 

Nia Syarifuddin dari Aliansi Nasional Bhinneka tunggal Ika menyambungnya dengan 
pendidikan yang mahal dan bidang kesehatan yang hanya mendapat anggaran sangat 
minim. Akibatnya, lanjut Nia, di keluarga yang memiliki perekonomian terbatas 
akan lebih memprioritaskan pendidikan untuk laki-laki. Tentu saja la ini 
berdampak buruk pada perempuan. Begitu juga di bidang kesehatan. Angka kematian 
ibu di Indonesia yang masih tinggi bisa menjadi salah satu tolak ukur yang 
konkret. 

Sementara itu, Mariana Amiruddin dari Yayasan Jurnal Perempuan dan Masruchah 
dari Koalisi Perempuan Indonesia mempertanyakan kembali komitmen pemerintah 
untuk memenuhi Konvensi Internasional yang telah diratifikasi pada tahun 2000, 
yakni Millenium Development Goals (MDGs). Tahun 2015 nanti menjadi tahun 
pembuktian bagi pemerintah Indonesia apakah telah mampu memenuhi target MDGs. 
Demi mewujudkan hal itu, pemerintah didorong untuk menyelesaikan 
persoalan-persoalan seperti kemiskinan, lingkungan, bencana, keterwakilan di 
politik, kekerasan, dan sebagainya. 

Sayangnya, bilamana melihat kondisi perempuan yang sekarang pemerintah harus 
bekerja lebih keras dalam sisa 8 tahun yang tersedia. Hal ini disebabkan 
pekerjaan rumah mereka diperparah dengan adanya kebijakan yang justru 
mendiskriminasi perempuan, sebut saja RUU Pornografi, Undang-undang Perkawinan, 
Perda-Perda Syariat. Berkait dengan Undang-undang perkawinan, Masruchah 
menyontohkan maraknya poligami yang dilakukan pejabat publik, baik secara 
diam-diam maupun terang-terangan. 

"Sempurnalah penderitaan perempuan," ungkap Ibu Shinta dengan miris. Pemegang 
otorita negara, dalam hal ini pemerintah, dan tokoh-tokoh agama justru membuat 
keadaan perempuan makin sulit. Siapkah pemerintah dengan pemenuhan target MDGs? 
Semoga kita jangan "baru bisa mimpi".* 

Kirim email ke