"Newspaper Indonesia" <[EMAIL PROTECTED]> 03/13/2007 08:24 AM
Pembagian Dividen Jamsostek tidak Adil Hasil Pengelolaan Harusnya Dimaksimalkan Bagi Pekerja JAKARTA, (PR).- Setoran dividen Jamsostek ke pemerintah sebesar 25% laba perseroan dinilai tidak adil. Padahal, setoran modal awal pemerintah ke Jamsostek hanya Rp 2,77 miliar. Anggota Komisaris Jamsostek Hariyadi Sukamdani dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (12/3) menilai, dividen 25% dari laba perseroan tidak seimbang dengan jumlah modal yang disetor pemerintah. "Saya mewakili pengusaha yang diutus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sebagai komisaris perseroan menyampaikan bahwa tidak adil bagi para pengusaha jika 25% dari laba perseroan diambil pemerintah, padahal pemerintah awalnya hanya menyetor Rp 2,77 miliar, dan sekarang aset Jamsostek sudah sebesar Rp 47 triliun yang asalnya dari dana para peserta," jelasnya. Hariyadi menambahkan, para pengusaha kini berpikir apa keuntungan ikut serta dalam program jaminan Jamsostek jika keuntungan dari pengelolaan dana para pekerja dan pengusaha ini diambil pemerintah 25%. "Pengusaha inginnya semua hasil pengelolaan dana mereka kembali pada mereka juga, dan harusnya dimaksimalkan untuk kepentingan pekerja peserta Jamsostek," imbuhnya. Sementara Dirut Jamsostek Hotbonar Sinaga menambahkan, pemegang saham perseroan adalah pemerintah sehingga sebagian hasil pengelolaan diberikan kepada pemerintah dalam bentuk dividen. "Agar dapat melaksanakan pengelolaan dana dengan maksimal, Jamsostek berhak mendapat fee pengelolaan sehingga harus dipisahkan antara hak peserta dengan aset PT Jamsostek," imbuhnya. Hotbonar menambahkan, modal yang ditempatkan oleh pemerintah kepada PT Jamsostek hanya berjumlah Rp 125 miliar. "Modal dasar perseroan sebesar Rp 400 miliar dan dari modal Rp 125 yang disetor pemerintah, sebagian besar adalah hasil konversi dividen pemerintah menjadi modal. Memang kecil dibandingkan aset kelolaan kami," ujarnya. Adapun modal yang disertakan pemerintah bersumber dari konversi Dana Pengembangan Semesta (DPS) sebesar Rp 20 miliar, lalu konversi Cadangan Umum Perum Astek sebesar Rp 37,76 miliar, konversi Cadangan Umum sebesar Rp 62,5 miliar, konversi Cadangan Tujuan Jamsostek sebesar Rp 1,97 miliar, dan dari konversi awal Perum Astek sebesar Rp 2,27 miliar. Benahi internal Jamsostek pada tahun 2005 berhasil meraup laba sebesar Rp 629,6 miliar, dengan setoran dividen sebesar 35% atau sebesar Rp 220 miliar. "Tahun 2006 kira-kira Rp 793 miliar, tapi sedang dalam proses audit," ujar Hotbonar. Pada bagian lain Hotbonar Sinaga mengatakan, belajar dari pengalaman masa lalu, PT Jamsostek (persero) kini mulai melakukan pembenahan internal. Jamsostek juga terus berupaya menciptakan iklim kerja yang lebih kondusif. Menurutnya, manajemen baru Jamsostek akan terus berupaya untuk meredam konflik internalnya. "Kita harus membuat suasana yang kondusif. Jadi harus diciptakan internal condition yang kondusif dan yang jelas komitmen para direksi Jamsostek haruslah menjadi satu kesatuan," jelasnya. Dikatakan Hotbonar, kondusif yang dimaksud adalah terciptanya kebersamaan tanpa melihat "masa lalu" manajemen baru. Para pegawai juga diminta saling bekerja sama. "Juga tanpa melihat apakah dia orang dalam atau orang luar. Hal ini supaya visi Jamsostek nanti menjadi sama dan satu karena ini semua demi kepentingan Jamsostek," katanya seraya menambahkan ke depannya, berharap Jamsostek bisa menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial secara amanah. (A-34/dtc)***
