Well, ada baiknya jangan pukul rata soal seks. Bagiku yang awam soal seks cuma 
sebagian dari milyaran bagian hidup yang harus dijalani dan di hadapi. Dan, 
tanpa seks kita bisa hidup. So...buat apa meributkan soal seks. Itu kan prifasi 
banget. Toh kita lebih butuh makan daripada seks. Jadi, adalah (menurutku) 
asumsi yang salah menjadikan seks sesuatu yang luar biasa.  

Mengenai kondom (maaf bicara).....

Siapa sih yang meneliti dan mencetuskan bahwa kondom itu aman? 

Kondom tidak bisa dipastikan membuat freeseks menjadi aman. Adapun yang menilai 
"aman", dari persepsiku itu cuma penilaian relatif. Sampai hari ini tak ada 
penelitian yang mencetuskan kondom safe 100%. 

Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi 
penularan HIV melalui seks (http://id.wikipedia.org/wiki/HIV)

Mengurangi tidak berarti membebaskan 'kan? Jika mengurangi, lalu selebihnya 
apa? Ini sama saja bermain-main dengan api yang besar yang siap membakar. Dalam 
hal ini saya juga menyayangkan sikap aktivis HIV/AIDS melakukan aksi menekan 
penyebaran HIV/AIDS dengan membagikan kondom. Akan lebih bijaksana bila 
HIV/AIDS ditekan dengan sosialisasi seks yang sehat yaitu kesetiaan pada 
pasangan, bukan membagikan kondom! Sudah banyak kasus, meskipun dengan 
penggunaan kondom PMS masih menyebar. Bahkan kehamilan tidak bisa dicegah 
dengan penggunaan kondom. Jika ada yang mengatakan bahwa kondom adalah 'safe', 
agaknya harus disertakan dengan data pembuktian melalui penelitian. Dan setahu 
saya, sampai hari ini tidak ada! 

Dalam hal ini saya tidak bicara dengan pendekatan emosional saya. Tapi, saya 
menyuarakan isi buku "Why condoms arent safe" penerbit Andi. Dari buku itu saya 
simpulkan bahwa ketidaktahuan kita atau informasi yang salah mengenai safe aman 
dengan kondom dimanfaatkan oleh  industri farmasi. Di mana ketika orang 
melakukan seks dengan sembarangan, mereka membeli kondom pada industri farmasi. 
Dan begitu mereka terjangkit PMS, mereka membeli obat pada industri farmasi. 
Ini adalah politik marketing. Dibodohi!!!

HANYA ORANG SEMBARANGAN YANG BERHUBUNGAN SEKS SEMBARANGAN

Saya sangat merekomendasikan buku itu pada teman-teman. Bukunya kecil. Bagus 
isinya. Dan saya merasa manfaat setelah membacanya. Di mana saya tercerahkan 
secara seksual. 

Btw, kurasa buat apa ya? Kita meributkan soal seks. Cobalah kita renungkan, 
apakah itu hanya sekadar obsesi? Kalau cuma sekadar menejar obsesi, apakah itu 
akan mencerahkan kehidupan. Persoalan hidup kita banyak yang harus dihadapi. 
Negara belum beres, masih banyak yang kelaparan, masih banyak pengemis....dan 
ini tidak bisa safe dengan seks dengan kondom. 


Salam,

Sulfiza

http://sangtimur.multiply.com/     
 


 > Date: Tue Mar 13 20:50:17 PDT 2007
 > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
 > Subject: Re: [mediacare] Re:   Serem
 > To: [email protected]
 >
 > Perlu dipertanyakan juga zaman edan itu yang seperti apa? Menurut saya kalau 
 > menyikapi segala sesuatu dengan kacamata yang mempertahankan nilai-nilai dan 
 > norma yang perlu di up-date dan tidak bisa terbuka pada perubahan 
 > lingkungan, mungkin kita bukan masuk zaman edan, namun zaman purba.
 > 
 > Saya senang ada yang memberikan reaksi pada pemikiran saya, meski 
 > bersebrangan. Jadi saya nggak cuma onani pikiran (maaf kalau istilahnya 
 > nggak enak untuk sebagian orang, karena saya belum menemukan kata yang mampu 
 > mengekspresikan sama dengan kata itu), ada yang mau merespon. 
 > 
 > Kalaupun pemikiran saya dianggap edan, saya merasa tidak, karena saya tidak 
 > menyarankan anak kecil dibekali kondom, namun perempuan yang sudah mengalami 
 > menstruasi perlu tidak sekedar dibekali pengetahuan bagaimana membersihkan 
 > diri saja dan konsekuensi dari perilaku seksnya, namun juga perlu tahu apa 
 > haknya atas tubuhnya. Bahwa seks itu sendiri adalah kenikmatan tidak bisa 
 > dipungkiri, lalu buat pada dibohongi apalagi ditakut-takuti, perempuan tidak 
 > perlu takut dengan hasratnya, namun dia harus tahu kenapa hasrat itu muncul 
 > dan bagaimana itu berhubungan dengan menstruasinya. Kalau dia sudah paham, 
 > maka dia sudah bisa berdiskusi untuk mengetahui hak atas tubuhnya, bagaimana 
 > dia ingin menghargai tubuhnya, dengan siapakah dia akan berbagi kenikmatan 
 > seksnya serta semua konsekuensinya termasuk aborsi dan segala 
 > konsekuensinya, bahwa dia pun punya hak atas kenikmatan itu dan kenapa seks 
 > yang lebih aman dengan menggunakan kondom itu penting bagi keselamatan nyawa 
 > dan tubuh dia
 serta hak tawar dalam menikmati tubuh serta seksualitasnya. Bukan dengan 
memberangus kenyamanan tubuh perempuan dan menjadikannya polisi moral dirinya 
dan laki-laki sekitarnya, kalo begini sih bagi saya seperti Taliban versi baru 
saja.
 > 
 > nb: mungkin anda salah dengan orang lain, kebetulan saya belum pernah masuk 
 > fakultas kedokteran, karena saya (meski menghormati profesi dokter) tidak 
 > tertarik menyelesaikan masalah hanya dari seni gen, otak dan DNA, it's just 
 > not me. ;0)
 > 
 > GAYa NUSANTARA
 > Mojo Kidul I # 11A
 > Surabaya 60285
 > East Java-Indonesia
 > 

 > 
 >   > Date: Mon Mar 12 20:50:27 PDT 2007
 >   > From: "GAYa NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
 >   > Subject: Re: [mediacare] Re: Serem
 >   > To: [email protected]
 >   >
 >   > Salah satu yang diharapkan dari media sebagai salah satu alat hegemoni 
 > adalah kemampuannya untuk menyampaikan suatu informasi yang akurat dan tidak 
 > timpang. Namun, saya rasa itu memang masih merupakan perjalanan yang masih 
 > sangat jauh untuk di capai.
 >   > 
 >   > Semua tulisan membicarakan rekan kita kaum muda, tapi saya tidak melihat 
 > adanya media menyorot kaum muda untuk bersuara atas keadaan yang 
 > dimaksudkan. Bukankah ini menjadikan mereka yang merasa sudah tua (bukan 
 > dewasa lho ya, tua) sekali lagi seperti sedang menjejalkan sirih yang sudah 
 > dikunyah olehnya dan mekasa kaum muda untuk menelan. Apalagi menggunakan 
 > kata gairah seksual pada remaja sebagai beringas sementara yang tua tidak? 
 > Oh c'mon lah kita tahu bahwa kaum tua pun tidak kalah beringas dengan gairah 
 > seksual mereka. Siapa lagi yang doyan beli viagra dan segala obat perangsang 
 > kalau bukan mereka yang sudah tidak remaja lagi...Jangan memandang hanya 
 > kaum muda kita saja yang tidak mampu berpikir kritis dan bijak, berapa 
 > bapak-bapak yang senang jajan ke lokalisasi tanpa kondom dan tertulas HIV 
 > kemudian memberikan bonus itu pada istri tercinta? Justru sekarang ini saya 
 > lihat kaum muda kita mulai mau terbuka pada pemahaman mengenai seksualitas 
 > serta konsekuensinya,
 darip ada kaum tua yang merasa sudah makan asem garam kehiduan.
 >   > 
 >   > Anyway, saya secara pribadi tidak melihat perilaku maupun gairah seksual 
 > remaja dan orang tua perlu dibedakan dan disalah-salahkan, karena it's human 
 > nature, secara biologis kala menjelang menstruasi perempuan memang akan 
 > lebih bergairah secara seksual, baik itu tua maupun muda. Kala sperma sudah 
 > banyak laki-laki pun akan memiliki kecenderungan mudah terangsang dan 
 > bergairah pula secara seksual. Dan tidak ada hubungannya antara gairah 
 > seksual dan semakin mudanya usia menstruasi, ini karena semakin baiknya gizi 
 > pada kaum muda kita, tidak ada hubungan dengan gairah seksual, duh please 
 > deh...
 >   > 
 >   > Yang lebih menjadi masalah bagi saya dari tulisan di bawah adalah adanya 
 > penyikapan pada tubuh perempuan (meski tidak ditulis, tampak jelas yang 
 > selalu dipermasalahkan berpakaian minim selalu perempuan, maklum kalau 
 > laki-laki pamer udel nggak ada yang mempermasalahkan). Kenapa perempuan 
 > selalu diletakkan sebagai polisi atas birahi laki-laki? Kalau laki-laki 
 > mudah terangsang, maka merekalah yang perlu berbenah diri. Bagi saya secara 
 > pribadi bagaimana seseorang berpakaian tergantung pada bagaimana seseorang 
 > merasa nyaman dengan keadaannya, kalau dengan rok mini dan tank top dia 
 > merasa lebih pede saya merasa itu tidak seharusnya menjadi masalah. 
 >   > 
 >   > Justru saya melihat masih lemahnya penghormatan para rekan adam 
 > (terutama yang mudah mata gelap, maklum mungkin pendidikan seksualitasnya 
 > minim ato nggak ada sama sekali) pada tubuh perempuan. Sudah terlalu lama 
 > tubuh perempuan dijadikan objek seksual mereka, sehingga ketika melihat 
 > sedikit bagian dari perut dan paha saja birahi sudah memuncak. You know 
 > what? itu justru yang menjadi masalah, it has to stop! Sementara perempuan 
 > justru tidak boleh punya objek seksual, mereka akan dicap murahan kalau 
 > begitu, padahal laki-laki kalau tertawa-tawa sambil bergosip mengenai tubuh 
 > perempuan tidak ada yang merasa itu perlu dipermasalahkan, this also has to 
 > stop!
 >   > 
 >   > Kalau mau bicara seksualitas, ayolah kita perlu sedikit jujur, baik 
 > agama maupun norma sudah tidak lagi mampu menakut-nakuti kaum muda untuk 
 > menggali seksualitas mereka. Jangan berpikir bahwa keluarga berantakan pasti 
 > menghasilkan anak yang nggak keruan, karena dari keluarga yang terlihat baik 
 > dan saleh pun sering saya dapati anak yang sudah matang seksualitasnya 
 > (kebetulan saya konselor), karena mereka merasa 'aman' dari kecaman. 
 > Bagaimana kaum muda kita mau menahan gairah seksual mereka ketika mereka 
 > tahu yang doyan pakai ayam abu-abu adalah pak ini, pak itu, yang memadati 
 > lokalisasi juga para kaum adam yang sudah tidak muda lagi. Wong contohnya 
 > mereka dapati sendiri dari mereka yang justru tidak muda lagi, kalau sudah 
 > gini bagaimana?
 >   > 
 >   > Pada dasarnya yang sangat dibutuhkan oleh kaum muda kita adlan informasi 
 > yang benar dan tepat mengenai seksualitas, tanpa ada tendensius untuk 
 > menakut-nakuti mereka (seperti terlalu banyak masturbasi akan membuat mereka 
 > mandul, aduh please deh, begitu mereka tahu kalau ini boongan, maka 
 > hilanglah sudah kepercayaan mereka pada kaum tua dan mereka akan mencari 
 > informasi yang mereka butuhkan sendiri). Saya justru menyarankan pendidikan 
 > seksualitas, sehingga mereka tahu apa hak dan kewajiban mereka sebagai kaum 
 > muda. Kita nggak bisa bilang kamu masih muda selibat dulu, tapi kita bisa 
 > bilang, kalau memang sudah tidak bisa dibendung lagi, lakukan hubungan seks 
 > yang lebih aman, yaitu menggunakan kondom. Kalau kondom masih terus dikecam 
 > dengan norma yang berlebihan, maka penularan IMS dan HIV serta tingginya 
 > angka penguguran kandungan serta kelahiran yang tidak diinginkan akan 
 > menjadi dilema tanpa akhir.
 >   > 
 >   > GAYa NUSANTARA
 >   > Mojo Kidul I # 11A
 >   > Surabaya 60285
 >   > East Java-Indonesia
 >   > 
 >   > 
 
     
                       

                
---------------------------------
 Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos questions ! 
Profitez des connaissances, des opinions et des expériences des internautes sur 
Yahoo! Questions/Réponses.

Kirim email ke