Hello pak Bismo,
terimakasih utk pencerahan nya, bagi sebagian org termasuk saya sexual
activity adalah hasrat/kebutuhan yg normal bagi mahluk hidup, semua aktifitas
kita tentunya tak lepas dari basic moral tak terkecuali aktifitas sex manusia,
yg membuat sebagian org menganggap sex adalah hal yg tabu, kotor, immoral
menjijikan adalah karena keterbatasan observasi mereka, sex yg kita bicarakan
disini berfocus pada remaja (krn ada yg japri maupun yg membalas diskusi kita
ini ttg kegiatan sex para manula as well), utk kaum dewasa spt kita2 ini
(smile) tentunya kita tidak begitu khawatir karena mereka sudah cukup matang
utk mengambil keputusan2 sikap nya, yg kita bahas disini adalah bagiamana kita
membantu para junior atau remaja kita utk memilih keputusan yg terbaik bagi
dirinya sebelum mereka terjerembab dalam lubang mistake yg mereka buat.
Dulu ketika saya remaja ibu marah dan memukul saya ketika saya mencoba
merokok ganja, ibu hanya mampu menghukum tanpa memberi kesempatan saya utk
mengerti kenapa saya tidak boleh menghisap ganja, banyak ibu2 dan bapak2 yg
menghukum anak2 nya melakukan sex diluar nikah tanpa memberi kesempatan utk
duduk dan mempelajari sexology, women s hormones, female reproductive system,
kondom, contraceptive atau resiko ttg kehamilan remaja yg akan menghambat masa
depan dll.
Para remaja walau kadang2 mereka bersikap sok tau atau bersikap EGP (emang
gue pikirin) didalam lubuk hatinya mereka tau bahwa mereka hrs belajar banyak
hanya saja mereka tidak tau bagiamana mengexpresikan keinginan nya, apalagi
bila keinginan2 mereka dihadang oleh budaya santun kita, budaya dimana kita
tidak seharusnya bertanya ttg hal2 yg ber bau sex misalnya, contoh ketika saya
mengumpulkan para wanita didesa utk silaturhami sambil belajar, saya tanya "
wah.. ibu ini banyak sekali anak nya, apa tidak repot mengurus semuanya?"
si ibu tentu saja merah mukanya malu, krn ini pertanyaan yg berhubungan
dengan aktifitas sexual nya, akhirnya dia menjawab juga " habis gimana neng
omie, bapak nya anak2 gak bisa ditolak kalau sedang mau, kan dosa kalau
digugurin, jadi kita pasrah saja kalau hamil mau diapain lagi....sekarang anak
saya udah 6..alhamdulillah deh" jawab wanita yg ber usia 30 thn ini.
saya cuman bisa tersenyum, kasian anak2 yg alhamdulillah ini, mereka kurus2
krn kurang gizi, tidak sekolah dan kesehatan nya pun sangat memprihatinkan,
lalu saya berkata dgn nada bercanda " saya akan kasih tau ya gimana caranya
supaya tidak hamil, kasian kan kalau kamu hamil terus tiap thn habis badan kamu
nanti juga kasian anak2 nanti tidak terurus.."
Anak2 remaja didesa pun sama, mereka terpaksa hrs hamil karena tidak mengerti
.
Pendidikan kesehatan remaja seharusnya tercantum dalam program pemerintah,
seharusnya disediakan kemudahan access kesehatan remaja spt birth control,
contraceptive di lembaga kesehatan utk mereka, karena mereka adalah generasi yg
akan meneruskan pekerjaan kita.
Tentu saja yg terpenting pendidikan remaja dimulai dari rumah, dari orang
tua, komunikasi adalah jalur yg paling tepat utk memantau aktifitas mereka.
salam hangat
omie
BDG KUSUMO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Boleh nimbrung Mbak Omie?
Saya pernah mendengar pendapat bhw sepanjang jaman sebuah generasi yang
"menua" selalu berpendapat bahwa generasi yang lebih muda, "the Generation
Next",
itu luntur atau bobrok moralnya, kelakuannya semau-maunya, pendeknya bertabiat
semauanya, "liberal", dll nya yang memang dianggap serba "serem".
Lalu saya pikir katakanlah sejarah manusia, yang mulai tercatat, mulai 5000
tahun
yang lalu. Kalau kekhawatiran itu benar, tentunya manusia sekarang sudah
menjadi
entah apa (tidak dpt membayangkan, walau secara hypothetis). Namun secara
keseluruhan, universally, yah manusia masih saja terus ada dengan segala
kemajuan maupun kekurangannya.
Saya setuju sekali dengan Mbak Omie bahwa keterbukaan, komunikasi dengan
remaja adalah cara yg terbaik untuk me manage ini semua. Ditambah dengan
PENGETAHUAN yang disosialisasikan secara transparan dan komunikatif.
Salam, Bismo DG
----- Original Message -----
From: ati gustiati
To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected]
Sent: Monday, March 12, 2007 9:24 PM
Subject: [mediacare] Re: Serem
Artikel yg baik utk dibaca semua kalangan pak Sum, dalam realita yg ada
kita memang tidak berdaya utk menghalau terobosan2 media baca maupun tayangan2
kebebasan kaum ramaja dalam meng expresikan sexual life style maupun kebebasan2
lain nya, masalah2 penyimpangan sexual bukan saja di derita negara terbelakang
tetapi negara2 yg sudah maju pun para orang tua msh kalang kabut dalam
mengatasi keberingasan gairah sexual anak2 remaja nya yg sudah jelas sedang di
raging hormon sexual nya.
Saya pikir keterbukaan, komunikasi yg sehat dan mendengarkan pendapat remaja2
tanpa menghakimi adalah cara yg paling telak utk mendidik mereka ttg keuntungan
dan kerugian dalam praktek kebebasan berhubungan sex, mencegah kehamilan, dan
menerapkan rasa tanggung jawab atas pilihan2 remaja kita, orang tua tentu saja
ingin yg terbaik utk anak2nya, tetapi kadang kita hanyut dan lupa bahwa remaja2
kita juga punya nalar dan pilihan serta keputusan2 yg dianggapnya paling
benar...inilah pokok masalah yg sebenar nya, bagiamana kita berdiskusi dari
jalur yg sama2 menguntungkan kedua pihak. Bila komunikasi pengajaran sudah
mencapai kesepakatan biasanya akan lebih mudah bagi kita utk mendidik mereka
tanpa hrs mendapat perlawanan yg defensive dari mereka yg umum sangat normal
terjadi.
Pendidikan agama, disiplin keluarga, contoh2 teladan para org tua, org tua
tidak bisa melarang anak2nya utk minum alkohol bila org tua setiap malam teler
misalnya, kita bisa lihat perkembangan anak2 yg tumbuh dari keluarga yg perduli
dan saling menghormati, mereka bisanya tumbuh menjadi seorang anak yg penuh
tanggung jawab atas sikap dan pilihan2 nya, lain dengan remaja2 yg tumbuh dari
keluarga yg tidak memiliki structure, anak2 seperti inilah yg sering kehilangan
arah dalam menentukan pilihan nya dan terjerumus akibat dari kelemahan nya
dalam memutuskan pilhan2 hidup nya.
salam hangat
omie
Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]>
Serem, Berpakaian Minim
a.. Picu perilaku seks bebas
b.. Usia belasan hamil duluan
Banjarmasin, BPost
Pakaian tipis, minim dan terbuka menjadi salah satu faktor timbulnya perilaku
seks bebas. Sebab hal itu mampu memancing gairah seks lawan jenis. Oleh karena
itu, peran sekolah, agama dan keluarga diharapkan mampu mengarahkan gaya
berpakaian remaja.
"Akibat provokasi pornografi yang sedemikian terbuka, terus-menerus dan
melampaui batas, otomatis menimbulkan perilaku seks bebas. Apalagi sekarang
ini, remaja kita sangat mudah tergoda dengan perilaku seks bebas," jelas Taufik
R Nasihun.
Penjelasan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula)
Semarang disampaikan dalam seminar kesehatan bertema Reproduksi Sehat, Bahaya
Seks Bebas Ditinjau Dari Aspek Medis, Psikiatri dan Islam, Sabtu (10/3), yang
diselenggarakan SMAN 1 Banjarmasin di aula sekolah itu. Seminar diikuti pelajar
SMA/SMK se-Kota Banjarmasin.
Secara biologis, kata dia, remaja sudah siap melakukan hubungan seks. Namun,
secara emosional, tingkat kematangan seks mereka masih perlu pembinaan dan
arahan agar tidak berperilaku menyimpang, apalagi sampai hamil di luar nikah.
Agar mereka mengenal lebih jauh dampak dari perilaku seks bebas tersebut,
lanjutnya, kampus yang ia pimpin terus berusaha menyampaikan kepada remaja
tentang dampak yang ditimbulkan dari seks bebas tersebut.
Dokter Pudjiati, ketua pelaksana seminar menambahkan, kalau dulu, seorang
perempuan mendapatkan haid pertama (menarche) usia 17 tahun, sekarang perempuan
sudah mendapat haid pertama usia 10-12 tahun, bahkan sembilan tahun.
Oleh karenanya, timpal Ahmadi NH, Kabag Psikiatri Unissula, peran orangtua,
guru dan BK (bimbingan konseling) di sekolah harus jalan. Karena siswa, apalagi
yang sudah mulai masuk masa pubersitas perlu dibekali pola pikir sesuai aturan
dan agama.
"Termasuk dalam hal berpakaian, agar tidak sampai merangsang lawan jenis. Untuk
itu, sekolah dan orangtua perlu memberikan aturan sedemikian rupa tentang tata
cara berpakaian anak-anaknya," katanya.
Karena perilaku seksual remaja di negara-negara maju dan berkembang, umumnya
melakukan hubungan seksual pada usia belasan tahun yang kemudian cenderung
mengakhiri kehamilannya dengan cara menggugurkan kandungan. Kemudian memilih
menikah usia yang relatif tua dan sering menderita infeksi penyakit menular
seksual.
"Untuk itu perlu dilakukan penghayatan agama yang memadai, lingkungan dan teman
bergaul diperhatikan, serta pendidikan yang memadai. Termasuk mereka yang kawin
lambat, kalau tidak diimbangi dengan agama dikhawatirkan bisa terjerumus dengan
perbuatan yang menyimpang (seks bebas)," katanya. mdn
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
---------------------------------
8:00? 8:25? 8:40? Find a flick in no time
with theYahoo! Search movie showtime shortcut.
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.