http://www.tribun-timur.com/view.php?id=42115&jenis=Opini

Senin, 12-03-2007 
Opini Tribun


Tuhan, Mengapa Negeriku?
 Oleh: Abdul Gafar, Dosen Unhas Makassar 

Satu waktu dalam sebuah perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta dalam bus 
antarpropivinsi alunan lagu yang dikumandangkan Ebiet G Ade menyentuh perasaan 
penulis.
 
Suasana gelap di kiri-kanan jalan ditimpali lagu yang menyatakan adanya 
perasaan marah dari Tuhan sang pencipta alam ini terhadap kita manusia. 
Manusia, termasuk penulis, teman seiring dalam perjalanan, dan siapapun manusia 
lainnya di bumi Indonesia ini mungkin terkena dari syair lagu ini. 

Tuhan Marah 
Beginilah yang kini dirasakan oleh bangsa dan negara kita, kemarin, kemarin, 
dan kemarinnya lagi, yaitu bencana. Adakah memang Tuhan telah marah kepada kita 
ini? Mari bertanya pada diri kita terlebih dahulu. Apakah kemarahan Tuhan 
sehingga dilampiaskan dalam bentuk bencana yang telah memporak-porandakan 
kehidupan kita. Mungkin saja ya, karena akibat ulah kita sendiri. Tetapi Tuhan 
mahapenghampun selama hambaNya ingin mengakui segala kesalahannya serta tidak 
akan mengulanginya lagi. Tuhan tidak marah! 

Persoalan bangsa yang carut marut ini sesungguhnya telah berlangsung cukup 
lama. Sumber daya manusia yang mengelola negara ini tidak berada dalam kondisi 
yang baik. Antara satu dengan lainnya terjadi saling menyikut, saling 
menyalahkan yang pada akhirnya merugikan rakyat kebanyakan. 

Hampir di semua sektor publik dan kenegaraan telah rusak akibat ulah 
tangan-tangan dan pikiran manusia yang bermain terlihat "cantik" namun 
berakibat fatal. 

Masa berkabung di negeri ini tampaknya tidak pernah berhenti. Bencana alam yang 
telah menyapu ribuan manusia dalam bentuk tsunami masih belum hilang dari 
ingatan kita. Jiwa-jiwa yang merana dan terlunta-lunta masih banyak berkeliaran 
di pelosok-pelosok daerah tanpa tersentuh oleh tangan-tangan sang dermawan. 
Program pemerintah yang bentuk bantuan pemberian beras miskin ternyata salah 
sasaran. 

Rintihan tangis keluarga yang ditinggalkan dengan musibah jatuh dan hilangnya 
pesawat Adam Air sampai hari ini belumlah kering di pelupuk mata. Doa-doa 
mengiringi kepergian manusia yang berada dalam perut "burung besi" yang 
dijuluki Adam Air masih tetap berkumandang. Doa dan rintihan menyatu mengiringi 
jasad penumpang dan kru pesawat yang belum ditemukan itu. 
Padahal teknologi canggih telah dipertontonkan untuk mencoba mengetahui 
keberadaan pesawat itu, namun nyatanya tidak juga berhasil. Sampai-sampai 
tindakan yang irrasional pun turut mewarnai pencarian, hasilnya tetap sama 
yakni nihil. Adakah kita mau memahami betapa kecilnya arti diri kita ini 
dibandingkan dengan alam nan luas ciptaan Allah SWT. Apakah kita merasa kuat 
melawan kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas itu? 

Tidak Berdaya 
Manusia dengan penuh kebanggaan mampu membuat besi beterbangan di udara dengan 
kecepatan yang menakjubkan lalu dinamailah pesawat terbang. Begitu pula 
sebaliknya mausia mampu membuat besi terapung dengan bobot puluhan ribu 
kilogram yang dinamainya kapal laut. 
Ataukah membuat besi berjalan di atas besi yang dinamakan kereta api atau 
kereta rel listrik. Ini adalah kenyataan yang kita telah rasakan kebenaran dan 
keberadaannya. Akan tetapi manakala Sang pencipta alam ini Allah SWT, 
menginginkan "sesuatu" terhadap mannusia ciptaanNya sendiri, niscaya terjadilah 
apa yang terjadi saat ini. 

Adanya pesawat yang jatuh dan hilang, kapal yang tenggelam dan menewaskan 
ratusan orang, kereta api yang terbalik, dan pesawat terbang yang terbakar. 
Betapa tidak berdayanya kita menghadai kekuatan Allah SWT. 

Moral Bangsa 
Tempat-tempat ibadah ada dan tersebar di mana-mana dengan segala kemewahnnya. 
Pada waktu-waktu tertentu tempat-tempat tersebut tampaknya tumpah ruah 
jamaahnya. 
Namun tidak jauh dari tempat ibadah itu juga bermunculan sejumlah tempat yang 
dapat mengumbar nafsu manusia secara tidak terkendali. 

Ada orang yang asyik berjudi dengan aman, ada yang fly dengan penggunaan 
zat-zat narkotika dan psikotropika, ada yang sampai teler akibat menenggak 
minuman beralkohol hingga munculnya (maaf) tarian bugil yang erotis. Ironisnya 
lagi tidak jarang ditemukan ada aparat keamanan juga terlibat mabuk-mabukan 
hingga adu jotos yang dapat berakhir dengan kematian. 

Gejala apakah yang menimpa bangsa dan negara ini. Segala tempat-tempat maksiat 
itu diperkenankan dengan alasan dapat mendatangkan devisa bagi negara demi 
pembangunan. 
Benar di satu sisi gedung-gedung tampak banyak dan megah, namun di sisi lain 
diikuti pula oleh rontoknya moral anak bangsa ini. 

Kerusakan moral ini melanda tidak saja kalangan bawah, tetapi juga sampai ke 
tingkat atas. Jika kalangan bawah, kemungkinan tindakan yang dilakukan hanyalah 
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam beberapa saat. Namun bagi kalangan 
atas, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan seumur hidup bahkan sampai tujuh lapis 
turunannya dapat menikmati. Standar etika serta agama tidak lagi dijadikan 
motor penggerak dalam berpikir dan bertindak seseorang yang ketika dilantik 
dalam sebuah kedudukan menyatakan janji dan sumpah dengan menjunjung kitab 
sucinya. 
Tetapi ketika dalam menjalankan jabatan tersebut, maka janji dan sumpah itu 
hanyalah berlaku pada saat pelantikan, tidak dalam pelaksanaan tugas-tugasnya. 

Musibah dan bencana yang terjadi di negeri ini adalah sebuah pembelajaran bagi 
generasi kini. Adakah yang salah urus dengan negara ini sehingga musibah itu 
melanda kita secara beruntun? Belum satu persoalan selesai, disusul lagi 
persoalan baru yang lebih pahit dan memilukan. 

Tsunami tidak lagi menyerang, namun bumi telah diguncangkan yang akhirnya 
memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Begitu banyak manusia tertimbun belum 
sempat ditemukan, lumpur Lapindo tetap saja bergolak menenggelamkan pemukiman 
yang ada di sekitarnya. 

Ketika teknologi pencarian tidak berhasil melacak bangkai pesawat Adam Air, 
saat ini pula luapan lumpur Lapindo belum dapat ditaklukkan, muncul pula 
musibah tenggelamnya kapal Senopati, diikuti Levina I. Beberapa korban masih 
dicari, terbakar lagi pesawat Garuda yang menewaskan puluhan korban jiwa. 

Ada apakah dengan bangsaku ini Tuhan? Marahkah Engkau pada kami sehingga 
musibah itu harus ditimpakan kepada bangsa kami? Mungkinkah di antara kita 
masih ada yang bangga dengan dosa-dosanya sehingga murka Allah SWT perlu 
membersihkan dengan jalan menimpakan musibah seperti itu ? 

Tuhan marahkah pada kita? Jawabnya tidak! Tuhan tidak pemarah, justeru Tuhan 
Mahapengasih dan penyayang. Lalu, kemanakah kita semua mengadu atas musibah 
ini? Jangan tanya pada siapa, namun tanyakan kepada Tuhan, apakah dosa kita 
hingga bencana itu mesti menimpa bangsa ini? (***)

Kirim email ke