Saya ingin mengetahui pendapat Anda semua. 
   1)Sekitar 20 tahun lalu, seorang wartawan KOMPAS
bernama Yus Suma di Pradja minta berhenti dari KOMPAS
sebab mempunyai perbedaan-perbedaan pendapat dengan
pimpinan KOMPAS. Ia bukan saja minta berhenti, bahkan
menolak gaji dari KOMPAS, padahal nafkah satu-satunya
yang ia peroleh untuk menghidupi keluarganya adalah
dengan bekerja di KOMPAS. Tidak sepeser pun uang yang
mau dia terima, sebab ia mengatakan, "Malu donk saya,
kalau mau terima uang dari KOMPAS. Berhenti bekerja
tapi duitnya mau," demikian diucapkan Yus waktu itu.
Orangnua sampai sekarang masih ada.Menurut saya, ini
baru pejuang, bermoral, konsekuen.
   2) Sdr Wis melakukan berbagai kegiatan anti
manajemen dan institusi KOMPAS, tapi tetap mau
menerima gaji. Dan gajinya itu tetap diterima hingga
detik ini. Tentu bisa difahami, jaman sekarang tidak
mudah cari pekerjaan.

Demikian sekedar sebuah catatan.Terima kasih
dimastakha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saya malah melihat sebaliknya. Melihat Kompas harus
> dilihat dari sisi
> berbeda, di tengah situasi yang serba terbalik ini
> dan serba edan ini..
> Maaf saya berbeda pandangan dengan Mas Arya dan Mas
> Dwi...
> Mengherankan jika seorang "pejuang" seperti Pak
> Bambang Wisodo malah
> tidak ada yang membela di kantornya sendiri, bukan?
> Boleh jadi karyawan/wartawan Kompas tahu yang
> sesungguhnya terjadi.
> Sementara orang-orang luar hanya mendengar suara Pak
> Bambang, yang
> tampil seperti seorang "pahlawan" buruh. Beberapa
> pendukung Pak
> Bambang pernah bermasalah dengan Kompas-Gramedia...
> antara lain pernah
> melamar tapi enggak diterima..he..he
> Karyawan/Wartawan Kompas terkenal rendah hati, tidak
> pernah menyakiti
> orang (perhatikan didemo setiap hari pun,
> karyawannya di situ tak
> melawan, padahal pasti marahnya bukan main),  hidup
> mapan karena
> bergaji besar. Saya dengar mereka bergaji 18 kali,
> plus bonus dan
> gratifikasi. (Wah, gaji Pak Bambang saja hampir Rp
> 10 juta. Luar
> biasa. bandingkan dengan gaji wartawan koran lain,
> yang bahkan banyak
> yg terpaksa makan uang amplop) Pinjaman rumah tanpa
> bunga serta
> fasiltas kendaraan, tunjangan transportasi,
> handphone, dan banyak
> lagi. THR dua kali: natal dan lebaran. Hampir tidak
> ada dari mereka
> keluar dyang ari lembaganya. Mereka yang terbukti
> menerima amplop pun
> --yang sangat diharamkan Kompas--bahkan hanya
> diminta "mengundurkan
> diri", tidak dipecat, dengan rekomendasi agar bisa
> bekerja di
> perusahaan lain.
> Wajar saja jika mereka berterima kasih dan loyal
> kepada perusahaannya
> dan membela jika ada pihak yang ingin
> menghancurkannya.
> Saya kira alangkah bahagianya jika semua
> kantor/perusahaan sudah
> seperti Kompas memberlakukan karyawan/wartawannya.
> 
> Kita mesti agak pintar sedikit, jangan-jangan ada
> sesuatu "perjuangan
> seolah-olah" di balik ini semua ini
> Maaf kepanjangan, siapa tahu dikontak Kompas untuk
> kerja di situ.. he..he
> 
> salam
> dhimast
> 
> --- In [email protected], "Arya Perdhana"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > memang lucu,
> > apalagi jika membaca blog tersebut, saya jadi
> menilai
> > wartawan/karyawan Kompas sbg orang2 yg secara
> membabi buta membela
> > pimpinannya tanpa reserve. mereka melihat orang yg
> "berbeda" spt
> > wisudo sbg orang yang merusak nama baik Kompas.
> > 
> > jadi mirip pola penguasa ketika menghadapi media
> yg menulis ttg
> > kebobrokan pemerintah, maka penguasa akan menuduh
> media bersangkutan
> > "mencemarkan nama baik", "memfitnah", "menyebarkan
> berita tdk benar",
> > dlsb tanpa ada pembuktian kebenaran substansial
> dari berita tersebut.
> > 
> > nah, pola yang sama diterapkan oleh
> wartawan/karyawan Kompas terhadap
> > wisudo. mereka menuduh wisudo hampir sama persis
> dgn tuduhan2 dgn
> > tanda kutip di atas. juga tanpa pembuktian
> kebenaran substansi apa2 yg
> > dituduhkan wisudo terhadap petinggi Kompas.
> > standar ganda?
> > 
> > salam,
> > arya
> > --- In [email protected], "yuri aladdin"
> <yalfrin@> wrote:
> > >
> > > Ironis sekali...orang yang berjuang demi hak dan
> kepentingan
> > rekan-rekannya
> > > sendiri kenapa malah dicaci maki  ?  Apa
> wartawan Kompas sudah
> > kehilangan
> > > idealismenya ?
> > > 
> > > Pada tanggal 14/03/07, dwi danuarta <dwibisnis@>
> menulis:
> > > >
> > > >    HEHEHE LUCU JUGA YA....
> > > > PEnolakan dari wartawan Kompas lainnya itu
> justru menunjukkan
> Bambang
> > > > Wisudo benar bahwa tempatnya bekerjanya (atau
> lingkungannya
> tempatnya
> > > > bekerja) itu brengsek.
> > > >
> > > > ------
> > > > Misalnya:
> > > > Rizal Layuck (ZAL) menulis:
> > > > Sebab, hanya perusahaan pers yang tolol saja
> yang mau menerima dia
> > > > bekerja!"
> > > > "Kalau tidak salah Anda pernah menyebut KKG
> itu kapitalis gendut
> yang
> > > > cuma mau cari untung, tidak memperhatikan
> karyawan dsb. Logikanya,
> > > > Anda tidak akan mau lagi dong kerja di tempat
> yang tidak sesuai
> dengan
> > > > idealisme Anda."
> > > > --------
> > > >
> > > > Kebencian dari sebagian teman-teman Bambang
> Wisudo menunjukkan bahwa
> > > > mereka membela manajemen dalam soal pemecatan
> karyawan, aneh ya?
> > karyawan
> > > > kok bukan membela karyawan tapi membela
> manajemen yang notabene
> > suatu saat
> > > > akan berhadapan dengan mereka juga. Kalau
> bukan untuk kepentingan
> > posisi
> > > > atau jabatan, apalagi seh yang
> melatarbelakangi karyawan membela
> > manajemen
> > > > di sebuah perusahaan?
> > > >
> > > >
> > > > ----- Original Message ----
> > > > From: gimblot makagiansar <gimblot@>
> > > > To: [email protected]
> > > > Sent: Wednesday, March 14, 2007 8:48:15 AM
> > > > Subject: Re: [mediacare] Wartawan Kompas ttg
> Wisudo
> > > >
> > > >   Melihat keluarnya surat anjuran tertulis
> dari
> > Mediator/Konsiliato r di
> > > > Disnaker DKI  maka 10 hari kerja dari tanggal
> surat tersebut
> > diterima pihak
> > > > Kompas harus membuat jawaban apa anjuran
> tersebut diterima atau
> > tidak. Jika
> > > > anjuran tersebut tidak dijawab maka Kompas
> dianggap tidak menerima
> > anjuran
> > > > dari Mediator/Konsiliato r tersebut maka
> sesuai UU PPHI No. 2 /
> > Tahun 2004
> > > > perselisihan akan diselesaikan di Pengadilan
> Hubungan Industrial 
> > yang ada
> > > > di pengadilan negeri setempat dengan cara
> salah satu pihak
> mengajukan
> > > > gugatan.
> > > >
> > > > ----- Original Message ----
> > > > From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED] co.id>
> > > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > > > Sent: Tuesday, March 13, 2007 10:11:39 PM
> > > > Subject: [mediacare] Wartawan Kompas ttg
> Wisudo
> > > >
> > > >
> > > > (berikut dari www.insidekompas. blogspot. com
> > > > menyusul anjuran Disnaker DKI agar Bambang
> Wisudo dipekerjakan
> kembali
> > > > di Kompas)
> > > >
> > > > PADA akhirnya nuranilah yang bicara.
> > > > Seruan itu akhirnya datang juga: tolak!
> > > >
> > > > Penolakan itu terkesan sangat tidak manusiawi,
> seakan-akan tidak
> > > > menghormati hukum. Tetapi, dimana nurani
> diletakkan ketika dengan
> > > > santainya kaki melangkah memasuki sebuah
> kantor 
=== message truncated ===
`

 



 
____________________________________________________________________________________
Finding fabulous fares is fun.  
Let Yahoo! FareChase search your favorite travel sites to find flight and hotel 
bargains.
http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097

Kirim email ke