http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=276010

Kamis, 15 Mar 2007,


Rosihan Anwar, Berbicara tentang Jurnalis Dulu dan Sekarang 


Diantar Soeharto, Wawancarai Panglima Soedirman
Rosihan Anwar adalah salah satu saksi hidup perkembangan pers di Indonesia. 
Bagaimana pandangannya tentang wartawan saat ini serta bagaimana cerita 
wartawan di era kemerdekaan? Rosihan berkisah dalam sebuah diskusi di Jakarta 
kemarin. 

Di mata Rosihan, wartawan zaman sekarang lebih malas dibanding jurnalis era 
awal kemerdekaan. Untuk mengejar berita eksklusif dan aktual bagi pembaca, di 
masa lalu para pemburu berita berani menggadaikan nyawa kendati tak mendapat 
upah yang layak. 

"Jauh jika dibandingkan yang muda-muda hari ini," ujar Rosihan dalam diskusi 
bertema Kemerdekaan Pers Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan Indonesia di gedung 
Habibie Centre, Kemang, Jakarta, kemarin. 

Rosihan menceritakan gaji wartawan di masa kolonial sangat kecil, yakni 15 
hingga 50 gulden. "Itu pun dicicil," katanya. Untuk level setara pemimpin 
redaksi, gajinya 150 gulden per bulan. 

Pada saat itu, kata Rosihan, tiras belum mencapai 1.000 eksemplar. Misalnya, 
harian berbahasa Jawa Sedyo Tomo di Jogja bertiras 930 eksemplar dan harian 
Darmo Kondo beromzet 700 eksemplar. 

"Tapi, itu tidak membuat langkah mereka surut," kata pria yang Mei mendatang 
berusia 85 tahun itu. Dia mencontohkan beberapa wartawan yang sering disebut 
the colorfull journalist. Misalnya, Rivai, wartawan Pewarta Deli sebagai 
kolumnis pertama di Indonesia. Juga ada Sosrokartono, kakak R.A. Kartini, yang 
menjadi kontributor pertama untuk koran asing The New York Herald saat meliput 
perang Eropa. 

"Ada juga Mustopha, wartawan harian Pemandangan, yang menulis feature dengan 
bersepeda ke seluruh dunia. Akhirnya dia hilang saat meliput di padang pasir 
Makkah," kata suami Zuraida itu. 

Ada satu hal yang membuat Rosihan bangga dalam karirnya menjadi jurnalis di era 
perang kemerdekaan. Yakni, saat berhasil mewawancarai Panglima Soedirman di 
hutan pengungsian di kawasan Gunungkidul, Jogja, beberapa hari sebelum 
perundingan Konferensi Meja Bundar. "Saya ditemani Soeharto, waktu itu masih 
Letkol. Pak Dirman mengaku baru pertama diwawancarai wartawan nasional. Saya 
haru sekali," ujarnya dengan mata menerawang. 

Karya jurnalistik yang dicapai dengan penuh perjuangan itu membuat Rosihan 
begitu bangga dan bahagia. Idealisme sebagai wartawan tidak pernah luntur. 

Namun, Rosihan prihatin dengan mentalitas jurnalis saat ini. Menurut dia, 
tekanan kepentingan pemodal dan media yang semata-mata berorientasi bisnis 
menjadi kendala utama bagi jurnalis. Dia mencontohkan iklan obituari yang 
dibisniskan di beberapa media. 

"Wartawan harus objektif dan melindungi kenyataan. Fakta itu suci. Jangan 
gadaikan idealisme meski kesejahteraan rendah," kata pendiri Pedoman, yang 
dibredel Soekarno pada 7 Januari 1961 itu. 

Tokoh Dewan Pers Atmakusumah menambahkan, perlindungan terhadap kerja 
jurnalistik tidak cukup dengan hanya Kode Etik Jurnalistik. Diperlukan juga 
revisi hukum dalam Kitab Hukum Undang-Undang Pidana. 

Dia mencontohkan wartawan New York Times Judith Miller yang diancam hukum di 
pengadilan karena melindungi nama narasumber anonim. Namun, karena 
integritasnya, Judith berhasil bebas. "Itu harus dicontoh. Jangan karena gaji 
rendah, kode etik disepelekan," katanya. (rdl

Kirim email ke