Mungkin saja Endiarto betul, apalagi kalau telah ada peserta StuNed
yang lulus S3 dengan tesis berjudul "Gontok-gontokan di Belanda", he
he he.

Yang pasti, setiap hari anggota parlemen Belanda gontok-gontokan di
gedung parlemen. Tapi nyamannya di Belanda sini, percekcokan di
parlemen itu tidak pernah merambat ke luar gedung, dan
percekcokannya pun demi memajukan Belanda, bukan memajukan kelompok
atau agama sendiri. Anak sulung saya usia 17 tahun, baru saja masuk
CDJA (Partai Kristen Demokrat Remaja). Besok dia akan ikut seminar
pertama CDJA itu. Anak saya boleh memilih mau masuk kelompok kerja
yang mana: Eropa? Internasional? Belanda? dll. Dia pilih thema
Eropa. Remaja CDJA ini ditempa agar di masa depan dapat menggantikan
kakak-kakaknya yang sekarang duduk di Tweede Kamer (DPR-nya
Belanda). Remaja CDJA ini juga diajar teknik berdebat seperti LTC di
Indonesia (Leadership Training Course), namun tidak pernah diajar
memuliakan diri sendiri. Yang dimuliakan adalah Belanda sebagai
negara kesatuan yang bebas beragama, berkemanusiaan beradab,
berkebangsaan broadminded, berkedaulatan rakyat dan berkeadilan
sosial.

Dus Endiarto ada betulnya juga, bahwa di Belanda juga ada gontok-
gontokan, namun mereka bergontok-gontokkan untuk memajukan negara.
Yang dianut adalah mottonya Sinterklaas "anak baik dapat kado, anak
nakal masuk karung". Dus dari parpol mana pun juga, bila orangnya
hebat dan baik, dan dapat membangun negeri Belanda, akan dipilih
oleh rakyat Belanda untuk memimpin negara. Sedangkan yang lain yang
kurang hebat akan menjadi oposisi yang juga bertekad membangun
negara. Karena semua orang Belanda bertekad membangun Belanda
memakai sistim Total Football-nya Johan Cruijff, maka Belanda pun
menjadi negeri maju gemah ripah loh jinawi tata tenteram
kartaraharja.

Asik ....seperti mendengar cerita 1001 malam ya, he he.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland



MOD:

Lha kalo gontok-gontokan antar penonton sepak bola gimana Oom DL? Apa ya untuk 
memajukan negeri Belanda juga?



--- In [email protected], Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
>
>
>   (Quote: .......Bayangkan, topik begitu banyak di atas ditulis
oleh Dirk Vlasblom
>     hanya dalam 70 halaman saja, kertas ukuran 3/4 A4, maka hanya
>     intinya yang ditekankan. Salah satu inti cerita yang terbersit
>     adalah "bakat gontok-gontokan" orang Indonesia yang diwarisi
dari
>     leluhur mereka sendiri sejak ribuan tahun y.l. Jadi bila orang
>     Indonesia kini sukar keluar dari "budaya gontok-gontokan" -nya
itu,
>     tidak usah terlalu kuciwa lah yau.............end of quote)
>
>   IMHO, Kalau masalah gontok-gontokan sih Pak sebenarnya di
manapun ada.  Hanya saja ketika di suatu tempat/ negara masih banyak
terjadi  gontok-gontokan, penyebabnya sangat kompleks. Bukan sekedar
warisan  nenek moyang, warisan Mbahe Sangkil atau apa..........
>
>   Saya yakin, di Belanda pun dari dulu sampai sekarang masih
ada "unsur  gontok-gontokan". Perbedaan kepentingan, status sosial,
perbedaan peran  dan berbagai perbedaan lain sering menjadi
sumber "gontok-gontokan"  baik yang nampak jelas maupun yang tak
nampak di permukaan.
>
>   Rasanya bisa saja "gontok-gontokan" di Belanda ini dijadikan
obyek  riset kawan-kawan yang ambil S-3 Psikologi Sosial, Sosiologi
atau  Sejarah di Belanda atas beasiswa Stuned.....he,he,he
>
>   Salam,

Kirim email ke