> "Deddy Mansyur" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > FYI: Ronald Reagan punya S1 > salam, > PS: > Bill Gates dan Michael Dell kagak punya SI - college dropped out > Tapi bisa jadi milyardeh deh deh deh tanpa KKN > Michael Dell berasal dari Houston, Texas >
Di Amerika semua senator minimal memiliki S1, karena untuk mendapatkan S1 di Amerika ini tak perlu kaya tak perlu bayar uang kuliah dan semuanya gratis. Jadi di Amerika ini aneh kalo ada pejabat negara yang bukan minimal S1. Kalo di Indonesia mau meningkatkan kualitas pejabatnya, memang keharusan miniman S1 bisa diterapkan, tetapi juga harus disertai bahwa S1 itu bukan dari lulusan IAIN ataupun pesantren karena pendidikan di Indonesia telah dikacau balaukan dengan agama. Meskipun saya tetap yakin persyaratan minimal S1 ini juga tidak akan berhasil memperbaiki negara RI karena pendidikan S1 itu sendiri isinya juga termasuk pendidikan agamanya. Yang merusak tatanan negara di Indonesia itu adalah Agama, karena Agama dipaksa untuk dijadikan mata pelajaran wajib dari dasar hingga perguruan tinggi. Ny. Muslim binti Muskitawati. > > Ronald Wilson Reagan > 40th President of the United States > (January 20, 1981 to January 20, 1989) > Nicknames: "The Gipper"; "The Great Communicator"; "Dutch" > Born: February 6, 1911, in Tampico, Illinois > Died: June 5, 2004, in Los Angeles, California Father: John Edward Reagan > Mother: Nelle Wilson Reagan > Married: Jane Wyman (1914- ), on June 25, 1940 (divorced in 1948); Nancy Davis (1923- ), on March 4, 1952 > Children: Maureen Elizabeth Reagan (1941-2001); Michael Edward Reagan (adopted) (1945- ); Patricia Ann Reagan (1952- ); Ronald Prescott Reagan (1958- ) > Religion: Disciples of Christ > Education: Graduated from Eureka College (1932) > http://www.eureka.edu/ www.eureka.edu > Occupation: Actor, public official > Political Party: Republican > Other Government Positions: > * Governor of California, 1967-75 > > > > ----- Original Message ----- > From: "radenayu asli" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Friday, March 16, 2007 4:12 AM > Subject: Re: [mediacare] Syarat S1 Capres akan Jadi Pembahasan Krusial di > DPR > > > > MEMANG ANEH. MAU CARI PEMIMPIN ATAU MEMBUTUHKAN > > AKADEMISI? RONALD REAGAN, YANG KALAU TAK DIBATASI > > KONSTITUSI AS BISA MENJADI PRESIDEN UNTUK PRIODE > > KETIGA, TERNYATA JUGA GAK PUNYA IJASAH S1. TAPI DIA > > BERHASIL MELAKSANAKAN TUGAS SEBAGAI PRESIDEN NEGARA > > ADIDAYA. PAK HARTO MALAH GAK PUNYA IJAZAH SMU.YANG > > SEKARANG DI RI PUNYA GELAR DOKTOR, TAPI LIHAT AJA > > EKONOMI KITA, ANGKA KEMISKINAN BERTAMBAH, PENGANGGURAN > > MENINGKAT! KUNCINYA, YANG DIBUTUHKAN ADALAH SEORANG > > PEMIMPIN YANG TEGUH (STRONG LEADERSHIP), BUKAN > > AKADEMISI, NANTI BISA HANYA WACANA, WACANA. TERIMA > > KASIH, SEKEDAR URUN REMBUG. > > > > > > > > --- Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > >> Refleksi; Bersyarat S1 berarti negara seribu bencana > >> tidak akan memiliki presiden dari kelas bawah > >> seperti Evo Morales [Bolivia] dari Bolivia atau Luiz > >> InĂ¡cio Lula da Silva [Brasilia]. Dengan lain kata > >> dimarginalisasikan hak demokratis rakyat lapisan > >> bawah. Jayalah neo-Mojopahit! > >> > >> > > http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=286483&kat_id=23 > >> > >> Kamis, 15 Maret 2007 22:00:00 > >> > >> Syarat S1 Capres akan Jadi Pembahasan Krusial di DPR > >> > >> Laporan: Yusuf Assidiq > >> > >> Jakarta-RoL--Persyaratan agar calon presiden dan > >> anggota parlemen harus berpendidikan sarjana [S1] > >> seperti tercantum dalam draf RUU Pilpres versi > >> Pemerintah, diperkirakan akan menjadi masalah > >> krusial dalam pembahasannya. Prasyarat tersebut > >> dipastikan akan membuat polemik baru di DPR. > >> Dikatakan oleh Sekjen Forum Masyarakat Peduli > >> Parlemen Indonesia, Sebastian Salang, menganggap > >> jika masih sekedar usulan, persyaratan minimal > >> sarjana itu boleh-boleh saja. Akan tetapi dirinya > >> memprediksi hal tersebut bakal menjadi masalah > >> krusial apabila sudah sampai pada tahap pembahasan > >> di DPR."Pasti akan terjadi perdebatan alot, karena > >> banyak hal akan menjadi pertimbangan," tandasnya di > >> Jakarta, Kamis (15/3). > >> > >> Sejauh ini dia belum melihat bahwa usulan itu adalah > >> untuk menjegal calon presiden tertentu. Tapi dia > >> meminta agar pemerintah memperhatikan hal tersebut > >> dengan seksama mengingat persyaratan pendidikan > >> formal harus juga dilihat dari realitas yang ada di > >> masyarakat. > >> > >> "Kalau kita lihat kenyataanya, maka prasyarat > >> sarjana itu belum cocok. Pemerintah sendiri baru > >> bisa menerapkan program pendidikan dasar 9 tahun. > >> Jadi idealnya kalau mau dibatasi, ya SMP, sebab > >> kalau sarjana kok terlalu tinggi," ujarnya lagi. > >> > >> Maka dari itu, dia meminta Pemerintah supaya jangan > >> hanya melihat sisi pendidikan formal. Karena selama > >> ini pengalaman menunjukan banyak politisi yang tidak > >> punya gelar formal cukup mampu menunjukkan > >> kualitasnya dan tak kalah dengan para profesor atau > >> doktor. "Sehingga jangan menyederhanakan persoalan > >> semata-mata dilihat dari gelar," katanya. > >> > >> Bahkan Sebastian khawatir jika standar itu > >> diterapkan, praktek jual beli ijazah palsu akan > >> semakin marak."Kita lihat bahwa kasus ijazah palsu > >> tidak hanya terjadi di DPR dan DPRD tetapi juga > >> dalam beberapa kali Pilkada. Sekarang 'kan tidak > >> sulit untuk memperoleh ijazah, orang tidak perlu > >> susah-susah belajar untuk itu," dia menambahkan. > >> > >> Pada kesempatan terpisah, Ketua Fraksi PAN DPR, > >> Zulkifli Hasan juga kurang sependapat dengan syarat > >> capres atau anggota dewan harus sarjana, terlebih > >> jika dimaksdkan untuk menjegal capres > >> tertentu."Kalau seperti itu, kita tidak bisa > >> memahami syarat tersebut, tapi sejauh ini kita belum > >> melihat kecenderungan ke arah sana," kata dia kepada > >> pers. > >> > >> Menurutnya, dalam berpolitik, sebenarnya bukan > >> syarat pendidikan formal yang diutamakan, melainkan > >> dukungan maupun kepercayaan yang diberikan > >> masyarakat. Sebab tidak ada jaminan bahwa seseorang > >> yang memiliki gelar akademis lantas bisa diterima > >> oleh masyarakat. Oleh karenanya, pihaknya akan tetap > >> melihat perkembangannya ke depan. >
