<http://www.swa.co.id/> ** *Menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam operasional perusahaan. Cara untuk melakukan ini tidaklah tunggal. Dengan mengibaratkan perusahaan laiknya tubuh manusia, Stefanus Indrayana -- penulis buku Manajemen Berbasis Nurani bersama Goenardjoadi – memastikan bahwa orientasi perusahaan spiritual ada empat. Pertama, body: tercapainya kesehatan finansial. Kedua, mind: perusahaan dan human capital berkembang. Ketiga, heart; dalam hal hubungan antarkaryawan dan manajemen, tercipta budaya great working place dengan ciri-ciri trust, caring and fun. Keempat, spirit: perusahaan yang penuh integritas dan bermakna, berkontribusi bagi shareholders dan stakeholders, termasuk karyawan, mitra bisnis dan masyarakat.*
Jalan Menjadi Spiritual Kamis, 01 Maret 2007 Oleh : Teguh S. Pambudi *Menjadi perusahaan spiritual tidaklah sulit. Hanya saja, butuh komitmen yang lahir dari nurani.* "Waktu memulai Body Shop, saya membawa kepribadian saya ke tempat kerja" (Annita Rodick) Spiritual company memang tak punya batas arti yang pasti. Namun, mengacu ke pemikiran Danah Zohar serta Ian Marshall (penulis Spiritual Quotient), perusahaan spiritual adalah yang sudah memperluas tujuan bisnisnya dari profit semata menjadi hal-hal yang lebih luas, seperti sosial serta pengembangan komunitas dan lingkungan. Buat perusahaan spiritual, seperti kata Russel Ackhoff, guru besar di Wharton Business School, "Profit is a means, not an end." Laba hanyalah medium untuk melakukan hal-hal yang lebih baik bagi stakeholders. Laba bukanlah tujuan akhir sehingga menghalalkan segala cara untuk mengantonginya. Bagi Gede Prama, perusahaan spiritual tak ubahnya sebuah bangunan yang demikian indah. Good corporate governance (GCG) menjadi fondasinya. Tiang-tiangnya adalah caring & loving, baik kepada shareholders maupun stakeholders -- termasuk karyawan, pelanggan dan mitra bisnis. Kemudian, ada kayu-kayu yang menopang atap bernama "komitmen", yang didasari GCG serta caring & loving tadi. Dan yang menjadi atapnya bernama "loyalty". "Loyalitas yang dimaksud bisa berupa customer loyalty, employee loyalty," kata Gede. "Spirituality is where people find meaning in their lives. It's something higher than themselves, though not necessarily attached to religion," ujar Patricia Megregian, Direktur Eksekutif Integrative Medicine Initiative di Michigan, AS. Pertanyaannya kini, bagaimana perusahaan menciptakan bangunan dan lingkungan yang seperti itu? Mulainya, menurut Gede, dari pemilik perusahaan. Atau, para pemimpin perusahaan yang menjadi kepanjangan tangan pemilik. "Karena merekalah yang akan menentukan nilai seperti apa yang akan dipakai (di perusahaannya)," katanya. Adapun sumber perumusan nilai itu sendiri, sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan faktor diversitas latar belakang anggota organisasi -- baik kultur maupun agama. Caranya, sang pemimpin bisa mengambil nilai-nilai kebajikan yang diakui secara universal. "Ambil saja bagian-bagian yang sama dari agama-agama yang ada, seperti jangan mencuri, jangan sakiti orang lain, dan setia kepada janji yang dibuat," ujar Gede menyarankan. Bagi Paulus Bambang, kolomnis tentang budaya korporat, spiritual company sudah bergerak di tataran beyond the norm, alias di atas norma-norma. Baginya, basis yang dipakai sebuah spiritual company bukan sekadar values (nilai-nilai), tapi belief (kepercayaan/keyakinan). Jadi, beyond ethics. Dan unsur belief ini tidak selalu disandarkan pada ajaran agama, tapi lebih pada nilai-nilai spiritual, yang sumbernya bisa dari kitab suci, hati nurani atau konsensus industri. "Namun, alangkah lebih bagus bila nilai spiritual ini landasannya agama masing-masing," ujarnya. Contoh dalam Islam, dijelaskan Palgunadi T. Setiawan, adalah "amanah". Artinya, menunaikan apa yang diembankan kepadanya dengan sebaik-sebaiknya. Di Grup Takaful Indonesia, Wan Zamri Wan Ismail sebagai Presdirnya bahkan menyebut bahwa nilai di perusahaannya adalah bekerja merupakan ibadah yang semata-mata mencari keridhaan-Nya sehingga harus memberi yang terbaik. Apa pun yang kelak menjadi rujukan utama, dalam konteks ini, Direktur Pengelola Institute for Leadership & Life Management Arvan Pradiansyah menilai bahwa paradigma sang pemimpin atau perumus nilai akan menentukan value macam apa yang kelak dianut perusahaan. Karena tujuan perusahaan spiritual adalah menciptakan satu tempat di mana orang menemukan "meaning in their lives", bukan sekadar uang, bagi Arvan, paradigma spiritual adalah memberi (giving) yang terbaik, tanpa memedulikan latar belakang orang yang akan menerima pemberian tersebut. Dalam bahasa Gede, paradigmanya adalah caring & loving. *Dalam bahasa Goenardjoadi Goenawan, konsultan yang sering ditanggap perusahaan untuk berbicara seputar spiritualitas di dunia bisnis, untuk bisa menghasilkan nilai-nilai yang beyond ethics semacam itu, pemimpin harus melakukan tiga hal pokok: meninggalkan ego, mempertajam empati dan mulai dengan menolong orang lain. Intinya, paradigma yang bersemayam dalam diri sang pemimpin, datangnya dari nurani. * Bila ini bisa dituntaskan, masuklah langkah kedua: mengeksplisitkan sistem nilai dalam perusahaan. Caranya, dipatrikan dalam visi-misi yang tertulis. "Sosialisasi itu adalah tacit menjadi explicit," kata Arvan. Mengapa perlu? Nilai-nilai individu seorang pemimpin seyogianya bisa didistribusikan ke hati dan pikiran setiap orang dalam organisasinya. Sebab, dengan cara distribusi inilah diharapkan lahir sebuah kultur. Maklum, nilai individu yang tak dipatrikan hanya akan menjadi kebiasaan yang boleh jadi pudar, atau bahkan lenyap begitu sang pemimpin tiada. *Langkah berikutnya, menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam operasional perusahaan. Cara untuk melakukan ini tidaklah tunggal. Dengan mengibaratkan perusahaan laiknya tubuh manusia, Stefanus Indrayana -- penulis buku Manajemen Berbasis Nurani bersama Goenardjoadi – memastikan bahwa orientasi perusahaan spiritual ada empat. Pertama, body: tercapainya kesehatan finansial. Kedua, mind: perusahaan dan human capital berkembang. Ketiga, heart; dalam hal hubungan antarkaryawan dan manajemen, tercipta budaya great working place dengan ciri-ciri trust, caring and fun. Keempat, spirit: perusahaan yang penuh integritas dan bermakna, berkontribusi bagi shareholders dan stakeholders, termasuk karyawan, mitra bisnis dan masyarakat. * Untuk mencapai orientasi pertama, nilai-nilai kebajikan yang universal dalam berbisnis, seperti diutarakan Gede, pagarnya telah tercakup dalam GCG. Sebab, praktik berbisnis yang etis, transparan, akuntabel, responsible dan fair merupakan prinsip-prinsip CGC. Dengan mengimplementasi prinsip ini secara benar serta konsisten (lewat kebijakan-kebijakan bisnis yang prudent), kesehatan finansial bisa terwujud lantaran bisnis berjalan di atas rel good governance. Adapun untuk orientasi ke-2 sampai ke-4, perusahaan bisa menciptakan lingkungan yang memungkinkan situasi spiritual secara horisontal dan vertikal tercipta. Secara horisontal artinya terwujud suasana ketika awak perusahaan, dari manajemen puncak hingga karyawan level bawah, memiliki hubungan yang baik (penuh perhatian serta komitmen memberi yang terbaik) di antara mereka dan lingkungan eksternal (pelanggan, masyarakat, mitra bisnis, pemegang saham). Bentuknya, bisa pelayanan yang kuat, atau program CSR yang komprehensif (sosial ataupun lingkungan). Sementara itu, secara vertikal berarti terciptanya suasana kebebasan mengekspresikan kecintaan berikut ketaatan kepada ajaran agama masing-masing, dengan tingkat toleransi yang tinggi. Kalau memungkinkan, perusahaan membuat waktu untuk retreat atau pelatihan spiritual bagi karyawannya, juga akomodasi yang memadai untuk ibadah karyawan. General Electric, salah satu perusahaan yang tak henti berupaya menjadikan dirinya spiritual, seperti diungkap Ani T. Rahardjo, Manajer Engagement & Corporate Citizenship GE, melakukan sejumlah hal. Secara vertikal, ruang dan waktu untuk beribadah diberikan, juga dukungan seperti event-event keagamaan seperti pengajian mingguan pada bulan puasa. "Namun yang terpenting adalah secara horizontal, kami berusaha menyelaraskan kebutuhan spiritual employee dengan prinsip Citizenship perusahaan yang berpilar enam," kata Ani. Keenam pilar itu adalah (1) compliance & governance: kejujuran dan kepatuhan pada hukum dan peraturan yang berlaku, (2) EHS: keselamatan karyawan, pelanggan dan warga sekitar, (3) valuing and growing employee, antara lain melalui pendidikan, pelatihan, coaching, transparent performance evaluation, (4) community involvement, kesukarelaan, filantrofi dan charitable contribution, (5) supply chain standard, artinya compliance and governance untuk pihak ketiga, dan (6) social and public policy: memberi masukan atau advokasi pada pemerintah, seperti berpartisipasi dalam Global Climate Change. "Bentuknya bisa berbagai macam, seperti balancing life," ujar Joseph D. Angkasa, CEO PT Bintang Toedjoe. Yang jelas, "Kita kerja melulu bukan untuk mencari duit. Kita harus kerja untuk sesuatu yang lebih 'besar', untuk masyarakat, dan semua mesti kembali juga ke Atas (Tuhan)," ucapnya seraya menunjukkan bahwa hal itu tecermin dalam misi perusahaannya: Reliable Partner in Health for a Better Life. Sementara di Excelcomindo Pratama, seperti dikatakan Direktur Pengembangan Human Capital-nya, Joris De Fretes, dibuat program XLCare untuk menampung spirit karyawan yang ingin berbuat baik bagi sesama. Untuk menginternalisasi ini, Erlina Kang dan Putu Adiguna, pemilik Mama Leon Garment di Bali, kerap mengingatkan karyawannya bahwa filosofi mereka adalah "Berbisnis dalam Dharma" sehingga semua awak perusahaan harus selalu dalam kebenaran, tidak akan pernah merugikan orang, baik kepada karyawan, pemasok maupun konsumen. Setiap Sabtu, Erlina dan Putu selalu duduk bersama karyawannya membicarakan masalah-masalah spiritual, mulai dari menumbuhkan rasa syukur atas apa yang telah diterima sebagai hasil dari perbuatan yang dilakukan hingga bagaimana menjadi wanita utama (bagi karyawan wanitanya yang mencapai 85% dari keseluruhan karyawannya). Sementara di GTI yang terang-terangan mengusung bisnis berbasis syariah Islam, keseimbangan antara beribadah keagamaan dan berbisnis amat ditekankan. Karyawan diberi pemahaman bahwa bekerja pukul 08.00-17.00 adalah ibadah sehingga harus memberi yang terbaik. Jadi, ibadah itu bukan hanya shalat, puasa, zakat atau mengaji. "Kalau sudah shalat terus berzikir sejenak, kembalilah bekerja," tutur Wan Zamri. Internalisasi merupakan tahap yang paling krusial untuk menjadi perusahaan spiritual. Sebab, ketika berupaya mengimplementasi diri menjadi perusahaan spiritual, tantangannya tidaklah kecil. "Perusahaan yang menjadikan moralitas sebagai kendaraannya untuk tumbuh akan mempunyai banyak larangan dalam berbisnis, misalnya tidak menyuap," kata Wan Zamri, "sehingga kalau dilihat dalam waktu singkat, pesaing mereka yang tidak punya hambatan moralitas akan terlihat sangat cepat tumbuh. Ini tentunya menimbulkan godaan besar." Bhakty Kasry, Presdir PT Pandu Siwi Sentosa, mengaku tidak mudah membentuk spiritual company, karena dibutuhkan sebuah proses yang panjang, mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian ditularkan ke seluruh karyawan. "Kami butuh waktu 3-4 tahun untuk merasakan hasilnya," ujar Bhakty. Salah satu nilai yang perlu proses panjang untuk ditanamkan adalah bahwa dalam bisnis harus amanah, sehingga bisa dipercaya orang. Dan amanah dalam bisnis logistik adalah kecepatan waktu pengiriman. Kini, awak Pandu Logistik telah bisa melakukannya. Namun, bagi Arvan, tantangan terbesar dalam perusahaan spiritual adalah menjadikan seluruh awak organisasi merasa bahwa ia bekerja karena ingin memberikan sesuatu, sekecil apa pun. "Selama belum bisa mengatakan itu, saya kira belum bisa disebut sebagai spiritual company," katanya. "Misalnya, tukang sapu. Kalau ia punya makna, maka ia akan menyadari bahwa ia bekerja bukan hanya memindahkan sampah, tapi membuat orang-orang di kantor menjadi lebih nyaman, lebih happy bekerja karena kantornya bersih." Untuk mendeteksi hal semacam ini, Gede melihat program semacam survei kepuasan karyawan laik dilakukan sehingga diketahui apakah caring & loving ada dalam perusahaan. Bisa juga melakukan survei loyalitas dan kepuasan pelanggan karena boleh jadi mereka merasa tidak dilayani dengan baik oleh karyawan. Banyak cara yang bisa ditempuh asalkan ada niat menjadi spiritual. Niat untuk tak menjadikan profit sebagai tujuan semata. ** *URL : *http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=5630
