Kebaikan Amerika Janganlah Disalah Artikan !!!

Pada dasarnya niat baik Amerika benar2 ingin menciptakan dunia yang
damai aman dan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari
kekurangan sandang pangan diseluruh dunia.

Namun niat baik ini sering disalah artikan, terutama oleh umat Islam
yang ulamanya selalu menekankan perlunya memusnahkan orang2 kafir.  Di
mesjid2 dikhotbahkan berbagai kebencian dan permusuhan dan sikap baik
Amerika diartikan sebagai rasa takut kepada Islam, digambarkan sebagai
rasa bersalah, digambarkan sebagai kemenangan Islam, dlsb, dlsb. 
Dengan menyalah artikan kebaikan2 Amerika, para ulama Islam
meningkatkan kebencian, meningkatkan permusuhan antara Amerika dan
umat Islam.  Bantuan2 Amerika yang ditujukan kepada para korban
bencana alam disabot, para pemberi bantuan dilarang masuk langsung
kepada korban tetapi harus menyerahkan bantuannya kepada volunteer2
muslim untuk membagikan bantuan tsb.  Nyatanya bantuan itu tidak
dibagikan tapi dikumpulkan di gudang organisasi2 Islam untuk dibawa
pulang para anggauta mereka ke pulau jawa.

Sesudah mencuri bantuan untuk korban bencana Alam, mereka melakukan
demo untuk memboikot produk Amerika bahkan ada yang coba2 membakar
gedung kedutaan Amerika dengan bomb molotov.  Akibatnya, dutabesarnya
pulang ke Amerika dan kantor kedutaan ditutup.  Hal ini menyebabkan
protest dari pemerintah karena banyak kepentingan2 dan kebutuhan2 yang
diperlukan dari Amerika menjadi terhambat akibat ditutupnya kedutaan
Amerika.

Demikanlah sekilas dunia Islam di Indonesia.  Yang satu menyatakan
bahwa Islam bukan terorist, pelaku teroris adalah pribadi bukan
Islamnya.  Tetapi dilain pihak terorist yang tertangkap dibela oleh
team pembela Islam, kalo terorist itu bukan Islam, tidak wajar khan
harus dibela oleh team pembela Islam.  Membela terorist sama halnya
dengan membela Islam.  Jelas umat Islam sendiri yang menyatakan diri
dan agamanya sebagai terorist bukan Amerika.  Amerika tak pernah
menyatakan Islam agama terorist, tapi apa lacur, kalo umat Islam
sendiri sudah mengklaim dirinya dan agamanya sebagai agama dan umat
terorist apalah yang harus disalahkan kepihak Amerika yang mengikuti
apa yang ingin diungkapkan umat Islam itu sendiri.

Saya pribadi sebagai juga umat Islam, sangatlah menyesalkan perilaku
umat yang menjalankan teror2 yang diajarkan agamanya.  Akibat teror2
itu sangatlah luas, selain ekonomi makin merosot juga kesempatan umat
Islam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan makin jauh tertinggal. 
Sekarang di semua universitas di Amerika sudah sama sekali tidak ada
lagi beasiswa yang diberikan kepada student2 dari negara2 Islam,
kecuali mereka yang kaya2 dengan biaya sendiri tetap diberi kesempatan
menempun ilmu pengetahuan di Amerika.  Tentu jumlahnya sangatlah
sedikit, bahkan kebanyakan mereka tidak mau pulang ingin bekerja di
Amerika, bisa dibayangkan nasib negara2 Islam dimasa datang, dalam hal
ini Indonesia sekarang inipun sudah merasakannya.  Silahkan anda
tanyakan kepada setiap orang Indonesia yang ingin ke Amerika bisa kah
mereka mendapatkan Visa meskipun untuk belajar dengan biaya sendiri???
 Sulit sekali kalo tidak ada sponsor yang menanggung mereka bahwa
mereka bukanlah terorist.  Sikap Amerika terhadap negara2 Islam makin
dingin, apalagi Negara baru Palestina yang sudah diberi bantuan
setelah mengakui Israel ternyata mengkhianati janjinya sendiri,
bantuan itu digunakan untuk melatih terorist, dan kemudian pengakuan
terhadap Israel ditarik kembali.  Wajar kalo akibatnya semua bantuan
distop sama sekali, sekali melanggar janji, seumur hidup tidak akan
dipercaya lagi.  Demikianlah pertemuan di Arab Saudia untuk membujuk
Hammas mengakui Israel ternyata sia2, meskipun Hammas bersedia
mengakuinya, tidak ada kesempatan pertemuan yang dibuka untuk
mengeluarkan pernyataannya itu.  SekJen PBB sudah bosan, banyak biaya
terbuang untuk perdamaian Palestina, ternyata hanya main akal2an saja.
 Hingga detik ini para pemimpin Palestina mondar mandir bujuk sini
bujuk sana tapi tak ada yang menggubrisnya.  Begitulah nasib sebuah
negara yang melanggar perjanjian, tidak perlu dirampok seperti orang
Yahudi yang katanya melanggar perjanjian Hubadiyah didalam angan2 umat
Islam, cukup dihentikan semua bantuan kepada negara terorist ini. 
Sebuah negara yang melatih teroris untuk menteror negara lain tidak
akan pernah bisa diampuni sama halnya seperti Afghanistant.  Agenda
PBB selalu menolak untuk membicarakan masalah Palestina, bantuan
berhenti otomatis terorisme juga berhenti karena terorisme yang
terjadi itu menyalah gunakan bantuan yang diberikan dunia internasional.

Sudah waktunya bagi Indonesia untuk juga menghentikan semua bantuannya
kepada terorist Palestina ini, rakyatnya didalam negeri sendiri lebih
membutuhkan bantuan tsb katimbang negara Palestina.  Indonesia hanya
ber-angan2, apabila bantuan kepada negara Palestina bisa mengalir lagi
seperti dulu, maka banyak barang2 produksi Indonesia yang bisa di
eksport ke Palestina karena untuk mengisi kebutuhan hidup disana boleh
dikatakan Indonesia tidak punya saingan.  Namun dengan terhentinya
semua bantuan ini apa pula yang bisa diharapkan Indonesia???  Buang2
waktu dan biaya untuk negosiasi mendamaikan Hammas dengan Abbas,
mereka damai sebentar hanya untuk memancing bantuan, bantuan datang
kembali rebut2an bantuan.  Lebih baik bangsa Indonesia memperhatikan
nasib rakyatnya dan putuskan hubungan diplomatik dengan Palestina
bukan karena permusuhan tetapi karena kebutuhannya yang belum ada.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Kirim email ke