http://www.kompas.com/

Sabtu, 17 Maret 2007
Sepi Sunyi yang Menerangi
Gede Prama

Ketika seorang guru ditanya evolusi jiwa manusia ratusan tahun terakhir, 
dengan diam sebentar, menatap mata lalu menjawab, "dari gelap ke gelap". 
Dari ketidakpuasan satu ke ketidakpuasan lain. Dari konflik satu ke konflik 
lain.

Melihat kehidupan bergerak begini, sejumlah orang desa yang polos bertanya, 
mengapa kemajuan iptek harus seperti ini? Maafkanlah keluguan. Andaikan 
keluguan ini dijawab dengan data, angka, logika, mungkin sinyalemen "dari 
gelap ke gelap" akan tambah panjang. Angka dilawan angka. Logika mengundang 
serangan balik logika.

Karena demikian keadaannya, izinkan sekali-sekali bukan angka, bukan logika 
yang bicara, tetapi sepi sunyi. Tidak dalam posisi menyebut sepi benar, yang 
berbeda salah. Sekali lagi tidak. Serupa dengan mulut manusia, gigi wujudnya 
keras karena tugasnya memotong dan menghancurkan. Lidah bentuknya lembut 
karena panggilan hidupnya bukan untuk menghancurkan, tetapi merasakan. 
Keduanya punya tugas lain. Dengan spirit seperti inilah, sepi sunyi dalam 
tulisan ini mohon izin bicara.

Sejak dulu, pencinta sepi selalu tidak banyak. 0rang yang bertapa di 
kesunyian selalu lebih sedikit dibanding mereka yang mencari di keramaian. 
Keduanya bertumbuh. 0rang-orang keramaian menyukai bertumbuh ke luar (dengan 
ukuran kekaguman pujian orang), sedangkan pencinta kesunyian menyukai 
bertumbuh ke dalam. Kekaguman dan pujian orang dihindari karena penuh godaan 
ego.

Melihat bulan dengan lampu

Satu contoh yang amat menerangi di jalan sunyi adalah pertapa suci Ramana 
Maharshi. Sampai umur 16 tahun tidak ada tanda ia akan jadi pertapa. Begitu 
berkenalan dengan perjalanan ke dalam diri, tiba-tiba badannya panas. Ini 
membuatnya lari ke Bukit Arunachala. Lebih dari sekadar panasnya menghilang, 
ia menikmati kesunyian di tempat ini. Bahkan selama puluhan tahun 
menghabiskan hidup yang sepenuhnya diam.

Saat mengakhiri diamnya, Ramana menjawab pertanyaan orang secara mengagumkan 
hanya dengan segelintir kata. Dari situ didirikan ashram oleh banyak 
pengikutnya di sekitar tempat ia bertapa. Tiap kali ditanya siapa gurunya, 
ia menggeleng sambil bergumam, "The ultimate consciousness is the only 
teacher" (Kesadaran yang mahautama itulah gurunya).

Serupa dengan ini, di sejumlah perenungan dengan judul agama yang 
berbeda-beda, banyak murid diminta diam. Awalnya percakapan ke luar 
menghilang, diganti percakapan ke dalam. Akhirnya percakapan ke dalam pun 
menghilang. Dan yang tersisa hanya satu, yakni kesadaran. 0rang-orang yang 
sudah disinari cahaya kesadaran, akan bergumam, untuk melihat bulan tidak 
memerlukan lampu!

Kata-kata, logika, angka mirip lampu luar. Manusia membutuhkan saat gelap. 
Namun, dalam terang cahaya kesadaran, manusia tidak memerlukan lampu luar. 
Salah satu founding father kehidupan spiritual Bali (Dang Hyang Dwijendra) 
menulis Kakawin Dharma Sunya. Ia bertutur, jika batin yang tenang-seimbang 
adalah sumber keindahan. Bila sumber keindahan sudah di dalam, masihkah 
manusia memerlukan lampu penerang dari luar? Dalam bahasa provokatif seorang 
guru, "When you still have some one who can make you happy or sad, you are 
not a master, you are a slave!" (Jika sumber kebahagiaan/kesedihan masih 
dari luar, itu tandanya seseorang belum menjadi master, masih jadi budak).

Apresiasi akan sepi memang bukan monopoli Bali. Lama Surya Das (Awakening 
the Buddha Within) pernah menulis bahwa puncak perjalanan menemukan 
perkataan yang benar adalah hening. Eckhart Tolle (Stillness Speaks) juga 
serupa, "wisdom comes with the ability to be still. Just look and just 
listen... let stillness direct your words and actions" (Kearifan datang dari 
keheningan. Lihat dan dengar saja... biar keheningan yang menjadi 
pembimbing). Thomas Merton (Thoughts in Solitude) menambahkan, "My knowledge 
of myself in silence... opens out into the silence... of God" (Pengetahuan 
diri dalam keheningan membuka rangkaian keheningan yang berujung pada 
Tuhan).

J Krishnamurti (The Light in Oneself) menyarankan, meditation is absolute 
silence of the mind (meditasi adalah keadaan batin yang sepenuhnya hening). 
Dainin Katagiri (Returning to Silence) menulis, Shakyamuni is some one who 
practice tranquil silence (Siapa saja yang mempraktikkan kesempurnaan 
keheningan, ia menjadi Buddha). Murid-murid Zen yang perjalanannya suka 
menekuni latihan silent illumination. Penyair sufi Rumi bertumbuh jauh dalam 
sepi. Perhatikan salah satu syairnya (The Rumi Collections): when you know 
your own definition, flee from it, that you may attain to the 0ne who cannot 
be defined (Saat Anda dipagari kata-kata, cepat-cepatlah menjauh. Ia 
menghalangi mencapai yang Satu yang tidak terucapkan).

Dengan cerita ini, terlihat banyak manusia yang terterangi rapi oleh sepi 
sunyi. Ia melewati banyak sekat tradisi. Dari Sufi, Nasrani, Buddha, sampai 
Hindu. Jenis manusia-manusia ini memiliki pola pertumbuhan serupa. Logika 
dan kata-kata ibarat kulit dan batok kelapa. Di awal manusia membutuhkan. 
Namun, begitu dikupas dan dibuka, kelapa dimakan, airnya diminum, kulit dan 
batoknya dibuang.

Mikhail Naimy (The Book of Mirdad) lebih terang lagi. Kata, logika serupa 
tongkat, berguna bagi mereka yang kakinya bermasalah. Bagi jiwa yang kakinya 
sehat, tongkat hanya beban. Lebih-lebih jiwa yang bisa terbang, tongkat 
adalah beban berat.

Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Saka 1929.

Gede Prama Penulis Sejumlah Buku, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara 


Kirim email ke