Sejarah Kota Jakarta membuktikan bahwa peranan etnis Tionghoa sangat 
besar terhadap perkembangan Jakarta. Mereka telah menjadi bagian 
masyarakat Jakarta sebelum Portugis dan Belanda datang ke Pelabuhan 
Sunda Kelapa. 

"Pada reformasi saat ini, etnis Tionghoa sangat berperan aktif 
terhadap jalannya roda perekonomian Ibukota," kata Wakil Gubernur 
DKI Jakarta, Fauzi Bowo di sela-sela perayaan Tahun Baru Imlek 2558 
DKI Jakarta di GOR Lokasari, Jakarta Barat, Minggu (25/2). 

Fauzi mengungkapkan, etnis Tionghoa memiliki potensi yang luar 
biasa. Mereka menguasai sebagian dari perdagangan di Ibukota. 
Seharusnya, kepada mereka harus disampaikan penghargaan, apresiasi, 
dan peluang untuk lebih berpartisipasi terhadap Kota Jakarta ini. 

Fauzi Bowo berharap, agar ke depan etnis Tionghoa lebih 
berpartisipasi secara aktif di berbagai sektor pembangunan. "Untuk 
kepentingan Kota Jakarta yang lebih besar, warga Jakarta keturunan 
etnis Tionghoa harus lebih proaktif memberikan sumbangsihnya, " ujar 
mantan Sekda DKI ini. 

Pada saat ini, kata Fauzi Bowo, pembaruan etnis atau naturalisasi 
merupakan sebuah kebutuhan masyarakat yang mesti diwujudkan, bukan 
hanya sebatas retorika belaka. Dengan demikian, lanjut Fauzi Bowo, 
keberagaman atau kebhinekaan akan tercipta di Ibukota sebagai salah 
satu perekat persatuan dan kesatuan bangsa. 

Sementara itu, mengenai perayaan Imlek, Bang Fauzi-sapaan akrabnya, 
menilai, tradisi tersebut perlu dilestarikan sebagai salah satu 
khasanah budaya bangsa Indonesia. "Ini merupakan kekayaan warga 
Jakarta yang mesti terus dipelihara karena ini adalah tradisi yang 
sangat positif dan sekaligus sebagai sarana untuk mempererat 
persatuan dan kesatuan bangsa," kata dia. 

Perayaan Imlek kali ini menggambarkan persatuan dan kesatuan 
antarsesama warga Ibukota. 

Pada kesempatan tersebut, Ketua Panitia Perayaan Imlek 2558, Hanan 
Soeharto menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemprov DKI Jakarta 
yang telah menghapus diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. 

"Pemprov DKI telah menjadikan Jakarta sebagai kota multietnis," 
tegas Hanan. 

Sedangkan perwakilan tokoh muslim Tionghoa Yusuf Hamka menilai, 
Fauzi Bowo sebagai pimpinan daerah yang bersahaja dan bersih dari 
perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), dan selalu dekat 
dengan warganya. "Ke depan, Jakarta butuh pemimpin yang dekat dengan 
rakyat dan menjunjung tinggi pluralisme," 
   
  Itu semua sudah jelas, kalau kerusuhan tetap dibiarkan seperti zamannya 
Soetiyoso, kan kita akan berabe sekali, soal Banjir juga begitu, yang memberi 
komando itu kan Soetiyoso, kalau beliau kepingin Jakarta kebanjiran, ya itulah 
yang terjadi, bukan Kebanjiran uang, tapi kebanjiran air sehingga yang miskin 
lebih miskin lagi dan rumah rumah mereka rusak semua. Kalau Gubernurnya sudah 
ditopang oleh PARTAI DAMAI SEJAHTERA yang memiliki Tuhan, tentu nanti Tuhan 
akan berserta kita, kalau Tuhan dipihak kita, siapa lagi musuh kita?Mazmur 
124:8.
   
  Tongkat kerajaan orang fasik tidak akan tinggal tetap di atas tanah yang 
diundikan kepada orang orang benar, supaya orang orang benar tidak mengulurkan 
tangannya kepada kejahatan (Mazmur 125:3)



          MARI KITA BERSATU PADU
  UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA
  KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
  
      


 
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and 
always stay connected to friends.

Kirim email ke