Catatan bagus Nana, Saya pikir penyimpangan interprestasi dalam Islam sudah 
begitu jauh, tak ada agama apapun yg percaya bahwa Allah itu maha pengasih dan 
penyayang lalu berbalik membuat peraturan yg sangat bertolak belakang, I will 
list the misconceptions yg paling umum dalam islam :
   1 Muslim women have to wear the veil.
  Absolutely not true ! this is a common misconception, dalam Al qur an tidak 
diwajibkan utk memakai veil, ini ditulis oleh manusia (tentu saja laki2), hijab 
atau veil is not islamic !
  2 Muslim women cant have jobs outside their homes
  This is also not true ! memang di budaya timur kewajiban wanita adalah 
mengurus keluarga, tetapi tidak dilarang utk bekerja.
  3 Polygamy is strongly recomended, WRONG ! Qur an strongly discourages 
polygamy, polygamy memang cara hidup manusia  waktu itu, until the Quran was 
revealed 1400 years ago.
  4 Men status is higher than that of the women.
  This the biggest bullshit right there ! this is misunderstood statement, coba 
simak  : al rijalu qawwdmuna ala al nisa'i (means the men are made responsible 
for the women ) .
  5 Muslim women cant have education.
  ck ck ck....dalam ayat mana dalam al quran kita dapatkan statement itu ? 
Quran encourages the pursuits of knowledge by all muslims.
  6 Women cant share in political life in their communities.
  No No No not true ! women in Islam have right to vote, to express their views 
on any public matter, run for an office and even be th ehead of state
  7 Women are stoned to death for adultery
  This is totally false, as there is NO death finalty for adultery in Islam 
!!!!!
  8 Muslim women cant marry jewish or christian men.
  Its advocated and promoted by men but have no basis in he Quran
  9 Muslim women do not have right to divorce their husbands.
  Not true, divorce laws in the Quran apply to both men and women equally.
  10 The legal age for girls to marry tends to be very young.
  This is not an islamic law but local tribal atau cultural tradition.
  11 Female circumcision.
  This is not islamic law, di agama lain pun mereka melakukan circumcision.
   
  Ahhhh kalau enggak cape ngetik masih setumpuk lagi misconceptions ttg wanita 
dalam Islam, saya pikir contoh2 diatas sudah cukup utk bahan pemikiran siapa 
saja yg mau mendebat saya.
   
  Anyway Nana, saya selalu menyukai catatan2 mu yg berbobot, bagi saya 
feminisme dalam islam, why not ? Islam means Peace, artinya dilema macam apapun 
seharusnya bisa di bahas dengan keterbukaan tanpa hrs meledak kan bom dikepala 
kita.
   
  take care girl
  omie
   
   
  
Nana P <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  “Bagiku agama Islam merupakan agama yang paling oppressive kepada perempuan. 
So, bull shit lah kalau ngomongin tentang feminisme dalam Islam.”
Kalimat tersebut di atas ditulis dalam salah satu email seorang teman dekatku 
beberapa bulan yang lalu. Padahal dalam email yang kukirim ke mailboxnya 
sebelum itu, aku telah menyitir kata-kata Fatima Mernissi, seorang tokoh 
feminis Muslim dari Maroko. “jika hak-hak perempuan Muslim menjadi masalah bagi 
sekelompok pria Muslim, hal ini bukanlah disebabkan oleh Al-Quran maupun Islam 
itu sendiri, melainkan karena interpretasi yang berbeda menghasilkan 
interpretasi yang bertentangan dengan kepentingan kaum elit laki-laki.” Sangat 
jelas disarikan oleh Fatima Mernissi bahwa bukan Islam maupun Alquran yang 
oppressive terhadap perempuan, melainkan para mufassir yang masih sangat bias 
gender. Mufassir ini bisa laki-laki maupun perempuan. 
Pagi ini Rabu 14 Maret 07 aku membaca satu rubrik tanya jawab di salah satu 
surat kabar lokal. Seorang laki-laki melayangkan surat bertanya kepada pengasuh 
rubrik tentang rencananya untuk menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal 
tiga tahun yang lalu. Pernikahan yang kedua ini ingin dia lakukan karena dia 
ingin memiliki anak yang dia harapkan akan membalas budi baiknya dengan 
merawatnya di usia tuanya nanti. (I am wondering whether there are people in 
the world who purely want to have babies for the babies’ sake, and not for 
their own egotism; such as to ask the babies to pay back for what they have 
done.) Dengan istri pertamanya dia tidak memiliki anak. Sayangnya calon 
istrinya memberi syarat untuk tidak mau memiliki anak setelah mereka menikah. 
Si calon istri telah memiliki seorang anak dari mantan suaminya. Laki-laki ini 
bingung, apakah akan melanjutkan rencana untuk menikahi perempuan yang tidak 
mau mempunyai anak lagi ini, padahal itu adalah tujuan utamanya
untuk menikah lagi. Di sisi lain, seandainya dia membatalkan rencana pernikahan 
itu, dia terlanjur mencintai si perempuan. 
Jawaban dari sang pengasuh rubrik tanya jawab itu (seorang Professor Doktor 
sebuah sekolah tinggi Islam) adalah menyarankan kepada laki-laki tersebut untuk 
berusaha menyampaikan kepada calon istrinya tentang keutamaan mempunyai anak 
saleh sebagaimana yang diajarkan Islam, kemukakan segi positif yang diperoleh 
dari lahirnya seorang anak, misal menambah harmonisasi keluarga, bla bla bla 
... Jawaban diakhiri dengan, “Jika semua jalan telah ditempuh dan calon istrimu 
tetap menolak punya anak lagi, kamu dapat meninjau kelanjutan hubungan 
dengannya. Mohonlah petunjuk kepada Allah ...”
Seandainya jawaban seperti tersebut di atas disikapi oleh seorang laki-laki 
yang patriarkis, agama Islam akan dimanfaatkan untuk memaksa si perempuan untuk 
memiliki anak lagi (misal: dalam agama kita, punya anak itu berkaitan dengan 
masalah dunia akhirat loh.) Satu hal yang sangat tidak kusukai ketika orang 
mulai memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi. 
Aku sendiri sebagai seorang feminis Muslim yang sekuler berpendirian bahwa 
keputusan untuk mau melahirkan anak adalah hak prerogatif seorang perempuan, 
tak peduli apa kata agama apapun. Seorang perempuan yang akan merasakan morning 
sickness, perubahan dalam tubuhnya (aku hamil sekitar bulan Juli 1990-April 
1991, sudah lupa bagaimana rasanya tatkala hamil kecuali ketika merasakan 
morning sickness, tubuh gampang letih, lemah, pusing, tubuh melar secara 
ajaib), bertarung antara hidup dan mati tatkala melahirkan, bermasalah dengan 
nifas setelah itu belum lagi sakitnya vagina tempat perempuan mengeluarkan 
orok. 
Jadi ingat kurang lebih satu tahun yang lalu tatkala ada seorang laki-laki 
berusaha mendekatiku. Aku mengajukan syarat, “No more babies ...” dia bilang 
oke, sambil mengatakan, “Aku mau berkorban untukmu. Padahal kan aku pengen 
punya anak karena aku belum punya anak. But for you, I will do everything.” 
Satu soft oppression bagiku. Kalau bilang OKE, ya udah. FULL STOP. Ga perlu ada 
embel-embel, “Ini pengorbananku untukmu.” Karena di balik kata-kata 
“pengorbanan” itu, tentu ada udang yang tersembunyi. LOL. LOL. So? Bye bye deh. 
J
So ... kembali ke pernyataan teman dekatku itu, Islam sebagai agama yang paling 
oppressive kepada perempuan? Well, aku tetap akan bersikeras kepada apa yang 
dikatakan oleh Fatima Mernissi. Bukan Islam maupun Alquran yang oppressive, 
melainkan orang-orang di balik itu. Dan aku tidak termasuk di situ (sebagai 
mufassir yang bias gender, maksudku. J)
PT56 11.15 140307


"The foolish consistency is the hobgoblin of little minds." -- Emerson.

Best luck always,
Nana P
http://afemaleguest.blog.co.uk
http://afeministblog.blogspot.com
http://afemaleguest.multiply.com

Kirim email ke