REFLEKSI:     Megapa Megawati waktu masih muda tidak berusaha memperoleh gelar 
"S".

HARIAN KOMENTAR
17 Maret 2007 

Istana Bantah Jegal Megawati 


Kubu Pemerintahan SBY per-lu mengklarifikasi opini yang berkembang terkait 
syarat capres 2009 harus S1 (sarjana). 

Ditegaskan, Presiden SBY tak pernah berusaha menjegal Megawati Soekarnoputri 
su-paya tak bisa tampil dalam Pil-pres 2009 dengan mengubah persyaratan 
pendidikan capres menjadi minimal S1. 

Hal ini ditegaskan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang di-dampingi Jurubicara 
Kepresi-denan Andi Mallarangeng di Kantor Kepresidenan, Jakarta, kemarin 
(16/03). "Untuk meng-hindari pandangan keliru dari publik, maka perlu kami 
sam-paikan bahwa sampai saat ini RUU Pilpres belum pernah di-sampaikan kepada 
presiden," katanya. 

RUU tersebut masih disusun dan dibahas oleh tim khusus yang dibentuk oleh 
Departe-men Dalam Negeri. Tim ini sedang menggali pendapat dan masukan dari 
masyarakat baik dari para ahli maupun dari lembaga-lembaga negara. 

Selain RUU Pilpres, tiga RUU lainnya yang termasuk Paket UU Politik yakni RUU 
Parpol, RUU Pemilu dan RUU Susduk juga tengah dikonsultasikan dengan berbagai 
elemen masyarakat seperti akademisi, parpol, dan LSM. "Siang ini 
dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI," jelas Sudi seperti 
dilansir dari rakyat merdeka online. 
Sudi menegaskan, SBY tak pernah ada niat untuk mengubah persyaratan calon 
presiden. Dalam pasal 6 huruf UU 23/2003 tentan Pilpres disebutkan bahwa capres 
dan cawapres harus memenuhi persyaratan pendidikan seren-dah-rendah SLTA atau 
sede-rajat. "Presiden tetap berpegang kepada ketentuan UU ter-sebut," tandas 
Sudi. 

"Presiden sangat menghargai berlangsungnya pelaksanaan demokrasi dengan baik 
dan tidak pernah terpikir untuk mencederainya. Apalagi, untuk 
menghalang-halangi seseorang ikut dalam pencalonan pre-siden," demikian Sudi. 

Sebelumnya, PDIP menilai, syarat calon kandidat yang ikut pemilihan presiden 
(Pilpres) minimal S-1 merupakan per-syaratan yang penuh rekayasa. Hal ini 
disampaikan langsung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dalam temu wicara 
antara PDIP dengan Mahkamah Konstitusi di Hotel Hilton, kemarin sore. 

Presiden RI kelima itu meminta kepada semua pihak, agar menyerahkan mekanisme 
Pilpres itu kepada masyarakat. "Terserah masyarakat yang memilih," tegas Mega. 
Apalagi, lanjut istri Taufik Kiemas itu, sistem yang digunakan saat ini adalah 
sistem yang sangat berbeda dengan sistem yang dulu. "Sekarang kan Pilpres, dulu 
kan perwakilan, dulu kan ada rekayasa, tapi kalau sekarang hanya 
sedikit-sedikit saja," ucap Mega memancing tawa sekitar 300 peserta temu 
wicara.(zal/rm

Kirim email ke