Aku ingat saat nonton EMpat Mata. Tamunya Ari WIbowo. Pepi, pemusik yg jadi 
counterpart-nya tukul nyelak: "Kalo mas ari, biar pake jin sobek tetap aja 
ganteng. Lha mas tukul, biar pake jas tetep aja rusak haha.." Pakaian bagus 
belum tentu bagus buat setiap orang. 
  
Analogi yg tidak terlalu pas buat ANTV. Tapi, Uni Lubis tak ada yg ragu akan 
kehebatan lobinya saat di majalah. Daniel, oke saat "mencipta" KDI, KI emoy 
waktu di SCTV, Farhan top saat Lepas Malam. Tapi, TV beda ama majalah. Lobby 
penting buat majalah, TV butuh moment, gambar peristiwa, pengemasan. Dangdut 
identik dgn TPI, belum tentu masuk buat semua stasiun. Farhan, kini ngos2an, 
apalagi jam tayangnya bareng Tukul.
  
Bikinlah tayangan yg disuka pemirsa ANTV. Pelajari siapa pemirsanya. Mau bikin 
transimisi bagus, kalo program jelek ya podo wae hehe.
  
Boleh ANTV tidak percaya ama rating. Cuma kalo lihat penempatan beritanya 
diawal2 berganti nama jadi TOPIK, ANTV mengincar rating. Makanya Petang main 
sendiri di 6.30, Siang main di 15. Ternyata rating nyungsep, pindah2lah.
  
Seperti kata Tantowi Yahya, "Dian Sastro artis yg baik dan hebat, belum tentu 
hebat juga di kuis". Tenggelamlah kuis 3 mIlyar.
  
Udah ah...

Naratama Rukmananda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Mbak Uni Lubis, saya yakin ANTV masih punya kesempatan untuk lepas 
dari keterpurukan. Bahkan bisa menjadi stasiun tv yang cukup 
disegani di negeri khatulistiwa. Memang tidak mudah memadukan lokal 
dan internasional, perlu waktu dan perlu keyakinan. 

Saran saya, simpel saja. Jangan sampai ANTV kehilangan moment lagi, 
semoga "terang benderang"nya transmisi dan program baru di bulan 
Juni (atau bulan lainnya) bisa menjadi momen2x yang bersejarah 
mengubah peta dan wajah Indonesia dengan gebrakan ANTV. 

(Dan, saya serta teman2x di DC tetap mendukung lewat Om Farhan ya 
mbak...hehehe...). 

Buat Bang Ade, walau tidak di KPI, kajian anda soal media masih 
tetap kita tunggu. Dan saya pikir, demokratisasi dan desentralisasi 
penyiaran sangat dipengaruhi oleh pemikiran dan usaha dari member2x 
KPI yang baru. Sama dengan mbak Uni, sayang Anda tidak di KPI lagi, 
padahal KPI sempat "ngetop" karena tulisan2x Anda...

Thanks & Salam 

Naratama

--- In [email protected], Uni Zulfiani Lubis 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wah, saya pikir Ade sudah cukup "sibuk" belakangan ini...soal 
bagaimana progress TV nasional melakukan transfer ke lokal...biar 
kami lapor ke KPI baru aja yaa.....sayang juga Anda sudah tidak di 
KPI...
> 
> Ciao.....
> 
> 
> Saya tidak menanggap substansi jawaban Uni Lubis.
> Saya cuma sangat tergerak dengan pernyataan dia bahwa untuk 
memenangkan
> pertarungan, yang akan dilakukan antara lain adalah dengan 
membenahi
> transmisi Surabaya.
> Saya yakin sikap Uni adalah sikap semua stasiun televisi Jakarta 
yang
> selama ini bersiaran secara nasional.
> Mereka nampaknya betul2 mengabaikan kewajiban UU penyiaran 2002 
bahwa
> sebenarnya tahun ini (2007) sudah tidak boleh lagi ada siaran 
nasional.
> Seharusnya mereka mengembangkan jaringan stasiun televisi di 
seluruh
> daerah. Jadi, alih2 sekadar membangun atau memperbaiki relay 
station, yang
> harus mereka lakukan adalah membangun atau mencari partner lokal 
untuk
> membangun stasiun lokal yang akan manjadi bagian dari jaringan 
mereka.
> Stasiun-satsiun televisi Jakarta ini memag tidak peduli dengan
> demokratisasi dan desentralisasi penyiaran!
> hah!
> 
> ade armando

Kirim email ke