G33 JANGAN HIDUPKAN KEMBALI WTO!
SAATNYA PEMERINTAH MENJALANKAN KEDAULATAN PANGAN!

Menyikapi Konferensi Tingkat Menteri G33 di Jakarta pada tanggal 20-21 Maret
2007, ada beberapa hal kritis dan penegasan informasi dari kaum tani pada
umumnya, dan Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) sebagai organisasi
petani, yakni:

1) Update situasi; Medio Juli 2006, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) resmi
kolaps dalam frame Agenda "Pembangunan" Doha, yang bahkan menurut kaum tani,
buruh, nelayan, masyarakat adat, adalah Anti-Pembangunan. Perundingan mandeg
sehingga rejim perdagangan multilateral ini mati suri—hingga saat ini. Namun
upaya menghidupkan kembali WTO terus diusung oleh lembaga internasional (WTO
sendiri, IMF, Bank Dunia), agen-agen neoliberal baik dari NGOs maupun
akademisi, bahkan negara-negara yang tidak membela rakyatnya (AS, EU,
Brazil, India, Jepang, Australia, dll). Dari sekian banyak batu sandungan
WTO, salah satu yang paling besar adalah pertanian—dan isu produk khusus
atau SP/SSM yang diusung G33 ada di dalamnya.

Selanjutnya, G33 akan mengadakan Konferensi Tingkat Menteri di Jakarta—yang
diatur untuk menetapkan posisi G33. Menurut FSPI, seluruh isu pertemuan akan
didominasi oleh SP/SSM. Namun tidak berhenti di substansi SP/SSM belaka,
namun akan ada dorongan, intervensi, bahkan paksaan dari banyak pihak.
Pascal Lamy, Dirjen WTO yang bulan lalu didemonstrasi habis-habisan oleh
petani dikabarkan akan datang lagi ke Jakarta. Juga negosiator dari negara
G4, dan ketua komisi negosiasi pertanian. Hal ini menunjukkan banyak
kepentingan untuk menghidupkan kembali Agenda "Pembangunan" Doha yang sudah
ditentang rakyat seluruh dunia sejak tahun 2001, mulai dari Seattle (1999),
Cancun (2003), hingga Hong Kong (2005).

Momentum untuk membangkitkan WTO dari kuburnya ini ditempuh dengan berbagai
cara, dari lobby hingga metode yang kasar dan penuh tipuan. Pascal Lamy dan
banyak agen-agen neoliberal mengatakan untuk "menghidupkan kembali Agenda
Doha sebelum akhir Juni", atas dasar mengejar pembaruan kebijakan fast track
dalam Kongres Amerika Serikat. Hal ini ternyata bohong, karena kedua hal
tidak berhubungan sama sekali, dan bahkan fast track AS seharusnya disetujui
90 hari sebelumnya, jadi deadline WTO—dalam hal ini Lamy—adalah 31 Maret!
Untuk itu kami menuntut keras negara-negara miskin dan berkembang, terutama G33
agar  tidak termakan tipuan Pascal Lamy dan agen neoliberal lain. Agenda
"Pembangunan" Doha adalah anti-pembangunan dan WTO sebagai induknya sudah
menjadi puncak perlawanan rakyat dari seluruh dunia.

2) Tentang SP/SSM; Selanjutnya, walaupun isu SP/SSM dianggap melindungi
rakyat—terutama petani—di negara miskin dan berkembang, namun secara kritis
banyak yang harus tetap dipertanyakan. Walau bagaimanapun SP/SSM masih tetap
di dalam kerangka WTO, sementara usulan ini sangat rentan untuk
dipertukarkan (trade off) dengan negosiasi lain. Hal ini juga dikarenakan
oleh posisi negara-negara G33 yang lemah dan tidak mau melawan dominasi
negara dan kepentingan perusahaan transnasional raksasa di baliknya.
Pertanian, dalam konteks ini, juga jangan dianggap sebagai komoditas belaka
karena sebagian besar pertanian di berbagai belahan dunia adalah kehidupan
dan kebudayaan yang luhur. Dalam grand design WTO produk pertanian—bahkan
hingga manusia—dianggap hanya bernilai ekonomi semata dan karena itu hanya
didominasi dan dikuasai oleh segelintir kelompok, yakni produsen besar dan
perusahaan transnasional macam Cargill, Tyson, Monsanto, DuPont, Caroen
Pokphan, dan sebagainya.

Bahkan jika proposal SP/SSM dengan 20 persen dari total tarif disetujui di
dalam WTO (yang merupakan tuntutan maksimal), negara miskin dan berkembang
masih akan dirugikan lebih lanjut dari liberalisasi jasa di dalam GATS,
liberalisasi industri di dalam NAMA. Dalam negosiasi pertanian, bahkan masih
banyak ketidakadilan yang nyata yang akan menihilkan SP/SSM, seperti subsidi
milyaran dolar US yang disembunyikan dalam kotak-kotak (Green Box, Blue Box
dan Amber Box); terutama dipraktekkan dengan licik oleh Amerika Serikat dan
Uni Eropa. Jadi, pemerintah negara miskin dan berkembang seharusnya berdiri
di depan rakyatnya, melindungi segenap bangsa dan kesejahteraan umum, dalam
kerangka keadilan sosial. Untuk itulah tuntutan maksimal seharusnya adalah
untuk mengusir WTO dari pertanian, dalam kerangka pembangunan yang lebih
integral lagi.

3) Tentang alternatif rakyat; Di seluruh dunia, perjuangan melawan WTO dan
lembaga neoliberal lain yang menghancurkan kehidupan rakyat eskalasinya naik
pesat akhir-akhir ini. Dan tidak sekadar melawan, rakyat pun menciptakan
alternatif-alternatif baru untuk mewujudkan tata ekonomi global yang
berkeadilan sosial. La Via Campesina (1996) telah memulai prinsip-prinsip
yang disebut dengan kedaulatan pangan (food sovereignty); yang memuat
alternatif rakyat dalam sistem produksi dan pasca produksi pertanian. Untuk
menjadi catatan, reforma agraria (agrarian reform) yang menjadi perjuangan
kaum tani selama ini adalah prasyarat bagi kedaulatan pangan. Selanjutnya,
kedaulatan pangan tidak menegasikan perdagangan lokal, regional maupun
global, namun tidak dalam kerangka perdagangan bebas a la WTO yang
menghalalkan dumping hasil overproduksi, orientasi ekspor, dan model
produksi monokultur yang tidak berkeadilan bahkan membunuh petani
pelan-pelan. Baru-baru ini, organisasi rakyat dari seluruh dunia telah
bertemu dalam Forum Dunia untuk Kedaulatan Pangan, Nyeleni 2007, untuk
menguatkan perjuangan dan memperluas aliansi melawan WTO (lihat
www.nyeleni2007.org). Alternatif-alternatif lainnya yang berkeadilan,
berperspektif kearifan lokal juga terus dimajukan oleh rakyat, seperti model
perdagangan ALBA (Alternatif Bolivarian untuk Amerika) yang berdasarkan
solidaritas, dan lainnya.

USIR WTO DARI PERTANIAN!
TEGAKKAN KEDAULATAN PANGAN!

Henry Saragih, Sekretaris Jenderal
FEDERASI SERIKAT PETANI INDONESIA (FSPI)

-----------------------
Kontak lebih lanjut:
Henry Saragih (Sekretaris Jenderal FSPI); 08163144441,
Achmad Ya'kub (Deputi Pengkajian Kebijakan dan Kampanye); 0817712347

Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI)
Jl. Mampang Prapatan XIV No. 5 Jakarta – Indonesia 12790
Tel. +62 21 7991890 Fax. +62 21 7993426
Email. [EMAIL PROTECTED] Website. www.fspi.or.id


--
Mohammed Ikhwan
Policy Studies and Research Dept.
Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI)
http://www.fspi.or.id
Mobile. +6281932099596

Kirim email ke