RI dan penduduknya tak akan dapat menikmati suasana "adil dan makmur" selama 
para ekonom neoliberal tetap berkuasa bersama para pedagang penguasa
  

yuyun harmono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Tim Widjojo   Coen Husain Pontoh

Beberapa waktu lalu, harian Kompas memberitakan terbitnya dua buku yang 
mengulas sosok Widjojo Nitisastro. Masing-masing bertitel "Kesan Para Sahabat 
tentang Widjojo Nitisastro" dan "Tributes for Widjojo Nitisastro from 27 
Foreign Countries." Kedua buku yang diterbitkan oleh penerbit Buku Kompas itu, 
memuat tulisan para kolega Nitisastro, dari dalam maupun luar negeri. Saya 
membaca resensi dan juga apresiasi terhadap buku ini dari artikel yang ditulis 
M. Chatib Basri, direktur LPEM UI (Kompas, Senin 27/2/2007) dan dari St. 
Sularto, wartawan senior Kompas (Kompas, Sabtu 10/3/2007).

Artikel yang ditulis oleh dua generasi yang berbeda itu, secara umum bunyinya 
sama: puja-puji terhadap Widjojo Nitisastro. Dalam artikelnya bertajuk "Arloji 
Swiss Bernama Widjojo Nitisastro," Basri, misalnya, mengatakan, "….Widjojo 
bukanlah ilustrasi yang baik tentang kekuatan kata dan retorika. Ia tak 
mengentak. Ia lebih banyak diam dan bekerja. Mungkin karena itu ia lebih mirip 
arloji Swiss: rinci, bekerja dengan presisi, dan memiliki reputasi tinggi." 
Sementara pada artikel "Widjojonomics Widjojo di Mata Sahabat," mengutip 
menteri koordinator ekonomi Boediono, Sularto menulis "Beliau-beliau adalah men 
of letters dan sekaligus men of affairs. Beliau-beliau telah memberikan bentuk 
dan warna terhadap perkembangan pemikiran ilmu ekonomi di Indonesia dan 
pelaksanaan kebijakan ekonomi di Tanah Air."

Tentu saja, sebuah penghargaan terhadap sosok yang kita kagumi bukan sebuah 
kesalahan. Malahan wajar dan pantas. Tetapi, untuk seorang Widjojo, yang hidup 
dan kiprahnya begitu berpengaruh dalam pembentukan postur ekonomi-politik rejim 
Orde Baru (Orba), semata-mata menonjolkan sisi terangnya, sangat tidak memadai. 
Bahkan, dalam taraf tertentu, meniadakan momen terburuk yang dijalani bangsa 
ini. Tulisan ini, mau melihat kiprah salah satu dedengkot Orba ini, dari sudut 
pandang yang lain.

Kolaborator Militer

Chile, dimasa pemerintahan rejim diktator jenderal Augusto Pinochet, punya 
sekelompok ekonom yang dinamakan "The Chicago Boys." Demikian juga Argentina, 
di masa kediktatoran junta militer, meyumbang nama José Alfredo Martínez de Hoz.

Sejarah kolaborasi ekonom-militer, rupanya melintasi jarak benua. Dalam konteks 
ini, Indonesia bahkan mendahului sejawatnya di Chile dan Argentina. Dimasa 
kediktatoran rejim Orba, jenderal Soeharto punya sekelompok ekonom yang oleh 
David Ransom, dinamakan "Mafia Berkeley." Nama itu diberikan karena tiga dari 
anggota kelompok paling berpengaruh ini dididik di Universitas Berkeley, 
California, Amerika Serikat. Widjojo, adalah lulusan terbaik universitas 
tersebut. Ekonom asal Amerika Serikat, Bruce Glasburner, yang pernah mengajar 
di fakultas ekonomi universitas Indonesia (UI), di tahun-tahun awal Orde Baru, 
menyebut para teknokrat ini sebagai "Tim Lima" atau "Team of Five." Mereka 
adalah Widjojo Nitisastro, Mohammad Sadli, Subroto, Ali Wardhana dan Emil 
Salim. Belakangan, Soeharto memasukkan tiga nama lagi yakni, Sumitro 
Djojohadikusumo, Frans Seda, dan Radius Prawiro.

Saya tidak akan menggunakan istilah "Mafia Berkeley" tapi, menggunakan sebutan 
yang juga digunakan oleh salah satu anggota kelompok itu, M. Sadli, "Tim 
Widjojo." Menurut Sadli, anggota tim yang dipimpin oleh Widjojo Nititsastro ini 
selain dirinya adalah Ali Wardhana, Emil Salim, Radius Prawiro, Subroto. J.B. 
Sumarlin, Suhadi Mangkusuwondo, Adrianus Mooy dan Saleh Afif.

Seperti di Chile, kelompok Widjojo ini bekerja sama sangat erat dengan militer 
untuk membawa bangsa Indonesia keluar dari kemiskinan melalui jalan 
kapitalisme. Seperti kata Sadli, "Kelompok dosen FE-UI ini sejak 1957 menjalin 
kerjasama dengan TNI lewat Seskoad (Sekolah Jenderal) di Bandung, tempat 
Soeharto pernah menjadi siswa pada 1952….. Jenderal Soeharto lalu memborong 
seluruh tim sebagai pembantunya ketika menyusun pemerintahan." Pada 1967, Ali 
Wardhana, misalnya, menjadi Menteri Keuangan, Widjojo Nitisastro menjadi Kepala 
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Radius Prawiro menjadi 
gubernur Bank Indonesia, dan Sadli, sendiri, menjadi ketua Badan Koordinasi 
Penanaman Modal (BKPM).

Dalam memajukan ekonomi nasional, Tim Widjojo mengusung keyakinan bahwa hanya 
melalui pasar bebas, hanya dengan cara mengintegrasikan diri ke dalam 
kapitalisme, bangsa Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. 
Kata Emil Salim, pengintegrasian ke dalam kapitalisme itu merupakan jalan yang 
"rasional," sebagai lawan dari konsep membangun ekonomi nasional yang berdikari 
(berdiri di atas kaki sendiri) yang dianut oleh rejim Soekarno, yang tidak 
rasional. Secara lebih konkret, menurut ekonom Rizal Ramli, kebijakan ekonomi 
yang diusung oleh Tim Widjojo berisi empat strategi utama: (1) kebijakan 
anggaran yang ketat dan penghapusan subsidi; (2) meliberalisasi keuangan; (3) 
meliberalisasi industri dan perdangangan; dan (4) melakukan privatisasi.

Kita lihat, terjadi pergeseran pemikiran yang sangat ideologis dari rejim 
Soekarno ke rejim Orba. Dengan demikian, adalah keliru penilaian yang diberikan 
selama ini, bahwa rejim Orba melaksanakan politik deideologisasi dan 
depolitisasi. Yang terjadi, justru penanaman ideologi kapitalisme secara lebih 
seksama dan terencana. Dan, pada titik inilah peran dari Tim Widjojo menjadi 
sangat penting yakni, sebagai perencana, penentu, dan pelaksana kebijakan 
ekonomi di lapangan.

Hubungan antara Soeharto dan Tim Widjojo ini memang saling menguntungkan: 
Soeharto membutuhkan para ekonom-teknokrat ini untuk menggerakkan dan 
melegitimasi bangunan rejimnya yang berdarah-darah dan otoritarian. "Lihat 
ekonomi Indonesia bertumbuh pesat 6 sampai 7 persen per tahun, tingkat inflasi 
berada pada level di bawah dua digit, lapangan kerja bertambah, pendapatan per 
kapita penduduk meningkat tajam, pertumbuhan sektor industri telah melebihi 
pertumbuhan sektor pertanian, dan bla..bla…bla." Dari sukses itulah, dukungan 
rakyat terhadap rejim ini didulang. Sementara itu, Tim Widjojo butuh rejim 
Soeharto agar mereka bisa bekerja dengan tenang tanpa diganggu oleh demonstrasi 
buruh yang diupah sangat rendah, demonstrasi mahasiswa, dan demonstrasi petani 
yang lahannya dicaplok untuk mendirikan pabrik, atau oleh perseteruan di 
kalangan faksi elite. Tanpa dukungan politik tangan besi ini, saya tidak yakin 
Tim Widjojo bisa merengkuh sukses.

Segera setelah bangunan kekuasaan Orba terkonsolidasi, hasil kerja Tim Widjojo 
mulai membuahkan hasilnya. Inflasi yang pernah mencapai angka 600 persen 
berhasil ditarik hingga di bawah angka dua digit. Investasi asing berkembang 
pesat, dan pada saat yang sama, bantuan dari IMF dan Bank Dunia mengucur deras. 
Setelah terjadi lonjakan harga minyak dunia pada 1970an, performa ekonomi 
betul-betul mengkilap. Tim Widjojo inipun memperoleh kehormatan tak terkira 
sebagai arsitek ekonomi Orba. Sukses ekonomi ini membuat Bank Dunia memasukkan 
Indonesia ke dalam deretan "the Asian Economic Miracle." Pada titik inilah, 
figur-figur ini seolah menjelma seperti dewa, yang tutur kata dan lakunya 
menjadi perlambang dan digugu oleh generasi sesudahnya.

Tapi, apa yang terjadi dibalik sukses ekonomi itu? Tampilan ekonomi yang 
menakjubkan itu ternyata sangat rapuh. Jalan kapitalisme yang diidam-idamkan 
oleh Tim Widjojo akan membawa Indonesia ke luar dari lumpur kemiskinan dan 
keterbelakangan terbukti gagal. Benar terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, 
benar terjadi arus masuk investasi asing yang besar tapi, itu semua sangat 
semu. Kesenjangan pendapat begitu tinggi, utang luar negeri menggunung, 
kerusakan lingkungan demikian parah, dan korupsi begitu merajalela. Akumulasi 
kapital yang terjadi, benar-benar berlangsung secara primitif: bunuh, 
penjarakan, rampas, kangkangi.

Kapitalisme yang berkembang di masa Orba, yang diarsiteki Tim Widjojo, adalah 
kapitalisme cangkokkan, kapitalisme yang dibangun di atas timbunan ratusan ribu 
mayat rakyat Indonesia. Karena cangkokkan, maka terjadi dua keadaan: pertama, 
ekonomi Indonesia tidak pernah menjadi ekonomi kapitalis yang maju melainkan, 
hanya sebagai ekonomi kapitalis yang tergantung: tergantung pada pasar luar 
negeri, tergantung pada modal asing, tergantung pada utang luar negeri, dan 
tergantung pada teknologi asing. Keadaan yang kedua, kapitalis-kapitalis yang 
bertumbuh bukan mereka yang sungguh-sungguh mengabdi pada liberalisme, seperti 
yang terjadi di Eropa pada abad ke-19. Kapitalis-kapitalis yang muncul di bawah 
arahan Tim Widjojo ini adalah para kapitalis yang lemah, oportunis dan 
pengkhianat. Mereka pada awalnya bukanlah kapitalis, mereka menjadi kapitalis 
karena posisinya sebagai kelas penguasa (the ruling class). Sebagian dari 
mereka muncul dari dalam elite birokrasi (birokrat kapitalis),
 sebagian lainnya muncul dari dalam elite militer (militer kapitalis) dan 
sebagian yang lain karena kedekatannya dengan Soeharto (kroni kapitalis).

Gabungan antara ekonomi kapitalis yang tergantung dengan kapitalis yang lemah, 
oportunis dan pengkhianat itu, menyebabkan ekonomi Indonesia langsung bangkrut 
begitu terjadi krisis pada pertengahan 1997. Setelah tahun-tahun itu, ekonomi 
Indonesia sangat sulit untuk kembali pulih (semakin tergantung pada modal 
asing, semakin tergantung pada utang luar negeri, semakin tergantung pada pasar 
luar negeri, dan semakin tergantung pada teknologi asing). ''Kita semakin 
ketinggalan dari segi pendapatan per kapita, distribusi pendapatan paling 
timpang, stok utang paling besar, dan landasan struktural dan industri yang 
paling rapuh,'' ujar Rizal Ramli.

Dari sisi pendapatan per kapita, pada pertengahan tahun 1960-an, GNP perkapita 
Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan dan Cina nyaris sama yakni, kurang dari 
$100 per kapita. Setelah lebih dari 40 tahun, GNP per kapita negara-negara 
tersebut pada tahun 2004 mencapai: Malaysia $4.520, Korea Selatan $14.000, 
Thailand $ 2.490, Taiwan $14.590, Cina $1500, sedangkan Indonesia hanya sekitar 
$1.000.

Distribusi pendapatan juga mengalami ketimpangan yang dahsyat. Sebagai contoh, 
per tahun 1999 jumlah perusahaan di Indonesia sebanyak 36.816.409. Yang 
tergolong besar sejumlah 1.830 perusahaan (0,01 persen). Yang menengah kecil 
sejumlah 36.813.588 perusahaan (99,9 persen). Namun dalam pembentukan PDB 
(pendapatan Domestik Bruto), perusahaan yang hanya 0,01 persen itu 
menyumbangkan 40, 64 persen, sedangkan andil perusahaan menengah kecil yang 
99,9 persen itu sebesar 59,36 persen. Tidak itu saja, perusahaan besar yang 
menghasilkan PDB sebesar 40,64 persen itu hanya menyerap tenaga kerja sebesar 
0,56 persen, sedangkan perusahaan kecil dengan PDB sebesar 59,36 persen mampu 
menyerap tenaga kerja sebesar 99,44 persen dari seluruh angkatan kerja.

Menurut catatan koalisi anti utang (KAU), per Februari 2004 , kualitas Sumber 
Daya Manusia Indonesia (IPM) berada di urutan 111 dari 177 negara; jumlah 
penduduk di bawah garis kemiskinan nasional sebesar 38.394 ribu orang dan yang 
memiliki rumah hanya 32,3 persen. Angka pengangguran juga meningkat dari 3.738. 
ribu orang pada tahun 1994 menjadi 9.531 ribu orang pada tahun 2003. Bidang 
pendidikan dan kesehatan tak kalah mengenaskan. Anak-anak usia pendidikan dasar 
yang bisa menyelesaikan sembilan tahun pendidikan dasar hanya 46,8 persen, 
angka kematian ibu mencapai 307 orang setiap 100 ribu kelahiran, setiap 1000 
kelahiran 35 bayi meninggal.

Pada sisi politik, kolaborasi antara Tim Widjojo dan rejim Orba ini, gagal 
membuahkan sistem pemerintahan yang demokratis. Sebaliknya, rejim Orba malah 
semakin terbirokratisasi, anti politik, militeristik, teknokratis, konservatif, 
dan mengusung jargon-jargon hidup harmonis berbau bangkai. Mereka yang percaya 
pada tesis bahwa keterbukaan ekonomi pada akhirnya melahirkan keterbukaan 
politik, harus kembali ke kampus induknya untuk kembali melakukan penelitian 
ulang. Mungkin itu sebabnya, Widjojo menjadi seorang pendiam, tak banyak bicara.

Refleksi 

Tentu saja, krisis dan keterpurukan ekonomi Indonesia, tak bisa semena-mena 
dibebankan kesalahannya pada Tim Widjojo. Penghakiman seperti ini, berimplikasi 
serius bagi pembangunan gerakan progresif di Indonesia. Pertama, kita mesti 
kembali pada kajian tentang sejarah struktur masyarakat Indonesia, yang 
melahirkan kalangan liberal yang anti demokrasi ini. Apakah struktur masyarakat 
yang melahirkan Tim Widjojo ini masih eksis atau sudah berubah dan ke arah mana 
perubahan itu berlangsung. Kedua, kita tak boleh lupa bahwa akar soal 
keterpurukan ini adalah diadopsinya jalan kapitalisme dalam pembangunan 
nasional. Jalan itulah yang salah, dan Tim Widjojo hanyalah salah satu dari 
banyak kelompok yang mempromosikan dan mengawal jalan tersebut. Dua soal ini 
mengandung implikasi, semata-mata menumpahkan kesalahan pada Tim Widjojo, bisa 
menyebabkan gerakan progresif terjebak pada konflik elite. Hal ini pernah 
terjadi, ketika sebagian intelektual menganggap kegagalan ekonomi Orba
 justru karena kerja-kerja Tim Widjojo mulai diganggu oleh kelompok B.J. 
Habibie dan Ginandjar Kartasasmita yang dituding berpaham ekonomi nasionalis. 
Menurut tesis ini, jika saja kerja Tim Widjojo tak diganggu, ekonomi Indonesia 
tak akan terpuruk seperti saat ini. Tentu kita tahu, tesis ini sangatlah keliru 
bahkan manipulatif, karena baik Habibie maupun Ginandjar Kartasasmita tak 
pernah sekalipun mempersoalkan jalan kapitalisme yang ditempuh rejim Orba.

Terakhir, keterpurukan ekonomi Orba atau lebih tepatnya bangunan kekuasaan Orba 
haruslah dipandang sebagai masalah ekonomi dan politik sekaligus. Sebagai 
misal, keruntuhan rejim Orba tak serta-merta diikuti oleh perubahan haluan 
ekonomi nasional dari pro-kapitalisme menjadi anti-kapitalisme. Justru yang 
terjadi, semakin terintegrasinya ekonomi Indonesia ke dalam sistem 
kapitalis-imperialis melalui penerapan kebijakan neoliberal.

Keadaan ini bermakna, kelompok progresif hanya akan bisa secara efektif melawan 
kekuasaan rejim neoliberal saat ini, melawan warisan Tim Widjojo, jika terlibat 
secara aktif dalam pergerakan politik praktis. Slogan "we can change the world 
without power," harus diganti menjadi "we cannot change the world without 
power." Tim Widjojo hanya efektif ketika gagasan mereka diterima, didukung, dan 
dijalankan sepenuhnya oleh rejim Orba. Begitu pendulum jarum jam mulai bergeser 
ke faksi elite yang lain, kinerja Tim Widjojo pun menurun dan posisinya sebagai 
salah satu penentu kebijakan bergeser ke pinggiran.***

Kepustakaan:
Jhon Tafbu Ritonga, "Kekeliruan Pandangan Profesor Sadli," Waspada Online, 3 
April 2004.

M. Shodiq Ramadhan, "Mafia Berkeley dan Cengkeraman Kapitalisme Global di 
Indonesia," 12 Juni 2006: http://www.gemapembebasan.or.id

Republika, 6 Juni 2006.

Tempo, 10 Juli 2005.
   
  http://indoprogress.blogspot.com/2007/03/tim-widjojo.html


-- 
Yuyun Harmono
Outreach Koalisi Anti Utang (KAU)/Anti Debt Coalition Indonesia
Jl. Tegal Parang Utara No.14 Jakarta Selatan 12790 Indonesia
Telp. 021-79193363,Fax. 021-7941673,
Hp. 081807867506 
website : www.kau.or.id
blog : antiutang.wordpress.com   

         

Kirim email ke