Bung Roeslan yb.,
di Universitas Indonesia saya lihat dua tahun yang lalu cukup banyak dibahas 
dan dijadikan referensi
karya-karya sosiolog dan filosof Jerman Juergen HABERMAS, lahir 1929, misalnya 
Legitimationprobleme
im Spaetkapitalismus (Masalah Legitimasi di Kaptalisme Senja?) dll. Kebetulan 
yang bicara
ttg JH ini mereka yang peduli dengan ekologi, dan memakai JG dalam 
tesis-tesisnya.

Saya ingin tahu apa PKB yang menyatakan diri sbg Partai Hijau juga terpengaruh 
oleh Habermas.

Salam, Bismo DG


  ----- Original Message ----- 
  From: Roeslan 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; HKSIS 
  Sent: Tuesday, March 20, 2007 11:30 AM
  Subject: RE: [nasional-list] Istana Bantah Jegal Megawati



  KOMENTAR:



  Bahwa presiden SBY mau menjegal Megawati itu wajar-wajar saja, bagi saya tak 
mengherankan. Saya kira kita semua telah memahami bahwa kekuasaan negara 
sekarang ini ada ditangan presiden SBY yang disokong oleh mayoritas DPR yang 
dimilikinya. Dalam masalah  kekuasaan yang harus kita ketahui dan sadari 
adalah:  posisi sosial seseorang, praktek sosial, modal dan pertarungan 
strategi. Kedudukan sosial  seseorang dalam masyarakat lebih merupakan 
penjelasan mengenai kepentingan dan kegiatan hatinurani  yang selalu tak 
terbuka. Hati nurani itu adalah akumulasi  dari budaya dan 
pengalaman-pengalaman, yang berkonstelasi di dalam bawah sadar yang berada 
dalam demensi pertama, yaitu intern indivudu seseorang, yang relatif bersifat 
menetap dan memegang kendali perilaku manusia, namun demikian fleksibel sesuai 
dengan ruang dan waktu, ruang dan waktu untuk singkatnya dalam konteks ini  
bisa dinamakan arena. Jadi dalam arena itu terjadilah pertarungan antara 
kepentingan individu antar manusia, yang termanifestasikan dalam pertarungan 
antara kelompok yang mendominasi dan kelompok yang terdominasi. Konkritnya 
yaitu pertarungan antara Partai pemerintah dan PDI-P dan lebih konkrit lagi 
yaitu pertarungan antara SBY dan Megawati.

  Diatas tadi sudah  saya singgung tentang modal, disini modal dapat di 
ibaratkan sebagai senjata dan skill yang dimiliki oleh para petarung yang akan 
merebutkan kekuasaan yang ada dalam arena itu. Siapa yang mempunyai modal lebih 
kuat akan menenpati posisi pendominasi, sedangkan yang mempunyai modal sedikit 
menjadi yang terdominasi. Modal bisa berwujut apa saja, misalnya otoritas, 
jabatan, gelar atau apa saja.

  Di arena luas, diluar DPR  dalam rangka menghadapi pemilu 2009 nampaknya 
PDI-P mempunyai modal masa rakyat lebih besar dari Partai Demokrat milik SBY, 
tapi dalam arena DPR , SBY menempati kedudukan sebagai pendominasi dan Megawati 
menenpati kedudukan sebagai yang terdominasi, ini disokong oleh kenyataan bahwa 
yang mendominasi DPR adalah partai pemerintah, sehingga PDI-P menempati 
kedudukan sebagai partai yang terdominasi (oposisi)



  Pertarungan dan strategi.



  Suatu arena akan selalu menjadi ajang konflik antar individu atau antar 
kelompaok yang berusaha mempertahankan atau mengubah sistim sosial dalam 
masyarakat.  Seperti apa yang sudah pernah kita alami dikala "lengsernya" orde 
baru dan didirikannya pemerintahan "reformasi" disitu nampak jelas bahwa 
sebagian besar dari pelaku dalam pemerintahan reformasi selalu berada dalam 
posisi untuk melestarikan  status quo, sedangkan sebagian yang lainnya 
mengininkan adanya reformasi total. Dari sini yang perlu kita cermati adalah 
pengalaman jalannya reformasi itu, sehingga kita tidak heran lagi bahwa  
sebagian  besar dari  pelaku-pelaku yang berada dalam pertarungan perebutan RI 
1 dalam pemilihan 2009 di arena DPR akan berusaha melestarikan status quo.  
Untuk mencapai tujuan itulah, maka di  DPR dihembuskan agin segar  untuk SBY 
dengan senjata yang dianggapnya ampuh dalam bentuk rumusan " Calon Presiden 
harus Sarjana".   Mungkin saja ide itu bukan keluar dari SBY, tapi ide seperti 
itu tidak mungkin bedasarkan sesuatu yang hampa tanpa mengandung maksut 
strategi politik tertentu.



  Tentang perumusan "Calon Presiden harus Sarjana"



  Perumusan  yang di ajukan oleh DPR  pendukung setia SBY adalah bukan 
merupakan senjata yang ampuh. Dalam mengurus suatu negara pemimpin yang kita 
butuhkan  hendaknya adalah:

    1.. Mempunyai keyataan praktek sosisl sebagai hasil dinamika dialektis dari 
intern individunya, yaitu kesadaran hati nurani dalam menerima dan menaggapi 
dunianya (demensi intern individu) . 
    2.. Memiliki Faktor biaologi yang sempurna, yaitu : kecerdasan dan kepekaan 
otak , sehingga dapat "melihat" saling hubungan yang sinergetis antar corpus 
yang satu dengan corpus lainnya yang tidak kelihatan, dengan demikian  tidak 
akan keliru dalam menagkap hakekat yang sebenarnya antara siapa wong cilik dan 
siapa konglomerat hitam.(demensi ekstern individu) 
    3.. Lingkunngan atau kelompok sosialal dimana dia bergabung (demensi intern 
kolektif individu) 
    4.. Wacana tentang sistem masyarakat yang di dicita-citakan (demensi 
ekstern kolektif) 
  Ini berarti bahwa praktek sosial itu mempunyai empat demensi, yang satu sama 
lain mempunyai saling hubungan  erat dan pengaruh timbal balik antara satu 
dengan yang lainnya.



  Kita semua tahu bahwa di Indonesia banyak orang "pinter" dan mempunyai gelar 
S1 samapi S 3 dst, yang titelnya berganda, sehingga tak tahu lagi dimana 
titel-titel itu mau ditempelkannya; didepan dan dibelakang namanya sudah penuh  
sesak.  Tapi sepintas lalu kalau saya "lihat" mereka ini banyak yang tak 
mengenal hakekat >holargi didalam segala corpus baik yang riil, apalagi yang 
fiktif<, sangat disayangkan kondisi ini!!!

  Oleh karena itulah tidak mengherankan jika Indonesia yang kaya raya alamnya 
ini,wong ciliknya belum pernah bisa ikut menikmati kekayaan alam ibu pertiwi 
yang di anugrahkan oleh Tuhan YME kepadanya.

  Rupana para elite bangsa kita belum mau menyadari kenyataan ini mereka masih 
gandrung pada gelar-gelar yang kenyataannya telah membawa negara ini menjadi 
ambrlul adul dan dedel duel.  



  Oleh karena itulah yang harus kita harpkan hendaknya adalah Presiden yang 
berpandangan dan berkesadaran Universil-holistis system. Artinya seorang 
Presiden yang benar-benar  sudah dapat menyatukan antara perasaan dengan 
pengetahuannya, dapat menjalinkan atau memadukan berbagai tingkatan kesadaran 
bangsanya menjadi suatu system kesadaran. Seorang Presuden yang dinamik, hidup 
dan sadar sesadar-sadarnya tentang adanya keteraturan terhadap UUD 45 dan 
Pancasila 1 Juni 1945. Seorang Presiden yang tidak berada diluar keteraturan 
kesadaran Biru (spirituil) dan Hijau (ekologi). Seorang Presiden yang dapat 
memerima dan memahami teori dan keadaan yang aktuil dan satunya antara pekataan 
dan berbuatan.  Seorang Presiden yang dapat menuntaskan kemiskinan di jaman 
generasi kita sekarang ini tanpa menimbulkan malapetaka bagi generasi bangsa 
yang berikutnya. Inilah yang seharusnya diperjuangakan oleh para anggota DPR, 
bukan masalah gelar S1 dst. Ini jangan diartikan  bahwa saya anti pada 
kesarjanaan, yang saya maksiud adalah kesarjanaan bukanlah syarat satu-satunya 
yang harus ditonjolkan dalam memilih presiden.



  Roeslan.






------------------------------------------------------------------------------

  Von: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] Im Auftrag von Sunny
  Gesendet: Montag, 19. März 2007 12:23
  An: Undisclosed-Recipient:;
  Betreff: [nasional-list] Istana Bantah Jegal Megawati



  REFLEKSI:     Megapa Megawati waktu masih muda tidak berusaha memperoleh 
gelar "S".



  HARIAN KOMENTAR
  17 Maret 2007 

  Istana Bantah Jegal Megawati 


  Kubu Pemerintahan SBY per-lu mengklarifikasi opini yang berkembang terkait 
syarat capres 2009 harus S1 (sarjana). 

  Ditegaskan, Presiden SBY tak pernah berusaha menjegal Megawati Soekarnoputri 
su-paya tak bisa tampil dalam Pil-pres 2009 dengan mengubah persyaratan 
pendidikan capres menjadi minimal S1. 

  Hal ini ditegaskan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi yang di-dampingi 
Jurubicara Kepresi-denan Andi Mallarangeng di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 
kemarin (16/03). "Untuk meng-hindari pandangan keliru dari publik, maka perlu 
kami sam-paikan bahwa sampai saat ini RUU Pilpres belum pernah di-sampaikan 
kepada presiden," katanya. 

  RUU tersebut masih disusun dan dibahas oleh tim khusus yang dibentuk oleh 
Departe-men Dalam Negeri. Tim ini sedang menggali pendapat dan masukan dari 
masyarakat baik dari para ahli maupun dari lembaga-lembaga negara. 

  Selain RUU Pilpres, tiga RUU lainnya yang termasuk Paket UU Politik yakni RUU 
Parpol, RUU Pemilu dan RUU Susduk juga tengah dikonsultasikan dengan berbagai 
elemen masyarakat seperti akademisi, parpol, dan LSM. "Siang ini 
dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI," jelas Sudi seperti 
dilansir dari rakyat merdeka online. 
  Sudi menegaskan, SBY tak pernah ada niat untuk mengubah persyaratan calon 
presiden. Dalam pasal 6 huruf UU 23/2003 tentan Pilpres disebutkan bahwa capres 
dan cawapres harus memenuhi persyaratan pendidikan seren-dah-rendah SLTA atau 
sede-rajat. "Presiden tetap berpegang kepada ketentuan UU ter-sebut," tandas 
Sudi. 

  "Presiden sangat menghargai berlangsungnya pelaksanaan demokrasi dengan baik 
dan tidak pernah terpikir untuk mencederainya. Apalagi, untuk 
menghalang-halangi seseorang ikut dalam pencalonan pre-siden," demikian Sudi. 

  Sebelumnya, PDIP menilai, syarat calon kandidat yang ikut pemilihan presiden 
(Pilpres) minimal S-1 merupakan per-syaratan yang penuh rekayasa. Hal ini 
disampaikan langsung Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dalam temu wicara 
antara PDIP dengan Mahkamah Konstitusi di Hotel Hilton, kemarin sore. 

  Presiden RI kelima itu meminta kepada semua pihak, agar menyerahkan mekanisme 
Pilpres itu kepada masyarakat. "Terserah masyarakat yang memilih," tegas Mega. 
Apalagi, lanjut istri Taufik Kiemas itu, sistem yang digunakan saat ini adalah 
sistem yang sangat berbeda dengan sistem yang dulu. "Sekarang kan Pilpres, dulu 
kan perwakilan, dulu kan ada rekayasa, tapi kalau sekarang hanya 
sedikit-sedikit saja," ucap Mega memancing tawa sekitar 300 peserta temu 
wicara.(zal/rm


   

Kirim email ke