Di Bovenkarspel ada Yayasan Kartini, pengurusnya orang Belanda yang
kagum pada perjuangan emansipasi Kartini dulu itu. Di Den Haag
seperti telah saya sebutkan, setiap tahun disediakan trophy, namanya
Kartini-Trophy, buat perorangan/instansi yang memperjuangkan
emansipasi di Den Haag dan sekitarnya. Di Pasar Malam Besar bakal
ada tonil solo dimainkan oleh wanita Belanda yang di tubuhnya masih
mengalir darah Indonesia. Pemain tonil itu begitu piawai
menggabungkan surat-surat Kartini yang banyak dulu itu menjadi
sebuah surat baru, yang seakan ditulis sendiri oleh mendiang Kartini.
Maria: emangnya nggak ada tokoh feminis lain di Belanda, koq sampe nyatut
tokoh dari negara lain sich? Ato di Den Haag nggak punya tokoh feminis, makanya
mereka butuh tokoh dari Indonesia, kasihan amat ya...
Saya tahu Den Haag berkaitan erat dengan Hindia-Belanda, sehingga
mendapat julukan Janda India ketika kolonial Belanda harus cao dari
Indonesia. Namun bahwa sosok Kartini di Belanda, minimal di Den Haag
begitu populer dan dihargai, merupakan surprise buat saya. Saat
penyerahan Kartini-Trophy kepada Rahma El-Hamdaoui si orang Maroko,
ada sekitar 200 hadirin, semuanya wanita Maroko. Saya tidak melihat
wanita Indonesia di situ. Hal ini lebih membuat saya surprise lagi.
Bahwa orang Belanda amat menghargai Kartini itu sudah sebuah
surprise, namun bahwa wanita Indonesia di Belanda tidak/kurang ada
perhatian kepada perjuangan emansipasi Kartini betul-betul abusrd.
Maria: Sudah ditanyakan apakah ada perempuan Indonesia yang diundang? Adanya
trophy ini saja saya baru dengar, dan setahu saya memang banyak migran maroko
yang tinggal di Belanda...so?
Bagaimana dengan wanita Indonesia di Indonesia? Apakah menghargai
Kartini cuma sebatas mengenakan kebaya dan bikin acara masak-memasak
saja pada tanggal 21 April?
Maria: Wah mohon maaf saja kalu di Belanda cuma bisa bikin tonil. Minimal
saya yang memang aktivis NGO (dan saya yakin banyak rekan aktivis perempuan
yang lain dan jauh lebih hebat dari saya) tidak mengingat semangat Kartini
sekedar 21 April saja, we remember her spirit and we do something 24/7.
Lagipula kenapa dengan memasak dan kebaya? Seolah ketika seseorang
mengenakan kebaya dan memasak menjadi masalah. Bagi saya yang harus melihat
ibu saya memasak untuk semua orang di rumah, baik dalam keadaan sehat maupun
sakit, ini juga perjuangan dia sebagai perempuan dan ibu, karenanya ketika
beliau sakit saya bersedia menggantikannya memasak, dan saya beruntung saya
bekerja di NGO yang mendukung saya kalau saya ingin melakukan ini. Apabila anda
merasa memasak dan kebaya itu "cuma sebatas" itu saja, saya justru melihat anda
sangat mengejek. Mengejek perempuan yang bagi anda "hanya" bisa pakai kebaya
dan memasak dan mengejek pekerjaan memasak dan pakaian kebaya sebagai bukan
apa-apa, bahkan sebagai alat pelecehan. apakah perlu saya sampaikan bahwa
memasak itu sudah jadi pekerjaan yang tidak sekedar domestik, namun sudah
keluar dari lingkungan rumah (lihat saja restoran dan hotel), dan sudah banyak
laki-laki yang melakukan profesi memasak ini.
justru sekarang saya lihat bertapa tipisnya penghargaan anda pada
perempuan....
Kalau tanggal 21 April bagi saya hanya untuk mengingatkan, bahwa negara
Indonesia sudah memiliki semangat emansipasi sejak dulu dan semangat itulah
yang kami usung 24/7, nggak cuma 21 april saja, bung.
.
------------------------------------------------------------------------------
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.446 / Virus Database: 268.18.15/728 - Release Date: 3/20/2007
8:07 AM